Breaking News:

Gempa Sulbar

Masih Ada 22 Ribu Warga Sulbar Mengungsi Akibat Gempa

Sebanyak 22 ribu warga Sulawesi Barat masih mengungsi pasca terjadinya gempa.

TRIBUN-TIMUR.COM/NURHADI
Wagub Sulbar Hj Enny Anggraeni Anwar saat menyampaikan sambutan pada rapat monitoring dan evaluasi terpadu (monev) posko transisi darurat bersama tim kementerian PKM dan PUPR di Makodim 1418 Mamuju, Selasa (2/3/2021) 

TRIBUN-TIMUR.COM, MAMUJU - Sebanyak 22 ribu warga Sulawesi Barat masih mengungsi pasca terjadinya gempa.

Sekprov Sulbar, Muhammad Idris mengungkapkan, dari 22 ribu warga Sulbar yang mengungsi terdiri dari 17.282 di Mamuju dan 3.142 Majene.

"Nah inilah yang menjadi tugas berat posko transisi darurat saat ini. Jangankan 22 ribu, seribu saja bagi kami sudah sangat luar biasa," ujar Muhammad Idris rapat monitoring dan evaluasi (monev) posko Transisi Darurat ke Pemulihan Bencana, Selasa (2/3/2021).

Para pengungsi ini benar-benar butuh penanganan serius dan membutuhkan waktu lama,  karena kondisi rumahnya rusak total.

Bahkan kekeluarganya juga agak sulit karena kadang lebih banyak yang akan datang, dari pada yang mau didatangi.

Sehingga jumlah pengungsi kurang lebih 22 ribu ini akan lambat pengurangannya.

Hingga saat ini ada 7 titik pengungsian di Mamuju yang ditangani satgas, namun masih banyak titik pengungsian yang yang jauh membutuhkan dari yang ditangani pemerintah.

"Bahkan waktu hari minggu, kami berkeliling bersama Gubernur dan Wagub, kami menemukan titik pengungsian yang kelihatannya mereka akan lebih lama di pengungsian dari pada yang ditangani pemerintah," ujarnya.

Sementara Wakil Gubernur Sulawesi Barat, Enny Anwar menilai pemerintah perlu segera memberikan kepastian kepada puluhan ribu warga yang masih tinggal di tenda pengungsian.

"Kiranya hari ini kita bersama-sama merumuskan dan saling memberikan informasi, apa yang harus kita lakukan untuk masyarakat sesuai tugas pokok dan fungsi kita masing-masing,"kata Enny.

Karena itu, Enny berharap kerusakan rumah warga akibat gempa harus dilakukan assesment yang lebih baik dan dipercepat.

Sebab kata dia, tidak mungkin warga diminta untuk kembali ke rumah jika kondisi rumahnya sudah benar-benar hancur dan tidak layak untuk dihuni.

"Tapi tentu kita berterima kasih atas segala perhatian pemerintah pusat pascagempa bumi, karena tanpa perhatian pemerintah pusat, kami akan sulit melakukan sesuatu,"ujarnya.

Menurut Enny, hingga saat ini masih banyak daerah yang terisolir pascagempa bumi pada 15 Januari lalu.

Ini membutuhkan penanganam yang lebih cepat agar Sulbar bisa bangkit kembali.

Penulis: Nurhadi
Editor: Sudirman
Sumber: Tribun Timur
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved