Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Tribun Pendidikan

Mengapa Lagu Genjer-genjer Dilarang? Alasan Ngeri di Baliknya

Pantas lagu Genjer-genjer dilarang. Ternyata ada alasan Mengerikan di baliknya. Banyak yang belum tahu ada lagu daerah berjudul Genjer-genjer justeru

Tayang:
Editor: Rasni
Kompas.com
Anak Pengarang Lagu Genjer-genjer. Mengapa Lagu Genjer-genjer Dilarang? Alasan Ngeri di Baliknya 

TRIBUN-TIMUR.COM - Pantas lagu Genjer-genjer dilarang. Ternyata ada alasan Mengerikan di baliknya.

Banyak yang belum tahu ada lagu daerah berjudul Genjer-genjer justeru dilarang untuk dinyanyikan.

Padahal kita tahu, lagu harusnya menjadi wadah untuk menghibur masyarakat.

Untuk diketahui lagu Genjer-genjer yang diciptakan untuk menggambarkan situasi dan kondisi masyarakat Banyuwangi masa penjajahan Jepang.

Seiring perkembangannya, lagu Genjer-genjer yang semula merupakan lagu untuk mengisyaratkan penderitaan rakyat Indonesia mulai bergeser maknanya.

Bahkan lagu Genjer-genjer dilarang dinyanyikan pada masa Orde Baru, mungkin hingga sekarang.

Sejarah lagu Genjer-Genjer

Jepang yang berhasil merebut kekuasaan Belanda kemudian membuat kebijakan-kebiajkan pemerintah yang ternyata lebih kejam.

Hal tersebut mengakibatkan kesejahteraan masyarakat Indonesia semakin tidak mampu, bahkan berada di garis kemiskinan.

Menurut Utan Parlindungan dalam buku Musik dan Politik: Genjer-Genjer, Kuasa dan Kontestasi Makna (2007), masyarakat Banyuwangi yang saat itu terkenal dengan daerah yang kaya, juga terkena imbasnya.

Hasilnya, warga Banyuwangi terpaksa mengolah daun genjer yang ada di sekitaran sungai sebagai bahan makan.

Melihat kesengsaraan yang dialami masyarakat Banyuwangi, Muhammad Arief (seorang musisi terkenal Banyuwangi) merangkum peristiwa tersebut ke dalam lagu berjudul Genjer-Genjer.

Erat dengan PKI

Selepas Tragedi Gerakan 30 September (G30S) yang menyeret Partai Komunis Indonesia (PKI), lagu Genjer-Genjer juga turut dicekal.

Lagu Genjer-Genjer dianggap sebagai lagu PKI karena si pecipta lagu bergabung ke dalam politik PKI.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved