Belanda Akui Kedaulatan Indonesia Tahun 1949, Tapi Menolak Irian Barat Ikut Bergabung, Ini Alasannya
Tahun 1949 Belanda mengakui kedaulatan Indonesia, tapi Belanda masih terlibat konflik dengan Indonesia soal Irian Barat.
TRIBUN-TIMUR.COM - Kisah konflik berkepanjangan di wilayah Papua, ternyata sejak jaman Belanda.
Tahun 1949 Belanda mengakui kedaulatan Indonesia, tapi menolak menyerahkan Irian Barat.
Setelah pengakuan kedaulatan, Belanda masih terlibat konflik dengan Indonesia soal Irian Barat.
Apa alasan Belanda menolak Irian Barat dimasukkan wilayah Indonesia?
Sebenarnya, penyelesaian Irian Barat telah dibahas dalam Konferensi Meja Bundar (KMB).
Namun, pembahasan masalah tersebut berlangsung alot, sehingga hanya diputuskan untuk kembali membicarakan kesepakatannya satu tahun setelah pengakuan kedaulatan.
Belanda pun memberikan pengakuan kedaulatan terhadap Indonesia pada 27 Desember 1949, tanpa menyelesaikan urusan Irian Barat.
Belanda sendiri menolak Irian Barat dimasukkan wilayah Indonesia dengan alasan bahwa pulau beserta suku-suku yang mendiami Hollandia (nama Papua Barat periode 1910-1962) memiliki kebudayaan tersendiri yang berbeda dengan bekas wilayah Hindia-Belanda lainnya.
Kemudian pada 1950, Presiden Soekarno berupaya melakukan perundingan bilateral secara langsung dengan Belanda.
Namun sayang, cara tesebut tidak menuai keberhasilan. Bahkan secara sepihak, pada tahun 1952 Belanda memasukkan Irian Barat ke dalam wilayahnya. Lalu apa yang dilakukan Soekarno?
Setelah perundingan dengan Belanda gagal, Presiden Soekarno masih berupaya menyelesaikan masalah tersebut melalui jalur diplomasi.
Ia membawa permasalahan Irian Barat ini ke forum PBB (Perserikatan Bangsa-bangsa) untuk mendapat dukungan Majelis Umum PBB pada tahun 1954.
Rupanya, upaya diplomasi di forum PBB ini juga tidak menuai hasil yang diharapkan.
Akhirnya, langkah konfrontasi dengan Belanda di terpaksa dilakukan di samping tetap melanjutkan langkah diplomasi di forum sidang Majelis Umum PBB.
Pada tahun 1956 Presiden Soekarno melakukan kunjungan Ke Moskow menemui pimpinan Uni Sovyet, Nikita Khrushchev.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/tahun-1949-belanda-mengakui-kedaulatan-indonesia.jpg)