Breaking News:

Mahasiswa Mamuju Tengah Desak Polisi Tindak Tegas Pelaku Pencabulan Anak di Bawah Umur

Mahasiswa mendesak pihak kepolisian untuk menindak tegas oknum yang diduga sebagai pelaku.

Penulis: Nurhadi
Editor: Imam Wahyudi
TRIBUN TIMUR/NURHADI
Puluhan mahasiswa di Mamuju Tengah (Mateng) unjuk rasa di Kantor Dinas Pengendalian Penduduk, Keluarga Berencana dan Pemberdayaan dan Perlindungan Anak, Senin (11/1/2021). 

TRIBUN-TIMUR.COM, MAMUJU TENGAH - Puluhan mahasiswa di Mamuju Tengah (Mateng) unjuk rasa di Kantor Dinas Pengendalian Penduduk, Keluarga Berencana dan Pemberdayaan dan Perlindungan Anak, Senin (11/1/2021).

Massa yang sebelumnya unjuk rasa di benteng Kayu Mangiwang menyoroti kasus  pencabulan anak di bawah umur yang terjadi pada Desember 2020 lalu, di Topoyo.

Pencabulan diduga dilakukan oleh oknum tukan pijak kepada anak usia 7 tahun. Saat ini pelaku diantarkan makanan oleh korban, malam nekat melakukan perbuatan tak terpuji.

Mahasiswa mendesak pihak kepolisian untuk menindak tegas oknum yang diduga sebagai pelaku.

"Kami meminta kepolisian untuk menindak tegas pelaku sesuai dengan undang-undang yang berlaku,"teriak seorang orator.

Mereka juga mendesak pemerintah agar segera melakukan pendampingan kepada korban dan mendesak pemerintah agar segera melalukan sosialisasi kepada masyarakat tentang undang-undang perlindungan anak.

Aksi demonstrasi massa mendapat pengawalan ketat dari personel Polres Mamuju Tengah.

Sebanyak 57 personil Polres Mateng bersama 13 anggota Sat Pol PP diterjunkan dalam pengawalan unjuk rasa itu.

Kapolres Mamuju Tengah menyampaikan kasus asusila ini pelakunya masih banyak yang dibawah umur dan kasus-kasus tersebut sudah kami limpahkan ke kejaksaan.

“Kami dari pihak kepolisian akan menindak tegas terhadap pelaku-pelaku kejahatan tersebut, siapapun yang dibelakangnya yang ikut melindungi pelaku akan kami tindaki," tegas Kapolres.

Diungkapkan, memang dalam setahun terakhir banyak kasus terdapat 11 kasus yang ditangani Polres Mateng dimana diantaranya 8 kasus pencabulan di bawah umur, dua kasus kekerasan di bawah umur dan satu kasus kekerasan dalam rumah tangga (KDRT).

Sumber: Tribun Timur
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved