Breaking News:

UMI Makassar

BNPT Bahas Pelibatan Sivitas Akdemika Cegah Radikalisme dan Terorisme di Kampus

UMI bekerja sama BNPT dan Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) Sulawesi Selatan menggelar dialog Jaga Kampus Kita.

TRIBUN-TIMUR.COM/MUH ABDIWAN
Universitas Muslim Indonesia (UMI) bekerja sama dengan Badan Nasional Pencegahan Terorisme (BNPT) dan Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) Sulawesi Selatan menggelar dialog Jaga Kampus Kita, Selasa (3/11/2020). 

TRIBUN-TIMUR.COM, MAKASSAR - Universitas Muslim Indonesia (UMI) bekerja sama dengan Badan Nasional Pencegahan Terorisme (BNPT) dan Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) Sulawesi Selatan menggelar dialog Jaga Kampus Kita.

Dialog bertema Pelibatan Civitas Akademika dalam Pencegahan Terorisme Melalui FKPT Sulsel dilaksanakan secara daring dan luring dan dipusatkan di Auditorium Al Jibra, Kampus UMI Makassar, Selasa (3/11/2020).

Sebagai Keynote Speaker yakni Direktur Pencegahan BNPT Brigjen Pol R Ahmad Nurwakhid, dengan narasumber M Zain Irwanto (Wakil Rektor IV UMI), Suaib Prawono (Kabid Pemuda dan Pendidikan FKPT Sulsel), Husein Ja'far Al Hadar (Inisiator Islam Cinta) dan Yudi Zulfahri (mantan napiter).

Ketua FKPT Sulsel Muammar Bakri dalam sambutannya mengatakan FKPT Sulsel adalah bentuk konkrit sinergi pemerintah dalam hal ini BNPT, untuk hadir mencegah terorisme dan membendung radikalisme yang semakin mengancam sendi kehidupan berbangsa dan bernegara.

Ia menjelaakan, dialog ini juga untuk mempererat silaturahmi dan kebersamaan antara pemerintah dalam hal ini BNPT, dengan pemangku kepentingan sivitas akademika di Sulsel, yang diwakili oleh UMI.

"Ini untuk memberi ruang bertukar pikiran antara pemangku kepentingan dan untuk mempersempit ruang gerak kelompok radikal yang ingin menyalahgunakan wahana kebebasan akademik kampus, bahkan yang mengatasnamakan agama untuk kepentingan mereka," katanya.

Sementara Rektor UMI Prof Basri Modding menjelaskan, UMI sudah memiliki metode sebagai pencegahan paham radikal dan terorisme berkembang di kampus.

"UMI sudah punya metode pencegahan radikal dan terorisme melalui pesantren. Sehingga semua sivitas UMI, mulai pimpinan tertinggi sampai bawah harus melalui pesantren yang kami namai Pencerahan Kalbu. Tidak ada yang bisa masuk UMI tanpa melalui Pencerahan Kalbu," jelasnya.

Ia menerangkan, sivitas UMI wajib melalui pesantren dan kegiatan Pencerahan Kalbu, yang didalamnya ditanamkan 16 karakter.

"Mahasiswa masuk mulai dari pesntren kilat, lalu saat kuliah 40 hari digodok di Pencerahan Kalbu dengan 16 karakter, antara lain, harus saling menyayangi sesama dan lingkungan dimana kita berada, sabar, jujur, tanggung jawab, itu semua ditanamkan. Sehingga tak ada lagi radikalisme muncul jika itu diimplementasikan," urainya.

Prof Basri mengklaim, metode yang diterapkan UMI, sedikit demi sedikit mampu menekan potensi munculnya radikalisme dan teorisme di UMI.

"Alhamdulillah, dulu mahasiswa banyak demo, sekarang berkurang, kalaupun ada itu karena diajak. Ada budaya di Makassar demo berpusat di depan kampus UMI. Kami akan tutup kampus kalau ada isu demo, kami tak mau ada isu radikalisme di kampus," tegasnya.

"Terima kasih memilih UMI sebagai wadah pertemuan BNPT dengan UMI untuk sosialisasi pencegahan radikal dan terorisme, tapi jangan menganggap UMI pusat radikalisme, tidak. Saya tekankan UMI sudah punya metode pencegahan terorisme," pungkasnya. (*)

Laporan Wartawan tribun-timur.com, @Fahrizal_syam

Penulis: Fahrizal Syam
Editor: Hasriyani Latif
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved