Tribun Wiki
Profil Pendiri Pesantren Darul Huffadh Tuju-Tuju KH Lanre Said
Pondok Pesantren Darul Huffadh Tuju-Tuju sudah berdiri sejak 45 tahun silam.
Penulis: Kaswadi Anwar | Editor: Hasriyani Latif
TRIBUNBONE.COM, KAJUARA - Pondok Pesantren Darul Huffadh Tuju-Tuju sudah berdiri sejak 45 tahun silam.
Pesantren ini berdiri pada 7 Agustus 1975. Diawali tujuh santri, di Kampung Tuju-Tuju, pada jam 7.
Lokasinya 66 kilometer dari Kota Watampone, tepatnya di Kampung Tuju-Tuju, Kecamatan Kajuara, Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan.
Diawal pendiriannya pesantren hanya sebuah pengajian berbentuk Majlis Qurra Wal-Huffadh (MQWH). Pasalnya saat itu begitu banyak gangguan jika memaksakan pendirian pesantren secara langsung.
Barulah pada 11 Oktober 1993 Pondok Pesantren Darul Huffadh resmi berdiri. Saat ini santri dan santriwati pesantren ini sekitar 2 ribuan.
Mereka berasal dari seluruh daerah di Indonesia. Bahkan ada yang dari Malaysia.
Pesantren ini pun tak memungut biaya bagi santri dan santriwati yang ingin belajar dan menghafal Alquran.
Perkembangan Pondok Pesantren Darul Huffadh hingga sekarang tak lepas dari sosok pendirinya, KH Lanre Said.
Siapa Sosok KH Lanre Said?
KH Lanre Said bernama lengkap Muhammad Said. Ia lahir di Desa Manera, Kecamatan Salomekko, Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan (Sulsel) pada tahun 1923.
K.H Lanre Said adalah anak kedua dari tujuh bersaudara dari pasangan H Andi Man'nennungeng Daeng Mang'ngatta dan Hj Marhamah Daeng Ta Uga.
Sejak kecil beliau tumbuh dalam keluarga yang mencintai ilmu agama. Hal ini pun menular kepada dirinya.
Kecintaannya terhadap ilmu dan agama mendorong beliau untuk menyusul kakaknya bernama Sanusi belajar di Madrasah Arabiya Islamiyah (MAI) Sengkang yang sekarang dikenal Pondok Pesantren As'Adiyah.
Namun, karena pertimbangan umur masih muda, kedua orang tuanya memberikan izin untuk menuntut ilmu pada seorang Kyai di Bone.
Satu tahun berada dalam asuhan sang Kyai, dia memperlihatkan kemajuan pesat. Kemampuannya memahami agama maupun hafalan Alquran melebihi anak-anak seusianya.
Akhirnya, saat usia K.H Lanre Said menginjak 9 tahun ia diizinkan untuk belajar di MAI Sengkang asuhan K.H Muhammad As'ad.
Pimpinan Pondok Pesantren Darul Huffadh Tuju-Tuju, Ustaz Saad Said mengatakan selama mengenyam pendidikan di MAI Sengkang, Lanre Said salah satu murid kesayangan K.H As'ad.
"Beliau memiliki motivasi belajar tinggi dan orang yang aktif. Pernah suatu waktu oleh K.H As'ad berbicara dengan K.H Lanre Said untuk memperbaiki etika dirinya, keteladanannya dan karena dinilai suatu saat akan memimpin orang banyak," katanya Kamis (22/10/2020).
KH Lanre Said mengeyam pendidikan di MAI selama 12 tahun. Mulai dari pendidikan Ibtidaiyah, Tsanawiyah dan Aliyah.
Kemampuan dalam kitab kuning, nahwu, shotof serta penguasaan fiqih dan ilmu lainnya tidak diragukan lagi. Ia pun kemudian mengabdikan diri di MAI Sengkang.
Setelah mengabdi beberapa lama di MAI, KH Lanre Said memutuskan meninggal MAI Sengkang untuk mengabdi ke masyarakat banyak.
Usai meninggalkan MAI Sengkang, K.H Lanre Said ke kampung halamannya mendidik anak-anak tentang agama. Di tahun 1951 K.H Lanre Said melakukan perjalanan untuk menyebarkan agama di berbagai daerah.
Ia ke Jampea, Kabupaten Kepulauan Selayar. Di sana ia mendirikan sekolah formal Tsanawiyah.
Ketika berada di Jampea terjadi pergolakan. Darul Islam/Tentara Islam Indonesia (DI/TII) yang dipimpin oleh Kahar Muzakkar mencoba merekrutnya untuk menjadi bagian dari DI/TII.
Namun, sejumlah orang yang diutus Kahar Muzakkar untuk mengajaknya masuk ke DI/TII ditolak oleh K.H Lanre Said.
Namun, suatu waktu ia pun terpaksa menerima bergabung dalam DI/TII. Utusan yang datang tidak lagi menawarkan, tetapi mengharuskan.
Adanya perintah bumi hangus membuatnya khawatir kepada keluarganya yang berada di Bone. Pada saat itu wilayah Bone dikuasai oleh DI/TII.
Ia pun bersedia bergabung DI/TII dengan dua syarat. Pertama, orang tua dan saudara-saudaranya dibebaskan meninggalkan Sulsel dan tidak dihalang-halangi dan diwajibkan masuk ke dalam pergerakan DI/TII.
Kedua, ia tetap berada di DI/TII selama visi misinya masih terjaga. Jika sudah kelaur dari visi misi ia juga berhak keluar dari DI/TII.
Setelah beberapa tahun bergabung di DI/TII, pada tahun 1961 K.H Lanre Said menyatakan keluar dari DI/TII.
Visi dan misi DI/TII yang mulai tidak terjaga memberikannya alasan untuk keluar sebagaimana syarat yang diajukan ketika diminta bergabung.
Selanjutnya, di tahun 1962 K.H Lanre Said menerima ilham untuk mendirikan pondok pesantren.
Beliau lalu melakukan perjalanan untuk mencari lokasi pesantren yang dimaksud dalam ilham melalui mimpi tersebut. Hingga pada 7 Agustus 1975 beliau mendirikan pondok pesantren dan baru diresmikan pada 7 Oktober 1993.
Selama hidupnya, beliau menikah empat kali. Beliau menikah pertama kali dengan Kasdiah Sake di tahin 1948.
Kemudian menikah dengan Sitti Nurhasanah Petta Cinnong di tahun 1957. Menikah dengan Petta Suruga di tahun 1958. Di tahun 1960 beliau menikah dengan Andi Banuna Petta Paccing.
K.H Lanre Said meninggal dunia pada Rabu, 24 Mei 2005. Ia menghembuskan napas terakhir di Rumah Sakit Umum Daerah Sinjai.
Beliau dimakamkan pada Kamis 25 Mei 2005 di samping Pondok Pesantren Darul Huffadh.
Selama hidup beliau aktif menulis buku. Semua buku yang ditulis beliau berjudul Adz-Dzikra. Buku ini terdiri terdiri dari buku salat thararah, perintah salat, salat nawafil, dan buku mengurus jenazah.
Karya beliau ini dijadikan pedoman dalam belajar fiqh di Pondok Pesantren Darul Huffadh Tuju-Tuju.(*)
Laporan Wartawan TribunBone.com, Kaswadi Anwar
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/sosok-almarhum-kh-lanre-said-pendiri-pondok-pesantren-darul-huffadh-tuju-tuju.jpg)