Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Tribun Bone

Belajar Gratis di Pesantren Darul Huffadh Tuju-Tuju Bone, Santrinya Ada Berasal dari Malaysia

Lokasinya berada di Kampung Tuju-Tuju, Kecamatan Kajuara, Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan (Sulsel). Dari Kota Watampone harus menempuh jarak 66

Penulis: Kaswadi Anwar | Editor: Sudirman
ist
Suasana Pondok Pesantren Darul Huffadh Tuju-Tuju 

TRIBUNBONE.COM, KAJUARA - Pondok Pesantren (Ponpes) Darul Huffadh Tuju-Tuju berdiri pada 7 Agustus 1975. Ponpes ini telah berusia 45 tahun.

Darul Huffadh memiliki arti tempat orang-orang menghafalkan Alquran.

Lokasinya berada di Kampung Tuju-Tuju, Kecamatan Kajuara, Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan (Sulsel). Dari Kota Watampone harus menempuh jarak 66 kilometer

Pesantren ini didirikan oleh K.H Muhammad Said yang lebih dikenal dengan nama Lanre Said.

Menariknya, pesantren ini tidak memungut biaya sepeser pun kepada santri yang menempuh pendidikan di sini.

Pimpinan Pondok Pesantren Darul Huffadh Tuju-Tuju, Saad Said mengatakan, tidak dibebankannya biaya yang dipungut kepada santri sesuai dengan prinsip pendiri Ponpes ini, yakni lampu petromaks di atas Gunung Bilala.

"Keberadaan lampu petromaks di topang oleh Gunung Bilala memiliki arti pesantren tidak meminta bayaran dan tidak meminta-minta sumbangan. Pesantren yang menopang para santri. Jadi santri tinggal fokus belajar saja," katanya Senin (20/10/2020).

Direktris Pesantren Putri Darul Huffadh, Sa'diah Lanre Said menambahkan, biaya bulanan maupun biaya tahunan semuanya ditanggung.

Bahkan, kata dia, Ponpes ini tidak memiliki dana bantuan Internasional. Pihaknya hanya menerima sumbangan dalam bentuk sedekah tidak bersyarat.

Hingga sekarang santri dan staf Ponpes Darul Huffadh bekisar 2 ribuan.

Para santri pesantren ini berasal dari seluruh Indonesia. Mulai dari Aceh, Atambua, Puncak Jaya. Bahkan, ada dari Malaysia.

Untuk kurikulum pembelajaran di pesantren ini, masih tetap mempertahankan pelajaran pondok yang lebih dominan dalam keseharian.

Seperti Nahwu, Sharaf, Balaghah, Durushul Lughah, Tafsir Quran dan lainnya.

Meski begitu, tetap dilakukan kolaborasi dengan pelajaran umum semisal Bahasa Indonesia, Kimia, Fisika dan lainnya.

Sa'diah menyatakan bahasa yang digunakan di pesantren ini yakni bahasa Arab dan bahasa Inggris.

"Biasanya satu minggu bahasa Arab dan satu minggu bahasa Inggris. Jadi peralihannya satu minggu," terangnya.

Laporan Wartawan TribunBone.com, Kaswadi Anwar

Sumber: Tribun Timur
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved