OJK: BPD Kunci Pemulihan Ekonomi Daerah
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menyampaikan Bank Pembangunan Daerah (BPD) menjadi tumpuan untuk memulihkan ekonomi daerah.
Penulis: Muh. Hasim Arfah | Editor: Hasriyani Latif
TRIBUN-TIMUR.COM, MAKASSAR - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menyampaikan Bank Pembangunan Daerah (BPD) menjadi tumpuan untuk memulihkan ekonomi daerah.
Hal itu disampaikan langsung oleh Kepala OJK, Wimboh Santoso dalam seminar virtual Bank Pembangunan Daerah se-Indonesia, baru-baru ini.
"Kunci pemulihan ekonomi daerah adalah Bank Pembangunan Daerah. BPD harus menjadi frontliner dalam pembangunan daerah," kata Wimboh.
Menurutnya, cita-cita BPD jadi frontliner pembangunan yakni terlibat dalam pembangunan daerah.
"Peran BPD ke depan, peran pembangunan daerah bukan cuman ASN, tapi tetap terukur dalam keuangan, apabila tidak expert maka lakukan sinergi dengan bank lain," katanya.
Berdasarkan data sementara, penyaluran kredit BPD 29 September 2020
"Nilai penyaluran kredit dari BPD sebesar Rp 30,54 triliun dengan debitur 135.735 atau sekitar 61,09 persen terhadap potensial restrukturisasi," katanya.
Sementara itu, restrukturisasi perbankan, realisasi 28 September 2020, dengan nilai Rp 904,3 triliun di 100 bank dari 7,5 juta debitur.
Restrukturisasi perusahaan pembiayaan realiasasi 13 Oktober 2020, data dari 182 perusahaan pembiayaan 4,73 juta jumlah kontrak yang direstrukturisasi dengan nilai Rp 175, 21 triliun.
Dalam kuartal II dan III, perekonomian Sulawesi Selatan ikut terkoreksi, -3,87 Persen dan Gubernur Sulsel menarget pertumbuhan ekonomi 4 % di kuartal III 2020.
Meski begitu, prospektus Bank Sulselbar cenderung positif di era Pandemi ini.
Prospektus adalah gabungan antara profil perusahaan dan laporan tahunan yang menjadikannya sebuah dokumen resmi yang digunakan oleh suatu lembaga/ perusahaan untuk memberikan gambaran mengenai saham yang ditawarkannya untuk dijual kepada publik.
Bank milik pemerintah provinsi dan kabupaten dan kota Se-sulsel ini membukukan laba tahun berjalan setelah pajak bersih senilai Rp262,02 miliar pada Juni 2020 atau naik 2,46% dibandingkan periode sama tahun lalu (year on year/yoy).
Berdasarkan laporan keuangan yang dipublikasikan, Bulan September 2020), perolehan laba tersebut didorong oleh pendapatan bunga yang tumbuh 8,49% (yoy) menjadi Rp1,24 triliun dan pendapatan operasional selain bunga yang tumbuh 146,15% (yoy) menjadi Rp448,517 miliar.
Selain itu, beban bunga tercatat meningkat tipis sebesar 5,19% (yoy) menjadi Rp529,2 miliar dan beban operasional selain bunga naik 68% (yoy) menjadi Rp795,9 miliar.
Meskipun demikian, aset Bank Sulselbar pada paruh pertama 2020 tercatat tetap tumbuh 9,06% (yoy) menjadi Rp 25,68 triliun.
Bank Sulselbar berhasil mencatatkan pertumbuhan kredit 2,66% (yoy) menjadi Rp 18,04 triliun.
Pertumbuhan kredit tersebut sejalan dengan naiknya pembentukan cadangan kerugian penurunan nilai (CKPN) sebesar 177,92% menjadi Rp 214,87 miliar.
Penghimpunan dana Bank Sulselbar juga mengalami pertumbuhan yakni giro 105,8% menjadi Rp7,37 triliun.
Sementara itu, pada paruh pertama 2020, penghimpunan tabungan dan simpanan berjangka masing-masing senilai Rp 3,75 triliun dan Rp 6,27 triliun.
Rasio kredit bermasalah atau non performing loan (NPL) berhasil ditekan ke level 1,1% (gross) pada Juni 2020 dari sebelumnya 1,41% (gross) pada Juni 2019.
Begitu juga dengan NPL net yang terjaga di level 0,45% pada Juni 2020 dari posisi Juni 2019 yang sebesar 0,58%.
Return on asset (ROA) dan return on equity (ROE) Bank Sulselbar pada 30 Juni 2020 adalah masing-masing sebesar 2,75% dan 15,89%.
Net Interest margin (NIM) sebesar 5,88% dan biaya operasional terhadap pendapatan operasional (BOPO) 78,44%.(*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/perkembangan-restrukturisasi-industri-jasa-keuangan-dari-ojk.jpg)