Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Chief Economist CIMB Niaga: Dinamika Ekonomi Kuartal III Masih Lemah

Data tradisional dan non-tradisional memberikan indikasi kuat bahwa secara umum dinamika ekonomi di kuartal III masih lemah.

Penulis: Muh. Hasim Arfah | Editor: Hasriyani Latif
CIMB Niaga
Chief Economist PT Bank CIMB Niaga Tbk Adrian Panggabean. 

TRIBUN-TIMUR.COM, MAKASSAR - Chief Economist PT Bank CIMB Niaga Tbk, Adrian Panggabean memberikan catatan perekonomi Indonesia di kuartal III 2020.

Ia menganalisis pada tataran domestik, data tradisional dan non-tradisional memberikan indikasi kuat bahwa secara umum dinamika ekonomi di kuartal III masih lemah.

Hal ini terjadi karena terjadi penyesuaian konsumsi ke bawah dan jatuhnya aktivitas investasi.

Meskipun demikian, tentu saja selalu ada sektor-sektor ekonomi/bisnis yang justru diuntungkan oleh terjadinya sebuah krisis.

"Saat ini, di banyak negara (termasuk Indonesia) ada sejumlah winners yang muncul, bisnis packaging berbahan plastik, eCommerce, penjualan peralatan DIY (Do It Yourself), gadgets/gaming console, telekomunikasi, bisnis pengantaran (delivery), alat kesehatan, digital banking, utilities, cyber security, digital marketing, misalnya mengalami peningkatan volume bisnis yang sangat tajam," katanya, Rabu (14/10/2020).

Gambaran tentang mobilitas manusia masih bervariasi.

Google Foot Mobility Index, yang memberikan informasi pergerakan manusia intra-kota, mengindikasikan perkembangan yang positif dibandingkan kuartal sebelumnya.

"Yaitu, ada kecenderungan naiknya aktivitas/mobilitas penduduk intra-kota. Tapi statistik hotel (hotel occupancy rate) masih menggambarkan rendahnya mobilitas penduduk antar-kota," katanya.

"Observasi lapangan mengindikasikan bahwa occupancy rate di kuartal 3 2020 masih berada di rentang 5-35% (versus 55-70% pra-Covid-19)," lanjutnya.

Statistik penumpang kereta api di Pulau Jawa juga menunjukkan masih sangat rendahnya mobilitas penduduk antar-wilayah.

Terkait aktivitas konsumsi domestik, retail sales index di 3Q2020 yang sedikit lebih tinggi dibanding levelnya di 2Q2020 memberikan kesan positif terhadap dinamika konsumsi masyarakat.

Namun, naiknya angka kemiskinan, angka deflasi yang terus terjadi di sepanjang kuartal III 2020, terus turunnya nilai impor barang konsumsi (didalam statistik neraca perdagangan).

Dan semakin kuatnya tendensi pergeseran preferensi konsumsi kearah barang yang berkualitas lebih rendah atau harga barang yang lebih murah, kesemuanya memberikan gambaran bahwa kontraksi dalam konsumsi rumah tangga masih cukup dalam.

Dinamika kebijakan, di tataran fiskal, saya mencatat tiga hal.

Pertama, rendahnya realisasi defisit banyak terkait dengan mekanisme DIPA.

Halaman
12
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

Berita Populer

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved