Tribun Wiki
Sejarah Berdirinya Ponpes Darul Istiqamah Al-Markaz Al Islami Sinjai
Pondok Pesantren Darul Istiqamah Al-Markaz Al-Islami Kabupaten Sinjai, didirikan oleh KH Ahmad Marzuki Hasan pada tahun 1969-1970.
Penulis: Samsul Bahri | Editor: Hasriyani Latif
TRIBUNSINJAI.COM, SINJAI UTARA - Pondok Pesantren Darul Istiqamah Al-Markaz Al-Islami Kabupaten Sinjai, didirikan oleh KH Ahmad Marzuki Hasan pada tahun 1969-1970 di Maccopa Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan.
Pada awal berdirinya, pesantren ini hanya memilki kurang lebih tujuh orang santri dan gubuk bambu sebagai asrama pemondokannya.
Pada tahun 1979 KH Achmad Marzuki Hasan (Almarhum) melebarkan sayap dakwahnya dengan berbekal Yayasan Pembina Dakwah Islamiyah sebagai payung hukum, dengan mendirikan pesantren di tanah kelahirannya di Kabupaten Sinjai.
Yaitu Pesantren Darul Istiqamah yang lokasinya adalah di Jalan Bulu Bicara Sinjai yang diawali dengan mengasuh anak-anak yatim dan terlantar dalam Panti Asuhan Darul Istiqamah.
Dan dilanjutkan oleh istri Achmad Marzuki Hasan yakni Hj.Andi Muthahharah K saat ini dan membina dan mendidik ratusan santri yang berasal dari dalam provinsi maupun di luar provinsi.
Seiring waktu, santri makin membludak, maka pada tahun 2000, Achmad Marzuki Hasan memutuskan atas inisiatif pemerintah daerah (saat itu dipimpin oleh Bupati Muh Roem untuk memperluas pesantren ke lokasi baru yaitu di Jalan Bulu Lohe Bongki.
Lokasi tersebut merupakan tanah wakaf Pemkab Sinjai, simpatisan dan dermawan Islam dengan membangun masjid, asrama dapur serta ruang kelas pada saat itu sepenuhnya bantuan dari muhsinin Kuwait melalui lajnah khairiyyah Jakarta.
Putra KH Achmad Marzuki Hasan, Fadhelullah Marzuki yang ditemui TribunSinjai.com, Selasa (13/10/2020) mengungkapkan bahwa dari awal berdirinya sampai saat ini, masyarakat begitu antusias dan dan sangat mendukung setiap program dan selalu turut berpartisipasi pada setiap kegiatan yang dirancang oleh pesantren.
Hal ini dilihat dari keterlibatan masyarakat dalam setiap program kegiatan yang dilakukan pesantren seperti, pengajian akbar setiap bulan, ifthar jama’ah, lebaran Idulfitri dan Iduladha serta kajian muslimah
setiap pekannya.
"Dari waktu ke waktu jumlah jamaah dan santri terus berkembang," katanya.
Diungkap bahwa pendiri pondok pesantren KH Achmad Marzuki Hasan, sebagai seorang pejuang kemerdekaan RI di bidang agama di Sinjai.
Ia dilahirkan di Sinjai 31 Januari 1917 silam dari keluarga religius, disiplin, pekerja keras, namun penuh kebijaksanaan dan kasih sayang.
Ayahandanya bernama KH Hasan dan ibunya bernama Syarifah Aminah.
KH Hasan sebagai sosok Qadhi dan juga tokoh masyarakat yang sangat aktif dalam pengembangan syiar Islam.
Ia sangat teguh mendidik anak-anaknya hingga berhasil membesarkan putranya bernama KH Ahmad Marzuki Hasan sebagai tokoh.
Tokoh inilah yang berhasil mendirikan Pondok Pesantren Darul Istiqamah.
Ahmad Marzuki mulai mengenyam pendidikan di Sekolah Rakyat (SR) Muhammadiyah di Sinjai.
Dan pada saat yang sama juga mendapatkan bimbingan dari KH Muhammad Tahir Qadhi Balangnipa.
Setelah tamat di SR, oleh orang tuanya mengirimnya ke Ponpes As'adiyah Sengkang. Lalu ia melanjutkan sekolahnya di Perguruan Islam Datu Museng di bawah bimbingan Prof HM Darwis Zakariyah.
Ahmad Marzuki juga dikenal sebagai sosok yang tekun dan ulet dia gemar membaca literatur-literatur bahasa Arab, kitab tafsir, hadis, fiqih, ushul dan buku-buku pemikiran Islam.
Selain itu juga dikenal sebagai aktivis organisasi pergerakan. Ia dikenal aktivis Muhammadiyah dan Ketua Majelis Tabligh Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Sulawesi Selatan, masyumi, dan pejuang DI TII.
Keperibadian Ahmad Marzuki patut diteladani karena memiliki sikap istiqamah dan perjuangan Islam, tegas dalam pendirian, berani dalam pendirian, hafal Alquran, surah dan nomor ayatnya, ahli tafsir, dan ahli fiqih, memiliki kekuatan fisik dan ingatan, kepemimpinan dan bijak dan tegas.
Ia juga memiliki sejumlah karya tulis. Ada delapan karyanya yang sudah dibukukan.
Dan pemikiran Ahmad Marzuki terhadap pengamalan Islam dapat dilihat di daerah asalnya dan daerah lain tempat mengembangkan pondok pesantren. Kini sudah ada 20 lebih cabang pondoknya ia bangun.
Masuk Hutan Hingga Dirikan Pondok Pesantren
Bisa disebut, KH Ahmad Marzuki adalah salah satu pejuang syariat Islam yang rela berjuang masuk hutan.
Sinjai, sebuah kota di Sulawesi Selatan yang jarak tempuhnya sekitar 200 kilometer (empat jam) dari kota Makassar pun tak luput dari penjajahan Belanda.
Suasana keagamaan telah bergeliat ramai, terutama sejak Raja Tallo (yang juga menjabat Mangkubumi Kerajaan Gowa I Mallingkan Daeng Manyonri, bergelar Sultan Abdullah Awwalul Islam) mengikrarkan dirinya menjadi seorang muslim pada Kamis 22 September 1605.
Kabupaten Sinjai secara historis terdiri dari beberapa kerajaan yang tergabung dalam federasi Tellu Limpoe dan Pitu Limpoe.
Tellu Limpoe terdiri dari kerajaan-kerajaan yang terletak di pesisir pantai, yaitu kerajaan Tondong, Bulo-Bulo dan Lamatti.
Sedangkan Pitu Limpoe terdiri dari kerajaan Turungen, Manimpahoi, Terasa, Pao, Manipi, Suka dan Bala Suka yang berada di dataran tinggi.
Dalam urusan agama, pada 1917 itu, Belanda memberikan wewenang penuh kepada para ulama yang bergelar Qadhi.
Secara struktural, lembaga ini berada di bawah pemerintahan. Lazimnya daerah jajahan, selama tidak melawan pemerintah dan bekerja sesuai dengan kewenangannya, maka lembaga ini tetap ‘aman’ eksistensinya.
Qadhi juga dikenal sebagai panrita’, yang secara stratifikasi sosial memiliki kharisma yang tinggi di masyarakat.
Di Kabupaten Sinjai yang saat itu terbagi dua (Sinjai Timur dan Lamatti), ada dua Qadhi. Kyai Hasan menjadi Qadhi di Timur, sedangkan Kyai Thahir di Lamatti atau tepatnya di Balangnipa.
Bagi mereka yang pernah di Sulawesi Selatan, atau pejuang syariat, akan mengenal namanya Kyai Ahmad Marzuki Hasan.
Kyai Marzuki adalah salah seorang ulama yang dikenal sebagai pribadi yang kuat, tegas, pejuang, dan da’i.
Komitmennya untuk terus mengamalkan Islam begitu luar biasa. Ia menghafal Al Qur’an. Bahkan dalam perjalanan dari satu kota ke kota lainnya pernah ia menamatkan muraja’ah Al Qur’an-nya.
Jadi, 30 juz selesai ia ulangi saat dalam perjalanan. Umumnya kita dalam perjalanan tidak sampai berpikir untuk itu, karena mungkin tidak hafal Al Qur’an (kalaupun kita baca Al Qur’an, jarang yang membaca dan menamatkannya dalam satu kali perjalanan).
Kyai Marzuki meyakini bahwa salat malam adalah bekal terbaik bagi seorang muslim. Saat siang kita bekerja, di waktu malam kita butuh tambahan semangat keimanan dengan salat malam.
Kyai Marzuki dilahirkan pada 31 Januari 1917 di kota Sinjai, Sulawesi Selatan. Ayahnya bernama Kyai Hasan, seorang Qadhi di Sinjai Timur, sedangkan ibunya Syarifah Aminah.
Marzuki pernah belajar di Pesantren As’adiyah Sengkang Wajo, kemudian melanjutkan ke Perguruan Datumuseng di kota Makassar.
Selain itu ia pernah mengaji kitab pada Prof Darwis Zakaria (guru di Perguruan Datumuseng asal Sumatera Barat) di kota yang sama.
Zakaria menjelaskan ayat-ayat Al Qur’an dengan pendekatan yang modern. Dari Prof Darwis, Kyai Marzuki mempelajari kitab Fathul Qadirkarangan Imam Asy-Syaukani, seorang ulama, imam, mufti dan syaikhul Islam yang ilmunya,“…seperti lautan dan pemahamannya seperti matahari.”
Setelah belajar dari Prof Darwis, Kyai Marzuki kembali ke kampung halamannya di Sinjai. Di sana, ia mulai mengajar dan menggiatkan dakwah.
Menurut beliau, dua aktivitas itu sangatlah mulia: mengajar dan berdakwah. Kecintaannya pada dua aktivitas itu terlihat dari ucapannya, “…saya ingin sekali mati saat mengajar atau berdakwah.” Dalam jejak hidupnya, tak hanya dua hal itu yang dilakukannya, beliau juga pernah berkebun, membuat perahu, berlayar, membuka toko (berdagang) hasil bumi.
Beberapa pekerjaan itu dilakukannya. Ia tidak malu, bahkan tidak putus asa ketika aktivitasnya belum membuahkan hasil. Di sebuah perusahaan Jepang, karena ia amanah akhirnya pernah dipercayai untuk menangani di bidang perbukuan.
Suasana Konferensi Meja Bundar (KMB)
Pada momentum penyerahan kedaulatan Indonesia 1949 dari Kerajaan Belanda di Konferensi Meja Bundar (KMB), di berbagai tempat banyak yang bergembira.
Kedaulatan berarti Indonesia sudah diakui sebagai negara yang sah dan berdaulat setelah merdeka pada 1945.
Perjuangan untuk mendapatkan kedaulatan ini tentu saja penuh dengan berbagai usaha, seperti yang dilakukan Haji Agus Salim dalam pertemuannya dengan Imam Hasan Al Banna, pemimpin Al Ikhwan Al Muslimun di Mesir untuk membantu pengakuan Mesir atas kemerdekaan dan kedaulatan Indonesia.
Di Sinjai, perayaan itu juga tak ketinggalan. Maka diadakanlah pasar malam. Namun yang disayangkan dalam pasar malam itu, adalah adanya perjudian.
Sebagai aktivis Masyumi dan Wakil Ketua Muhammadiyah Sinjai, Kyai Marzuki tidak setuju dengan model perayaan seperti itu. Ia berpatokan pada hadis Nabi:
“Siapa yang melihat kemungkaran di antara kalian, maka hendaklah ia mengubah kemungkaran itu dengan tangannya, jika ia tidak mampu maka dengan lisannya, dan jika ia tidak mampu maka dengan hatinya, dan yang demikian itu adalah selemah-lemahnya iman.” (HR. Muslim)
Bersama beberapa koleganya, Kyai Marzuki memberikan resolusi kepada pemerintah. Resolusi itu diperlihatkan pada beberapa qadhi di Sinjai, termasuk kepada kakaknya, Abdullah Hasan. Resolusi itu dikirimkan juga ke Badan Tinggi Negara Indonesia Timur (NIT), akan tetapi tidak ditanggapi secara serius.
Bahkan, ada kesan pemerintah menyetujui pasar malam dengan adanya perjudian itu yang menurut Kyai Marzuki, tidak sesuai dengan kaidah Islam dan tidak produktif.
Karena merasa kepentingannya terganggu, maka kelompok yang merasa terganggu itu menuduh Kyai Marzuki dan beberapa kawannya sebagai pengikut gerombolan.
Selain itu, tentara juga marah dengan kejadian tersebut. “Tentara sekarang sudah marah sekali. Ustad tidak bisa menerima unsur pengampunan,” demikian kata seseorang, seperti dituturkan Kyai Marzuki dalam wawancara dengan cucunya, Ustad Mudzakkir Arif.
Akhirnya, Kyai Marzuki menghadap ketua Masyumi Sulsel yang juga menjabat Wakil Walikota Makassar untuk meminta masukan dan pertimbangan. Maka, Ustad Marzuki diminta untuk berhijrah segera ke Jakarta.
Di Jakarta, Kyai Marzuki bertemu dengan Ketua Masyumi Mohammad Natsir di Jalan Kramat Raya, Jakarta Pusat. Dalam pertemuan itu, Kyai Marzuki diminta oleh Pak Natsir untuk tetap tinggal di Jakarta dan dipercaya sebagai kasir bagian keuangan salah satu pelayaran nusantara kurang lebih satu tahun.
Pak Natsir adalah salah seorang tokoh muslim Indonesia, yang pernah menjadi Perdana Menteri dan dikenal luas di dalam dan luar negeri.
Di tahun 1953-an ketika Kahar Muzakkar ingin mendirikan Darul Islam, Kyai Marzuki dipanggil oleh Kahar. Diajak bergabung.
Setelah berpamitan dengan Mohammad Natsir, Kyai Marzuki pada akhirnya kembali ke Makassar dan berjuang masuk hutan. Ia dijemput di daerah Tanete (antara Sinjai dan Bulukumba).
Waktu yang ditempuh dari Tanete itu ke Pusat Pemerintahan di Palopo sekira 5 hari.
Sebelumnya, Kyai Marzuki enggan untuk berjuang di hutan jika bukan Islam yang diperjuangkan. “Jika bukan memperjuangkan Islam, saya tidak akan masuk hutan,” begitu kurang lebih kata beliau kepada Pak Kahar.
Akhirnya, ide itu diterima oleh Kahar Muzakkar dan perjuangannya berlandaskan pada Islam. Di hutan saat itu bukan hanya orang Islam, tapi juga Kristen dan penganut komunis.
Di dalam hutan, kurang lebih 15 tahun Kyai Marzuki bersama Kahar Muzakkar. Mereka bertahan hidup dengan memakan apa yang ada di hutan.
Kyai Marzuki menjadi rujukan bagi banyak masalah keagamaan di hutan Sulawesi Selatan dan Tenggara itu.
Di dalam hutan, ia tetap menghafal Al Qur’an, dan mendirikan salat malam (qiyamullail). Kyai Marzuki dikenal lembut ucapannya namun tegas dalam perjuangannya sehingga dalam perjuangan itu ia pernah diamanahi sebagai Menteri Penerangan, Menteri Dalam Negeri dan Dewan Fatwa.
Selama berjuang di hutan, Kyai Marzuki pernah bertugas sebagai Menteri Penerangan, Menteri Dalam Negeri, dan Dewan Fatwa.
Sejak di hutan itu juga, ia telah aktif menuliskan pemikiran-pemikirannya hingga ketika berdakwah pasca revolusi DI/TII (setelah keluar dari hutan).
Setelah keluar dari hutan, tak berapa lama diadakan pertemuan para alim ulama se-Sulawesi Selatan dan Tenggara bersama Panglima Kodam XIV Hasanuddin Aziz Mukhtar.
Dalam pertemuan itu, Pangdam mengharapkan agar para ulama mendirikan kembali pendidikan pesantren dengan sistem sebelum perang. Maksudnya adalah, pesantren yang berdiri sendiri dan berakar di masyarakat. Pesantren ini menjadi panutan, dan kader-kadernya tersebar di berbagai pelosok.
Gerbang Depan Darul Istiqamah
Pada akhir 1968 dan awal 1969, Kyai Marzuki bergabung kembali dengan Muhammadiyah. Dengan banyaknya antusiasme dari para jamaah pengajian, dan setelah pertemuan dengan Pangdam, akhirnya tercetuslah ide untuk mendirikan Pesantren Darul Istiqamah.
Ketika para jamaah begitu banyak, ide untuk mendirikan pesantren itu terekam dalam pemikirannya sebagai berikut:
“Betul kita sudah beramal, akan tetapi jika tidak ada kader di kemudian hari—karena jama’ah pengajian tidak bisa diharapkan menjadi kader—namun hanya berguna bagi pribadinya, maka perlu adanya pengajian dan pembinaan yang lebih baik lagi.”
Selain itu, muncul kekhawatiran jangan sampai setelah perjuangan menegakkan Islam di hutan selesai (begitu juga pasca karantina politik di Pare-Pare), para jamaah terpengaruh dengan kehidupan kota. “Padahal di hutan,” kata beliau, “kita telah menjalankan syariat agama ini.”
Maka bersama dengan jamaah di Masjid Nurul Hidayah Jalan Kapoposang (sekarang: Jalan Andalas, Makassar), timbullah ide pendirian pesantren.
Badan hukumnya pun dibentuk di rumah Haji Latanrang di Jalan Merpati. Pada 1970, yayasan ini berdiri dengan nama Yayasan Pendidikan Da’wah Islamiyah (YPDI) dan berkantr di Jalan Merpati Masjid Jenderal Sudirman, Makassar.
Tak berapa lama, lokasi pendirian pesantren pun ditemukan, sekira 25 Km dari kota Makassar, yaitu di Maccopa, Kabupaten Maros.
Beberapa waktu lalu, Gubernur Sulawesi Selatan Dr Syahrul Yasin Limpo memberikan penghargaan bagi beberapa tokoh Islam yang telah membina dan mengembangkan syiar Islam. Termasuk dalam hal ini Kyai Ahmad Marzuki Hasan.
Di Sulsel, Kyai Marzuki dikenal secara luas sebagai pejuang. Ia kerap berpesan, dan pesan terakhirnya sebelum nyawanya dipanggil (seperti diucapkan oleh anaknya, KH Muhammad Arif Marzuki) adalah, “Jaga salat jamaahmu, dan rajin-rajinlah membaca Al Qur’an.”
Kyai Marzuki dikuburkan Pekuburan Syuhada, kompleks pesantren yang didirikannya 30 tahun lalu; Pesantren Darul Istiqamah yang terletak Maccopa, Kabupaten Maros.
Tak ada nama di nisannya. Namun, perjuangan, nasihat, buku-buku, serta ajaran dan dakwahnya (dalam mengamalkan Islam) senantiasa tertulis di kedalaman hati para murid, pelanjut, simpatisan pesantren, dan kaum muslimin, khususnya di Sulawesi Selatan.
PROFIL PONPES DARUL ISTIQAMAH SINJAI
Kampus Al-Markaz Al Islamy
Kabupaten Sinjai
Nama Pesantren : Pondok Pesantren Darul Istiqamah Al-Markaz Al Islami
Alamat : Jl Bulu Lohe Kel. Bongki
Kec. Sinjai Utara Kab. Sinjai
Pendiri : K.H. Ahmad Marzuki Hasan
Tahun Berdiri : 1979
Pimpinan : H. Fadhlullah Marzuki
Jumlah Santri : 512 Orang
Jumlah Guru.Ustadz : 48 Orang
Ciri khas : Kombinasi Modern dan Tradisional
IDENTITAS PESANTREN
1. Nama Pesantren : Pesantren Darul Istiqamah sinjai
(Kampus Al Markaz Al Islamy)
2. Yayasan Penyelenggaaraan: Yayasan Pembina Dakwah Islamiyah (YPDI-Sinjai)
3. Alamat : Jalan Bulu Lohe Kelurahan bongki Kec. Sinjai Utara
Kabupaten Sinjai4. No. Telp : 0813 1718 6554 6, 0813 3551 15878, 0853 9603 4766
5. NPWP : 02-853-790-0-806-000
6. No. Rekening : 0258-01-016769-50-2 (BRI Cab. Sinjai)
“ YPDI Pesantren Darul Istiqamah Al-Markaz Al-Islamy “
7. Nama Pimpinan : Fadhlullah Marzuki
8. Nama Pendiri : K.H. A. Marzuki Hasan
KEADAAN MASYARAKAT
Dari awal berdirinya sampai saat ini, masyarakat begitu antusias dan dan sangat mendukung setiap program dan selalu turut berpartisipasi pada setiap kegiatan yang dirancang oleh pesantren. Hal ini dilihat dari keterlibatan masyarakat dalam setiap program kegiatan yang dilakukan pesantren seperti, pengajian akbar setiap bulan, ifthar jama’ah, lebaran idul fithri dan idul adha serta kajian muslimah setiap minggunya.
VISI
Membentuk kader-kader da’I dan da’iyah yang berpendidikan dan berakhlak mulia dan selalu istiqamah dalam keyakinannya.
TUJUAN
Mencetak kader-kader muballigh harapan ummat
JENJANG PENDIDIKAN & DIVISI
a. Jenjang pendidikan yang ada antara lain :
1. SDTQ (Sekolah Dasar Tahfidzul qur’an) Darul Istiqamah Sinjai (Tahun berdiri
2008)
2. SMP Islam Darul Istiqamah Sinjai (Tahun Berdiri 2005)
3. MTs Al-Markaz Al Islamy Darul Istiqamah Sinjai (Tahun Berdiri 2005)
4. SMA Islam Darul Istiqamah Sinjai ( Tahun Berdiri 2007)
5. MAS Darul Istiqamah Sinjai ( Tahun Berdiri 1981)
6. Program Tahfidzul Qur’an
Dalam perkembangannnya saat ini, alhamdulillah semua jenjang
pendidikan yang ada dalam lingkup pesantren sudah terakreditasi dan
mendapatkan pengakuan penuh oleh pemerintah.
b. Divisi Anatara Lain :
1. Divisi Panti Asuhan Darul Istiqamah Sinjai (berbadan Hukum)
2. Divisi Koperasi Pesantren Darul Istiqamah Sinjai (Berbadan Hukum)
3. Divisi Penyelenggara Jenazah dan Bencana Alam (Darul Istiqamah Crisist
Centre) – SK Yayasan
4. Divisi Penyelenggara Pernikahan
5. Divisi Penyelenggara Aqiqah
6. Divisi Penyelenggara Qurban
7. Divisi LAZ, Infaq dan Shadaqah
8. Divisi Pelatihan Dakwah dan Keagamaan (Tim Muballigh)
9. Divisi Penyelenggara Buka Puasa
SARANA & PRASARANA, SANTRI DAN TENAGA PENGAJAR
a. Sarana & Prasarana
Untuk Menunjang proses belajar mengajar, maka pesantren Darul
Istiqamah Sinjai telah menyiapkan sarana dan prasarana sebagai berikut :
1. Tanah seluas 2.5 Ha (Bersertifikat)
2. Ruang belajar sebanyak 12 lokal dan 9 lokal kelas darurat (SD, SMP/MTs dan
Aliyah)
3. Kantor sebanyak 2 Lokal
4. Masjid dengan luas 19 x 25 meter
5. Asrama dua lantai 1 Putra dan 1 Putri
6. Dapur seluas 6 x 8 meter
7. MCK seluas 6 x 6 meter masing-masing 2 unit putra dan putri.
Sarana ada prasarana tersebut berada di dalam Al Markaz Al Islamy
Darul Istiqamah Sinjai
b. Jumlah Santri
No Uraian
Jenis Kelamin
Jumlah
Laki-laki Perempuan
1. Santri 263 266 529
c. Jumlah Tenaga Pengajar
Untuk mememnuhi kebutuhan masyarakat dan menghadapi tantangan zaman
dewasa ini, maka lembaga kami ditangani oleh Tenaga Pendidik yang
professional di bidang mereka masing-masing diantaranya
1. Jamiah Islamiah madinah Al Munawwarah
2. LIPIA Jakarta
3. Pondok Moderen Gontor Jatim
4. Pesantren Al Irsyad Al Islamiyah Jateng
5. Pondok Persatuan Islam Bangil (PERSIS) Jatim
6. UNM, UNHAS, UIN,UNISMUH dan STAIM
7. Takhassus darul Istiqamah – Jurusan Syari’ah
LULUSAN DAN JUMLAH LULUSAN RATA-RATA PER TAHUN
Pesantren dari sejak berdirinya sampai sekarang telah meluluskan ribuan alumni yang masing-masing mereka berkiprah di masyarakat sesuai dengan keahlian mereke masing-masing.
Diantara mereka ada yang berkiprah di pemerintahan, kepolisian, dokter, akademisi (guru dan dosen) dan banyak pula yang memilih mengabdikan diri menjadi muballigh baik dilingkungan cabang pesantren atau pada medan-medan dakwah lainnya.
Hal ini diceritakan oleh alumni sendiri pada acara sarasehan dan ramah tamah pada silatnas Pesantren Darul Istiqamah 2018 kemarin yang dihadiri 5.000 alumni dan jamaah pesantren.
Pesantren yang setiap tahunnya meluluskan rata-rata 50 alumni setiap tahunnya, yang sebahagian besarnya terserap dan melanjutkan pendidikan pada jenjang yang lebih tinggi, baik pada universitas negeri maupun swasta.
Hingga saat ini, ratusan jumlah alumni yang masih sedang melanjutkan studi pada jenjang perguruan tinggi, diantaranya pada sekolah tinggi berikut:
1. Universitas Hasanuddin Makassar
2. Universitas Islam Negeri Makassar
3. Universitas Muslim Indonesia
4. Universitas Muhammadiyah Makassar
5. Universitas Internasional Sudan
6. Universitas Islam Internasional Islamabad Pakistan
7. Ar Rayah Jakarta
8. Ma’had Al birr Makassar
9. Lipia Jakarta
10. Sekolah Tinggi Ilmu Bahasa Arab Makassar
11. Institut Agama Islam Muhammadiyah Sinjai
12. Sekolah Tingg Ilmu Sosial dan Pemerintahan Sinjai
KEGIATAN & PRESTASI SANTRI
a. Kegiatan Santri
Indoor
1. Latihan dakwa/pidato 7. Sport Club
2. Kepramukaan 8. Seni Islamy (kaligrafi)
3. Arabic club 9. Penjahitan
4. Anglsh club 10. Keputrian
5. Teather Islamic 11. Cocok Tanam
6. Seni Beladiri 12. Beternak
Outdoor
1. Camp Da’wah
2. Tadabbur Alam
b. Prestasi Santri
Dalam kegiatan ekstrakurikuler,anak didik kita sudah berpartisipasi
Pada berbagai perlomabaan baik di tingkat kabupaten,provinsi maupun pada
tingkat nasional, diantara kegiatan yang pernah mereka ikuti antara Lain
adalah;
1. Partisipasi pidato 3 Bahasa (Inggris, Indonesia, Arab) Pospeda se Sul Sel
2. Juara 1 Pidato Bahasa Inggris tingkat SMP se Kabupaten Sinjai
3. Juara 2 Pidato Bahasa Indonesia Tingkat SMP/SMA se Kabupaten Sinjai
4. Juara 1 Pidato Bahasa Arab Pospenas se Bosowasi 2009
5. Juara 1 Pidato BahasaArab Putri Reuni Akbar Darul Istiqamah 20076.Juara 1 Tadarrus Al Qur’an tingkat SMP/SMA se-Kabupaten Sinjai
7. Juara 1 Lomba Penyelenggaraan Jenazah se Kabupaten Sinjai
8.Juara 1 Pencak Silat Pospenas 2006 dan 2010
9.Partisipasi Pencak Silat Pospenas 2006 dan 2010
10. Juara 1 Kejurda Pencak silat Enrekang
11. Partisipasi pada pra PON cabang Pencak Silat
12. Partisipasi Pramuka Jambore Nasional Jatinangor Jawa Barat
13. Partisipasi Perkemahan Santri Nusantara (Perkasa) Cibubur
14. Partisipasi Perkemahan dan Perlombaan Elang Tegar di Malino
KEBUTUHAN PESANTREN SAAT INI
Hingga saat ini, dalam pengembangannya pesantren menyadari bahwa sarana dan pra sarana yang ada di lingkungan pesantren masih sangat jauh dari cukup.
Seperti misalnya asrama yang ada saat ini, idealnya hanya mempu menampung 140 orang, sehingga kami masih membutuhkan dua unit asrama, (asrama putra dan asrama putri);
Berikut daftar kebutuhan pesantren lainnya:
1. Perluasan Masjid
Masjid yang ada saat ini berukuran 19x25 yang pada hari jum’at dan pengajian
akbar bulanan tidak mampu menampung semua jumlah santri dan jamaah, maka
kami berencana untuk membangun lantai 2 dan lantai 3 masjid tersebut.
2. Kebutuhan Ruang Kelas
Ruang kelas yang ada juga belum mampu menampung jumlah siswa, kami membutuhkan 9 ruang kelas untuk tingkat SD Tahfidzul Qur’an 3 lokal, Madrasah Aliyah putri 6 Lokal.
3. Kebutuhan Perpustakaan
Pesantren dari sejak berdirinya sampai sekarang belum memiliki gedung perpustakaan ataupun koleksi buku-buku agama yang mu’tabar. Sehingga dalam perjalanannya, santri-santri hanya mengandalkan informasi tambahan dari koleksi buku milik para asatidzah maupun buku waqaf milik pendiri pesantren. Dalam perencanaan kami, lantai 2 masjid kami persiapkan untuk perpustakaan buku dan perpustakaan audio visual.
4. Kebutuhan Rehab
Bangunan pertama yang dibangun oleh muhsinin kuwait melalui lajnah khairiyyah Jakarta, sudah membutuhkan rehabilitasi. Hal ini dengan beberapa alasan:
a. Dampak dari bencana banjir bandang pada tahun 2006 yang menyebabkan
semua lantai bangunan amblas
b. Kondisi atap yang terbuat dari genteng, yang semakin hari bertambah berat
karena kadar air yang meningkat, menyebabkan kondisi genteng yang berat,
bocor yang membahayakan keamanan santri.
c. Kondisi bangunan yang sudah rusak hampir pada semua sisi gedung
dikarenakan usia bangunan yang memang sudah tua.
5. Kebutuhan Pengecetan Ulang
Selain bangunan, juga membutuhkan pengecetan ulang untuk semua bangunan yang ada, termasuk masjid, ruang kelas, asrama dapur dll.
6. Auditorium Tahfidzul Qur’an
Pesantren juga berencana membangun Auditorium Tahfdzul Qur’an yang berfungsi selain menjadi pusat penghafalan santri, juga menjadi pusat kegiatan Idary (Kantor Pusat dan administrasi) yang merupakan jantung kegiatan dan perencanaan program pengembangan pesantren. Adapun lantai dua gedung tersebut direncanakan menjadi Sholatul Ijtima’. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/gerbang-utama-pondok-pesantren-al-markaz-darul-istiqamah-sinjai.jpg)