Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Tribun Pinrang

Petani Jagung di Basseang Pinrang Terancam Rugi Puluhan Juta, Ini Penyebabnya

Pasalnya, jagung yang telah siap diperjualbelikan itu sulit dimobilisasi di area yang terjangkau pedagang.

Penulis: Hery Syahrullah | Editor: Sudirman
Ist
Salah seorang petani di Desa Basseang, Kecamatan Lembang, Kabupaten Pinrang 

TRIBUNPINRANG.COM, LEMBANG - Petani jagung di Desa Basseang, Kecamatan Lembang, Kabupaten Pinrang terancam rugi puluhan juta rupiah.

Pasalnya, jagung yang telah siap diperjualbelikan itu sulit dimobilisasi di area yang terjangkau pedagang.

Hal itu disebabkan oleh adanya pengerjaan jalan provinsi (Poros Pinrang-Enrekang) yang tak kunjung rampung, hingga menyulitkan proses mobilisasi.

Padahal, pengerjaan jalan tersebut sudah berlangsung cukup lama.

"Katanya, pengerjaan jalan tersebut masih membutuhkan waktu beberapa bulan lagi. Sedangkan jagung yang telah dipanen dan siap dipasarkan semakin menumpuk," keluh salah seorang petani setempat, Jaswandi kepada TribunPinrang.com, Jumat (18/9/2020).

Menurutnya, sekitar 26 ton jagung yang telah dipanen dan hanya tinggal menumpuk di bawah kolong rumahnya. Sedangkan jagung tersebut mesti segera dibawa ke pedagang untuk dijual.

"Jika tidak, maka jagung-jagung ini akan terancam rusak berjamur," ucap Jaswan.

Sebenarnya, ada jalur lain yang bisa ditempuh petani untuk membawa jagung hasil panen tersebut ke pedagang. Hanya saja, butuh biaya mobilisasi yang jauh lebih mahal.

"Jadi petani berpikir dua kali untuk lakukan itu, karena mengeluarkan biaya yang lebih mahal. Ditambah lagi, harga jagung juga semakin murah sejak pandemi," papar Jaswan.

Ia menambahkan, pihak petani di desa tersebut sangat menyayangkan adanya kondisi itu.

Padahal, Menteri Pertanian RI Syahrul Yasin Limpo pernah menjanjikan harga jagung tidak boleh di bawah Rp 3 ribu.

"Tapi kenyataan saat ini, malah dipatok dengan harga Rp 2 ribuan saja," papar Jaswan.

Belum lagi pengeluaran saat proses tanam dan perawatannya, menurut Jaswan, biaya yang dikeluarkan juga tak sedikit.

Apalagi, tak ada pupuk dan bibit subsidi ditemukan saat proses perawatan jagung petani.

"Entah pupuk subsidi itu kemana. Hal itu semakin membuat petani disini menjerit," pungkas Jaswan. (TribunPinrang.com)

Laporan Wartawan TribunPinrang.com, @herysyahrullah

Sumber: Tribun Timur
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved