Ngovi Tribun
Cerita Kabiro Kompas Tv Makassar Terpapar Covid-19 Hingga Dirawat di Ruang ICU
Kepala Biro Kompas TV Makassar itu menyampaikan, awal mula ia merasakan penyakit ketika merasa batuk dan demam.
Penulis: Sayyid Zulfadli Saleh Wahab | Editor: Imam Wahyudi
TRIBUN-TIMUR.COM, MAKASSAR - Kepala Biro Kompas TV Makassar Safri Sitepu menceritakan awal mula ia terpapar Covid-19.
Hal itu disampaikan dalam Ngovi (Ngobrol Virtual) Tribun Timur dengan Tema, Terpapar Covid-19, Dirawat Hingga Tanda Tangani Surat Kematian' Jumat (14/8/20) malam.
Menurutnya, terpapar Covid dibagi dua yakni positif Orang Tanpa Gejala (OTG) dan positif terinfeksi.
"Jadi saya dikategorikan terinfeksi," ujarnya.
Kepala Biro Kompas TV Makassar itu menyampaikan, awal mula ia merasakan penyakit ketika merasa batuk dan demam.
"Itu awal-awal yang saya rasakan sekitar tanggal 4 bulan Juli lalu," kata Saffri.
Dua hari kemudian, ia pun berobat di Rumah Sakit (RS) Hermina dan langsung dironsen dan cek darah lengkap.
"Jadi saya lakukan itu, besoknya keluar hasilnya dan saya dinyatakan tidak ada sakit, ronsen saya bagus, paru-paru bagus dan darah juga normal. Jadi saya diberikan obat mungkin penurun panas atau obat flu," ucapnya.
Tiga hari setelah itu kata dia, batuk yang ia rasakan semakin menjadi bahkan mengeluarkan dahak dan mulai kecoklat-coklatan serta malam itupun ia sudah mulai sesak.
"Pada saat di rumah sakit itu sendiri belum dilakukan rapid tes dan swab belum karena langsung dikasih rontgen dan cek darah ya dari hasilnya itu saya dinyatakan tidak ada apa-apa," jelasnya.
"Malam itu karena saya sudah mulai sesak saya diminta dibawa ke rumah sakit Siloam. Jadi malam-malam saya diantar ke sana ternyata di Rumah Sakit Siloam ada semacam bangsal yaa disiapkan di sana kayak kontainer, jadi orang-orang yang indikasi Covid dimasukkan ke sana sebagai UGD," bebernya.
Dirinya pun langsung ditangani dengan baik dan diberi oksigen serta diukur saturasi oksigen di dalam darah.
"Indikasi tersebut diketahui setelah dilakukan observasi, kan langsung masuk ke UGD dilakukan cek saturasi oksigen terus saya langsung di CT Scan di sana, langsung masuk ke ruangan dikasih infus dan lain sebagainya," ujar Saffri.
Diagnosa dan gejala-gejalanya mirip seperti Covid, lanjut Safri, malam itu juga langsung diswab diambil swab dari hidung dan mulut.
Setelah beberapa jam kemudian dokter menyatakan bahwa gejalanya adalah mirip dengan gejala covid-19.
"Hasil swabnya itu tidak keluar pada hari itu, mungkin 4 atau 5 hari kemudian setelah saya dipindah baru keluar hasilnya," kata Saffri.
Esok harinya, ia pun dirujuk ke RS Sayang Rakyat.
"Besoknya saya dirujuk ke RS Sayang Rakyat karena RS Siloam tidak menerima perawatan Covid. Dia hanya menyiapkan seperti bangsal ada tempat khusus di luar katanya sudah penuh di sana," pungkasnya.
Ia menjelaskan, terkait tanda tangan surat kematian sebenarnya bukan surat kematian, namun SOP Rumah Sakit adalah ketika ada indikasi Covid buat pasien disodorkan surat ke semua pasien yang indikasinya Covid, surat itu mulai dari perawatan hingga pemulasaran. Itu harus tanda tangan pasien atau keluarga.
Ketika belum ada kejelasan terpapar virus atau belum, kata Safri, ia merasakan sesak, batuk, badan mulai sakit hingga semua sendi-sendi terasa sakit.
"Saya baca di internet, salah satu yang paling menonjol ciri-cirinya adalah indera penciuman dan perasa hilang dan itu saya rasakan. Jadi waktu di rumah saya cium minyak kayu putih tidak tahu baunya seperti apa dan makan tidak terasa. Itu ciri- ciri yang saya ingat dan saya rasakan," kata Saffri
Setelah dia dibawa ke RS, ia meminta agar istri dan anaknya di swab.
"Istri sayakan terpapar juga positif karena waktu saya dibawa ke RS istri dan anak-anak saya minta diswab semua sama Dinas Kabupaten Gowa. Jadi istiri saya itu OTG anak saya posisif mereka isolasi mandiri, yaa terpapar dari saya. Mereka tidak merasakan gejala tapi hasil swabnya dinyatakan positif," kata Saffri.
Pada saat dirinya dipindahkan ke RS Sayang Rakyat. RS sayang Rakyat ada sekitar 50 orang yang dirawat karena Covid-19 termasuk dirinya.
Safri masuk RS Sayang Rakyat dengan kondisi terinfeksi dan kondisi sangat tidak baik bisa sehingga dimasukkan ke ruangan ICU.
"Jadi waktu itu perawatan ICU, saya diberikan oksigen karena tingkat saturasi oksigen pada tubuh saya sangat rendah," kata Saffri.
Pada hari ke tiga penyakit yang ia alami semakin meningkat, dokter yang menangani bahkan sempat menelpon ke rumah bahwa ia akan dipindahkan ke ICU tingkat pertama.
"Jadi ICU paling tinggilah kelasnya di situ orang-orang perawatannya sudah menggunakan selang ke mulutnya sudah dibius, pas saya masuk ada beberapa orang di dalam sudah tinggal tergeletak masuk selang ke mulutnya," jelasnya.
"Waktu itu selang yang di oksigen yang dimasukkan ke tubuh saya masih lewat hidung, masih kecil terus dokter bilang oksigen Pak Saffri kita ganti menggunakan lebih besar yang ada plastiknya, itu tekanan oksigen lebih besar yaa ke dalam tubuh. Yang saya lihat ada pasien sudah buka baju semuanya pakai selang ke mulut. Alhamdulillah saya tidak menggunakan itu, karena sekitar 2 jam saya di dalam, saturasi oksigen saya makin baik dan di situ dilihat dokter dan dipindahkan ke ruangan sebelah ICU yang lebih rendah,"paparnya.
Ia menambahkan, disana ia diberikan obat, disuntik. Obat terus diberikan sama dokter dan perawat di Rumah Sakit.
Ia mengaku mempunyai penyakit bawaan yaitu diabetes bahkan pada saat dirinya terpapar penyakit bawaanya itu meningkat.
"Hari pertama hingga hari kesepeluh semua penyakit itu seolah olah naik, batuk tidak bisa berhenti siang malam bahkan batuk mengeluarkan darah. Pada saat dirawat berat badan saya turun 8 kilo," pungkasnya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/ngobrol-virtual-ngovi-tri34dxw.jpg)