TRIBUN TIMUR WIKI
Kilas Balik 73 Tahun Silam, TNI AU Lakukan Operasi Serangan Udara Pertama
Sudah 73 tahun sudah, momen tersebut diperingati dan dikenal sebagai Hari Bhakti TNI AU.
Penulis: Desi Triana Aswan | Editor: Waode Nurmin
TRIBUNTIMURWIKI.COM- Tak hanya hari lahir TNI Angkatan Udara saja yang diperingati setiap tahunnya.
Namun dalam perjalanan sejarah TNI, dikenal juga ada Hari Bhakti TNI Angkatan Udara.
Peringatan momen spesial tersebut tepat pada hari ini 29 Juli.
Sudah 73 tahun sudah, momen tersebut diperingati dan dikenal sebagai Hari Bhakti TNI AU.
• Daftar Harga Hp Oppo Update Akhir Juli 2020, Oppo A92, Oppo A52, Oppo A12, Oppo A31 & Spesifikasi
Dilansir dari Tribun Manado, Hari Bhakti TNI AU yang diperingati setiap tahun untuk mengenang peristiwa heroik, patriotisme dan kepahlawanan di Bulan Juli 1947.
Kilas balik, pada Juli 73 tahun silam, TNI AU melakukan operasi serangan udara pertama.
Bermodal semangat patriotisme, penerbangan, kadet penerbang Muljono, Sutardjo, Sigit dan Suharko berhasil menyerang Belanda di Semarang, Salatiga dan Ambarawa pada 29 Juli 1947.
Pada tanggal 29 Juli 1947 pagi pukul 05.00, tiga pesawat AURI terdiri dari pesawat Guntei dan dua pesawat terbang Churen take off secara berurutan di lapangan terbang Maguwo Jogjakarta.
Pesawat Guntei yang diterbangkan oleh Mulyono dan Dulrachman sebagai “air-gunner” terbang terlebih dahulu. Kemudian disusul pesawat Churen yang dikemudikan oleh Sutardjo Sigit yang dibantu Sutardjo sebagai “air-gunner”.
Selanjutnya Suharnoko Harbani dengan Kaput juga menggunakan pesawat Churen merupakan pesawat yang terakhir mengangkasa.
Penerbangan pagi itu bukanlah penerbangan dalam rangka latihan para kadet Sekolah Penerbang Maguwo melainkan suatu Operasi Udara yang dilancarkan Angkatan Udara Republik Indonesia terhadap kubu militer Belanda di Semarang, Salatiga dan Ambarawa.
Mengingat kekuatan udara Republik Indonesia baik materiil maupun personelnya belum memadai, maka tujuan dari operasi udara tersebut hanya memberikan efek psikologis terhadap militer Belanda dan menunjukkan kepada dunia internasional bahwa Indonesia masih ada.
Tujuan itu terucap dalam briefing KSAU Komodor Udara S. Suryadarma sebelum pelaksanaan operasi. ”Operasi udara ini ditinjau dari sisi militer tidak akan membawa pengaruh yang menakjubkan, namun secara psikologis merupakan pukulan berat bagi pihak Belanda."
Operasi itu dilakukan dengan menggunakan pesawat peninggalan Jepang yang sudah rusak. Setelah diperbaiki satu hari penuh, langsung digunakan tanpa prosedur test flight layaknya seperti saat ini.
Selain pesawat yang tidak layak, tanpa lampu penerangan, tiada radio komunikasi kecuali dibekali dengan lampu senter, para penerbangnya pun para penerbang muda pimpinan A. Adisutjipto.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/hari-bakti-tni-angkatan-udara-au-ke-73.jpg)