IDI Makassar Kritik Gubernur Sulsel Soal Penanganan Pasien Covid-19, Penyebab Pasien Makassar Tinggi
Ternyata IDI Makassar sudah protes sejak awal dengan ide Pemprov Sulsel membawa semua pasien positif Covid-19 dari kabupaten/kota di Sulsel ke Kota Ma
TRIBUN-TIMUR.COM, MAKASSAR - Ternyata Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Makassar tidak setuju dengan cara pemerintah provinsi Sulsel menangani pasien corona atau covid-19.
Hal ini terkait dengan semakin meningkatnya pasien di Sulsel,utamanya di Kota Makassar.
Humas Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Kota Makassar dr Wachyudi Muchsin melayangkan kritikan keras terhadap Kebijakan Gubernur Sulsel yang juga Ketua Tim Gugus Covid-19 Sulsel, Nurdin Abdullah.
dr Yudi sapaannya menyoroti program wisata Covid-19.
Pasien Covid-19 dari daerah diboyong ke Makassar.
Ternyata IDI Makassar sudah protes sejak awal dengan ide Pemprov Sulsel membawa semua pasien positif Covid-19 dari kabupaten/kota di Sulsel ke Kota Makassar.
IDI mengusulkan pasien positif dengan gejala ringan dirawat di RS daerah saja.
"Ini yang pernah IDI Makassar suarakan saat sosialisasi sistem rujukan Covid19 baru oleh Kadinkes dengan program wisata Covid-19. Gubernur seolah ingin menjadi superhero yang mampu menangani semua di Makassar," kata dr Yudi.
"Sayang mereka lupa bahwa meskipun pasien disatukan di Makassar tapi kontaknya tetap ada di daerah. Ini juga berpotensi mengaburkan tracing dan cenderung membebaskan masyarakat tanpa peduli protokol kesehatan," kata dr Yudi, Sabtu (4/6/2020).
Masalahnya sekarang, rumah sakit rujukan Covid-19 dan wisata Covid-19 sudah nyaris penuh.
"Ini aspirasi teman-teman dokter, hentikan juga evakuasi pasien-pasien Covid19 ke Makassar. Selain berisiko tinggi penularan saat evakuasi, kita memfasilitasi impor ekspor virus dari dan ke daerah. Akhirnya hotel-hotel dan RS di Makassar juga penuh. Saat orang yang sudah domisili Makassar butuh, semua sudah terisi dari daerah,"
"Apalagi OTG, kenapa tidak isoman (isolasi mandiri) di daerah saja. Padahal RS daerah juga mampu dan bisa dioptimalkan. Saatnya semuanya harus berperan. Kalau tidak, bisa habis nakes(tenaga kesehatan) di Makassar," lanjut Yudi.
4 Juli, Corona Sulsel Kian Gawat Tambah 195 Pasien Baru, Pantas Dokter Bilang Makassar Kian Seram!
Ada Apa dengan Danny Pomanto? Mantan Wali Kota Makassar Videonya Jadi Bahan Gosip 2 Pekan Ini
LIVE #katanone Hadirkan Owner Krispy Brownies & Kisahnya Bertahan di Tengah Pandemi Covid-19
Masalah lainnya, jika RS daerah melayani pasien Covid-19 akan menemui kendala di administrasi.
"Sekarang RS daerah kebingungan karena RS rujukan semua penuh. Wisata Covid19 juga penuh tapi belum ada perubahan kebijakan untuk kembali ke konsep awal. Ini berpotensi mengakibatkan perawatan Covid19 yang ilegal di RS daerah karena sudah dianggap sebagai RS Noncovid19. Ujung-ujungnya, semua klaim Covid kita akan ditolak oleh BPJS sebagai verifikator klaim karena merawat pasien sementara status RS adalah RS Noncovid19," tambah Wachyudi Muchsin.
IDI Makassar mengajak semua elemen menghilangkan ego dan bekerja sama agar Covid-19 di Sulsel dan Makassar bisa selesai.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/virus-corona-27062020.jpg)