Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Tribun Wiki

Fakta Patung 3 Pejuang di Depan Masjid ICDT Bulukumba

Patung ini berada tepat di depan Masjid Islamic Center Dato Tiro (ICDT) Bulukumba atau di samping kantor Dinas Ketahanan Pangan.

Tayang:
Penulis: Firki Arisandi | Editor: Hasriyani Latif
TRIBUN-TIMUR.COM/FIRKI ARISANDI
Patung 3 pejuang di Jalan Sultan Hasanuddin, Kelurahan Bintarore, Kecamatan Ujung Bulu, Kabupaten Bulukumba, Sulsel. 

TRIBUNBULUKUMBA.COM, UJUNG BULU - Kabupaten Bulukumba adalah kabupaten yang berada di ujung paling selatan Provinsi Sulawesi Selatan (Sulsel).

Jaraknya sekitar 150 kilometer dari Ibukota Provinsi Sulsel, Makassar.

Bulukumba dikenal sebagai kabupaten pembuat perahu pinisi atau Butta Panrita Lopi.

Awalnya, Kabupaten Bulukumba bernama 'Bulukumupa' atau dalam bahasa Indonesia berarti 'masih gunung saya'.

Konon, Bulukumba adalah daerah rebutan Kerajaan Gowa dan Bone di masa lalu, atau perbatasan wilayah kedua kerajaan.

Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Bulukumba H Rijal, saat membacakan sejarah Kabupaten Bulukumba, pada perayaan HUT ke-60 Bulukumba, menyampaikan hal itu.

Histori penamaan ini pertama kali muncul pada abad ke 17 Masehi, ketika terjadi perang saudara antara Kerajaan Gowa dan Bone.

"Disitulah Raja Gowa dan Bone bertemu, mereka berunding secara damai dan menetapkan wilayah batas kerajaan masing-masing," jelasnya.

Bangkeng Buki' yang merupakan barisan lereng bukit dari Gunung Lompo Battang, di klaim olah Kerajaan Gowa sebagai batas wilayah kekuasaannya, mulai dari Kindang sampai wilayah bagian timur.

Namun, Kerajaan Bone bersikeras mempertahankan Bangkeng Buki', mulai dari bagian Barat hingga ke Selatan.

Berawal dari situlah tercetus dalam bahasa Bugis, kata Bulukumupa.

Yang kemudian pada tingkatan dialek tertentu mengalami perubahan proses bunyi menjadi Bulukumba.

Di kabupaten ini, juga terdapat beberapa patung yang dibangun sebagai pengingat akan sejarah.

Seperti salah satunya patung 3 pemuda tak bernama di Jalan Sultan Hasanuddin, Kelurahan Bintarore, Kecamatan Ujung Bulu.

Patung ini berada tepat di depan Masjid Islamic Center Dato Tiro (ICDT) Bulukumba atau di samping kantor Dinas Ketahanan Pangan.

Saksi sejarah pembangunan patung ini adalah Mantan Kepala Desa Bialo, Agusriadi Maula.

Saat itu, Agus masih menjadi mahasiswa Seni Rupa di Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan (IKIP) atau sekarang dikenal dengan nama Universitas Negeri Makassar (UNM).

Kala itu Agus tergabung dalam Ikatan Seni Rupa Selepassi Indonesia. Dan mendapat order pembuatan patung 'Pemberontak Bulukumba Angkatan Rakyat'

"Patung itu dibangun tahun 1986 dan selesai tahun 1987. Di masa kepemimpinan Bupati Bulukumba H Andi Kube Dauda. Saat itu kami diminta untuk membuat patung tiga sosok di lokasi tersebut," katanya.

Hanya satu karakter yang disodorkan oleh Andi Kube Dauda saat itu, yakni Andi Sulthan Daeng Radja.

Selebihnya, para seniman diminta untuk meluangkan kreativitasnya untuk membuat patung dengan karakter pejuang rakyat.

"Dua tokoh lainnya di patung itu adalah kreativitas kami. Jadi kami buat patung memwakili tiga ketokohan, pejuang dari rakyat yang memegang bambu runcing, pejuang rakyat yang lebih tinggi memakai pakaian seragam, dan kaum terpelajar yang diwakili oleh Andi Sulthan Dg Radja," jelasnya.

Andi Sulthan Dg Radja digambarkan membawa map, baju safari kantong empat, dan memakai kopiah.

Andi Sulthan Dg Radja memang dikenal sebagai sosok yang menyelesaikan perkara secara diplomatis.

"Jadi begitu kisahnya. Dan hampir seluruh kabupaten di Sulsel saat itu yang membuat monumen," pungkasnya. (*)

Laporan Wartawan Tribun Timur, Firki Arisandi

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved