Sejarah Hari ini: Kisah Pangeran Hidayatullah Pimpin Perang LawanHindia Belanda di Gunung Pamaton

Pada 19 Juni terjadi peristiwa yang begitu besar untuk Kalimantan Selatan. Kala itu, terjadi pertempuran di sebuah gunung di Kabupaten Banjar

Istimewa
Prasasti Gunung Pamaton yang di tandatangani Raja Muda Khairul Saleh 

TRIBUNTIMURWIKI.COM- Pada 19 Juni terjadi peristiwa yang begitu besar untuk Kalimantan Selatan. Kala itu, terjadi pertempuran di sebuah gunung di Kabupaten Banjar

Peristiwa tersebut dikenal dengan Pertempuran melawan pasukan Hindia Belanda di Gunung Pamaton yang dipimpin Pangeran Hidayatullah.

Pada saat itu ia yang diberi gelar Pangeran Hidayatullah adalah Gusti Andarun bergelar mangkubumi Pangeran Hidayatullah kemudian bergelar Sultan Hidajat Oellah Halil Illah (bin Pangeran Ratu Sultan Muda Abdurrahman), atau disebut juga Hidayatullah II (lahir di Martapura, 1822 – meninggal di Cianjur, Jawa Barat, 24 November 1904 pada umur 82 tahun) adalah salah seorang pemimpin Perang Banjar.

Berkat jasa-jasa kepada bangsa dan negara, pada tahun 1999 pemerintah Republik Indonesia telah menganugerahkan kepadanya Bintang Mahaputera Utama.[butuh rujukan]

Peristiwa Pertempuran

Dilansir dari wikipedia, 10 Desember 1860, Pangeran Hidayatullah melantik Gamar dengan gelar Tumenggung Cakra Yuda untuk mengadakan perang Sabil terhadap Belanda.

Dalam bulan Juni 1861 Sultan Hidayatullah berada di Gunung Pamaton (Kabupaten Banjar).

Rakyat Gunung Pamaton menyambut kedatangan Sultan Hidayatullah dan rakyat membuat benteng pertahanan sebagai usaha mencegah serangan Belanda yang akan menangkapnya.

Sementara itu Sultan Hidayatullah berunding dengan Mufti di Martapura. Perundingan pertama diadakan di Kalampayan dan yang kedua di kampung Dalam Pagar.

Dalam perundingan itu disepakati rencana akan melakukan serangan umum terhadap kota Martapura. Para penghulu dan alim ulama akan mengerahkan seluruh rakyat melakukan jihad perang sambil mengusir Belanda dari bumi Banjar.

Serangan umum ini direncanakan dilakukan pada tanggal 20 Juni 1861, tetapi rencana itu bocor ke tangan Belanda.

Oleh karena itu sebelum tanggal 20 Juni Belanda secara tiba-tiba menyerang benteng Gunung Pamaton tempat pertahanan Sultan Hidayatullah.

Serangan Belanda itu dapat digagalkan dengan banyak membawa korban di pihak Belanda.

Sementara itu di kampung Kiram, tidak jauh dari Gunung Pamaton dan di daerah Banyu Irang, Pambakal Intal dan pasukan Tumenggung Gumar telah berhasil menghancurkan kekuatan Kopral Neyeelie.

Halaman
12
  • Berita Populer
    Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved