Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Tribun Mamasa

Perjuangan Mahasiswi Mamasa Demi Kuliah Daring, Naik Turun Gunung Cari Sinyal

Anita harus menempuh perjalanan 20 km setiap pagi (pergi dan pulang), untuk mengikuti kuliah online di atas gunung.

Penulis: Semuel Mesakaraeng | Editor: Suryana Anas
Dok Pribadi
Anita mahasiswi STIE YPUP Makassar, asal Kabupaten Mamasa 

TRIBUNMAMASA.COM, NOSU - Demi mencegah penyebaran Covid-19, Pemerintah mengambil kebijakan untuk meliburkan seluruh aktivitas yang berpotensi menjadi mata rantai penyeberan Corona.

Di Indonesia, sejak wabah covid-19 mulai merebak, sekolah, perkantoran dan termasuk perkuliahan diliburkan sementara, hingga batas waktu yang belum ditentukan.

Agar tetap dapat melakukan aktivitas, beberapa kantor dan universitas melakukan pelayanan dan perkuliahan melalui daring.

Seperti yang dialami kebanyakan mahasiswa di Mamasa, Sulawesi Barat yang kuliah di Makassar, Sulawesi Selatan.

Lantaran kampusnya diliburkan, kebanyakan mahasiswa dan mahasiswi pulang kampung, sembari melakulan kuliah online.

Salah Satunya Anita (20) Mahasiswi STIE YPUP Makassar, Sulawesi Selatan warga Kecamatan Nosu, Kabupaten Mamasa, Sulbar.

Anak dari bapak Simon dan Ibu Sae ini tengah menjalani perkuliahan di pertengahan semester 4, Fakultas Ekonomi, Jurusan Manajemen.

Lantaran kampusnya diliburkan dan harus menjalani kuliah daring, Anita terpaksa naik dan turun gunung demi mengikuti perkuliahan secara online.

Namun minimnya pasilitas internet di tempat tinggalnya, memaksa Anita harus menempuh perjalanan 20 km setiap pagi (pergi dan pulang), untuk mengikuti kuliah online di atas gunung.

Anita berujar, jarak dari Desa Batu Papan Kecamatan Nosu tempat ia tinggal ke Pasapa' Pana', gunung tempat mencari jaringan internet sekitar 10 km.

Menurut Anita, hampir setiap hari di waktu pagi, belasan hingga puluhan mahasiswa dari berbagai desa di Nosu menjalani perkuliahan online di perbatasan Kecamatan Pana'na dan Nosu itu.

Agar terlindung dari terik mata hari dan derasnya hujan, mereka mendirikan pondok sementara.

Menjadi kendala bagi puluhan mahasiswa ini karena koneksi jaringan yang lambat, sehingga kadang tidak bisa terhubung dengan aplikasi kuliah online.

Ironisnya, jaringan yang digunakan bukan dari Kabuten Mamasa, melainkan dari Bitguanh, Kabupaten Tana Toraja yang berbatasan dengan Mamasa.

Diakui Anita, hal itu terpaksa ia lakukan untuk menggapai cita-cita jadi seorang serjana.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved