Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Interviewtual Ramadhan Tribun Timur Bersama Tuan Guru Bajang

Tribun-timur.com pada Minggu (3/5/2020) malam melakukan bincang-bincang dengan Tuan Guru Bajang.

Sayyid/tribun-timur.com
Muhammad Zainul Majdi atau Tuan Guru Bajang 

TRIBUN-TIMUR.COM, MAKASSAR - Muhammad Zainul Majdi atau yang akrab disapa Tuan Guru Bajang adalah politisi Indonesia.

Dia pernah menjabat sebagai Gubernur Nusa Tenggara Barat selama 2 periode.

Namanya pernah masuk dalam bursa Pilpres 2019, termasuk pada saat itu digadang-gadang untuk menjadi Cawapres RI berpasangan dengan Jokowi.

Namun belakangan, namanya jarang menghiasi pemberitaan media massa di Tanah Air.

Tribun-timur.com pada Minggu (3/5/2020) malam melakukan bincang-bincang dengan Tuan Guru Bajang.

Bincang-bincang edisi Ramadhan tribun-timur.com bersama dengan Tuan Guru Bajang itu digelar secara virtual.

Acara yang dipandu oleh Wakil Pemimpin Redaksi Nur Thamzil Thahir itu juga ditayangkan secara langsung melalui fanpage Tribun Timur di Facebook.

Berikut interviewtual edisi Ramadhan tribun-timur.com bersama dengan Tuan Guru Bajang:

Apakah ada tips di tengah Covid-19 ini untuk anak-anak yang ingin menjadi hafiz Alquran ?

Bagi remaja diperlukan kesadaran beda dengan anak-anak kecil.

Kalau anak-anak polanya atau metodenya lebih rilex.

Yang pertama bagi remaja dan dewasa yang ingin mengahafal Al quran perlu kesadaran.

Kesadaran itu diperlukan nawaitu atau niat yang kuat dalam menghafal Al quran dan mempunyai kehendak untuk menghapal.

Yang kedua menjaga konsistensi.

Konsisten dalam artian terutama mengulangi hafalan.

Hikmah Ramadhan dan di Covid-19 ini Tuan Guru sudah dua bulan berada di Lombok ?

Kami mohon doa, NTB sekarang provinsi peringkat menderita Covid-19 ke tujuh terbanyak di Indonesia.

Ini membuat kita merefleksi bahwa jika kita tidak mentaati imbauan pemerintah kita akan rugi bersama.

Sejak bulan maret masuk Ramadhan hikmahnya banyak.

Ada presepsi dengan adanya Covid kita ada kendala dalam hal ibadah.

Menurut saya tidak ada kendala, kita bisa lakukan ibadah di rumah seperti ibadah wajib dan salat tarwih.Esensinya tetap sama.

Kalau salat jumat kita bisa ganti dengan salat zuhur.

Sebenarnya Covid-19 ini tidak menyempitkan ibadah justru dampaknya lebih besar ke aspek ekonomi.

Rujukan Hukum atau sejarah Salat Ied di rumah bagaimana Tuan Guru?

Salat Ied dari sisi hukum kita semua sepakat hukumnya sunnah muakkadah, yang namanya sunna bukan wajib, artinya jika ada orang tidak melakukan salat Ied dia tidak berdosa hanya mereka kehilangan satu peluang kebaikan.

Bagaimana pelaksanaanya?

Pelaksanaanya para ulama sepakat jika tidak bisa dilaksanakan di Masjid atau Lapangan terbuka itu bisa dilaksanakan di rumah. Bahkan bisa dilakukan berjamaah di rumah ataupun melakukanya sendiri dan niat dan rukunya tetap sama.

Bedanya kalau tidak ada jamaah yaa tidak ada khutbah.

Misalnya Jika salat Ied berjamaah di rumah bersama keluarga lalu sang ayah itu tidak bisa khutbah tidak apa-apa, karena khutbah dalam salat Ied itu beda dengan salat Jumat, khutbah salat Jumat itu rukun kalau di salat Ied itu sunnah.

Apakah ada peluang nantinya kita lakukan salat Ied dengan virtual?

Kalau itu sih tidak boleh karena harus ada kehadiran, pengetahuan dan kebersamaan dalam satu majelis dengan seorang imam. Ada yang menghubungkan kita dengan imam secara nyata dan kita yakini.

Sebanyak 30 ribu alumni Al Azhar di Indonesia, Sejauh ini peran alumni itu peran-peran dalam hal apa saja?

Setau saya alumni berkiprah di segela bidang baik itu di rana bisnis, kultural, pendidikan, politik bahkan di bidang tertentu para alumni menjadi pioner.

Giat-giat apa kira-kira yang bisa ditempuh oleh pemerintah supaya sosial distancing dan physical distancing ini bisa merata agar Covid-19 bisa cepat teratasi?

Physical distansing atau jaga jarak itu sudah protap global untuk mengurangi penyebaran Covid-19.

Pertama masing- masing keluarga harus sadar diri dalam hal pencegahan Covid-19.

Kedua menangani wabah ini tergantung pada kesadaran kita semua.

Dengan kondisi sekarang apakah orang yang beribadah di masjid mendapatkan pahala lebih dibanding orang yang salat di rumah ?

Dalam beragama kita harus memahami, dan yang paling baik kita mengikuti ulama yang lebih mengetahui tentang agama.

Salat jamaah itu sunnah muakkadah, dalam artian dia bukan pokok agama, pokok agama itu salatnya bukan berjamaahnya.
Dengan adanya wabah ini salat jamaah di masjid kita bisa ganti berjamah di rumah untuk memutus penyebaran Covid-19 ini.

Sumber: Tribun Timur
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved