Opini: Abusive Relationship dan Efeknya pada Produktivitas Perempuan, Laki-Laki, Efeknya pada Anak
Abusive Relationship (Kekekerasan Dalam Hubungan) sangat berpengaruh pada produktivitas perempuan dan laki-laki.
Penulis: Dian Aditya Ning Lestari
Abusive Relationship (Kekekerasan Dalam Hubungan) sangat berpengaruh pada produktivitas perempuan dan laki-laki.
Perempuan atau laki-laki yang terjebak dalam abusive relationship (atau kekerasan dalam hubungan) bisa mengalami penurunan dalam produktivitasnya karena terjebak dengan apa yang di sebut Coercive Control (Kontrol Koersif).
Coercive Control adalah paksaan untuk berada dalam situasi yang tidak mengenakkan bagi perempuan ataupun laki-laki walaupun mereka ingin keluar.
Perempuan atau laki-laki dalam kondisi kekerasan tidak bisa keluar, seperti roda, ia berusaha keluar tapi tidak di mungkinkan oleh laki-laki. Perempuan dalam situasi abuse biasanya bertemu dengan laki-laki yang tidak bisa menjadi tulang punggung keluarga atau memukul, atau meludah.
Utamanya sebagai feminis, perempuan harus mengadvokasi sesamanya untuk keluar dari abusive relationship. Sering kali, jika dalam abusive relationship.
Perempuan bertugas sebagai tulang punggung keluarga, laki-laki bergantung total pada perempuan dan tidak membantu di rumah untuk mengurusi tugas rumah tangga atau anak. Jika ada anak, anak tersebut tidak diurus oleh laki-laki, sehingga perempuan terjebak dengan apa yang disebut triple responsibility (atau tanggung jawab tiga kali), yakni untuk bekerja, mengurus rumah tangga, dan mengurus anak.
Perempuan mampu melakukan dua tanggung jawab, tapi tidak tiga. Seringkali perempuan tersebut harus lari ke rumah aman atau safe house.
Abusive relationship tidak pernah mulai sebagai kekerasan atau kekasaran sebagaimana mereka mengakhir (memukul, meludah, berkata-kata kasar). Mereka mulai dengan sangat sunyi atau silent sehingga perempuan sulit sekali keluar.
Awalnya laki-laki tersebut hanya mencaci-maki, berakhir dengan memukul. Situasi abuse seringkali mensegregasi perempuan dari situasi pekerjaan yang produktif dan bisa memberikan keuangan bagi keluarga.
Mereka menghina dan mencaci maki perempuan demi mengambil kepercayaan diri agar dapat mengambil kontrol. Kontrol ini agar mereka bisa menguasai perempuan secara mental, fisik, dan emosional. Seringkali, mereka bersikap seperti “king of the castle.”
Mereka bertindak seenaknya dan tidak mengurus anak maupun rumah tangga. Laki-laki dalam situasi abusive percaya pada misoginisme atau kebencian terhadap perempuan. Mereka percaya perempuan harus berada di bawah laki-laki atau berada pada posisi yang lebih tidak signifikan.
Bahkan dalam rumah tangga, perempuan harus berada di bawah. Ini menimbulkan situasi tidak nyaman di rumah tangga bahkan abuse. Di dunia ini ada perempuan yang ingin berkarir ada yang ingin menjadi ibu rumah tangga.
Kita tidak bisa menyalahkan, dua-dua memiliki nilai yang sama di bagi seorang feminis. Seorang feminis bukan pembenci laki-laki melainkan memperjuangkan kesamaan hak perempuan dan laki-laki. Feminis tidak membeda-bedakan, perempuan karir dan ibu rumah tangga, laki-laki, anak, sama nilainya.
Jika ada yang membedakan maka ia bukan merupakan seorang feminis atau feminis palsu. Feminis mengadvokasi stay-at-home mom atau professional.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/ilustrasi-kdrt-kekerasan-terhadap-wanita.jpg)