Buka-bukaan Sapar Pemuda Berdarah Bugis Loloskan 2 Istri di DPRD, Kaitan dengan Prabowo Subianto
Buka-bukaan Sapar pemuda berdarah Bugis loloskan 2 istri sekaligus di DPRD provinsi, hubungan dengan Prabowo Subianto.
Penulis: Thamzil Thahir | Editor: Edi Sumardi
Laporan jurnalis Tribun Timur, Thamzil Thahir
TRIBUN-TIMUR.COM - Buka-bukaan Sapar pemuda berdarah Bugis loloskan 2 istri sekaligus di DPRD provinsi, hubungan dengan Prabowo Subianto.
Sapar adalah pemuda putus sekolah, namun istrinya punya mendidikan tinggi.
Dia pemimpin Ormas, sedangkan sang istri penyelenggara negara.
Hanya ikut ujian Evaluasi Belajar Tahap Akhir atau Ebtanas (sekarang Ujian Nasional) level SMP di Batam, Kepulauan Riau ( Kepri ) tahun 1985 atau 35 tahun silam, Saparuddin Muda (51), mengaku tahu diri.
"Alhamdulillah, dengan ilmu yang sedikit itu saya tahu adab dan akhlak. Itulah kenapa saya selalu silaturahim ke rumah guru-guru saya," kata suami dari 2 anggota DPRD Provinsi Kepri ini.
Di Indonesia, memiliki kerabat, sahabat, dan kenalan dekat menjadi anggota parlemen adalah soal lazim.
Sama lazim dan tidak terlarangnya memiliki 2, 3 atau 4 istri, heheh!
Namun, memiliki 2 istri dan sama-sama terpilih menjadi anggota parlemen level provinsi itu yang tak biasa.
Dan sosok tak biasa itu adalah Saparuddin Muda.
Pria berdarah Melayu-Bugis ini lahir, besar, dan menyabung hidup di Pulau Batam, Kepri.
Ia adalah pendiri Persatuan Pemuda Tempatan ( Perpat ) Kepulauan Riau.
September 2019 lalu, Organisasi Kemasyarakatan (Ormas) berakta notaris ini sudah berusia 19 tahun.
Meski tenar, Saparuddin Muda mengaku dari orang biasa.
Baginya, menjadi suami dari 2 wanita anggota DPRD provinsi, juga bukan hal luar biasa.
"Kalau biasa di luar itu betul. Neh, saya masih di luar, padahal orang rumah (istri) telepon terus," katanya berkelakar kepada Tribun Batam di sebuah kedai kopi di kawasan Bengkong SPBU, Batam, Ahad atau Minggu (8/3/2020) malam.
Pertemuan ini tanpa kencan.
Kebetulan sahaja.
Cerita ayah 4 anak, seorang cucu, dan 7 anak angkat ini dimulai saat dia tengah menanti kedatangan Penasihat Perpat Kecamatan Bengkong.
"Kenalkan ini Opung, Bataknya dia. Kini Perpat bukan untuk anak Melayu saja. Kita sudah nasionalis. Sudah Indonesia. Perpat tak lihat latar belakang agama, suku, atau ras lagi," katanya usai memperkenalkan pria paruh bayah bermarga Sitorus, dari Sumatera Utara ini.
Saparuddin Muda enggan bercerita banyak tentang kiprah politik 2 istrinya.
Tak cuma sekota (Batam), sepagar (di Bengkong), sesuami (Sapar), dan separlemen (DPRD provinsi), kedua istri Saparuddin ini juga separtai.
Keduanya kader dan fungsionaris Partai Gerindra, partai yang dipimpin Letjen (Purn) Prabowo Subianto Djojohadikusumo.
Yang membedakan, istri pertama terpilih dari daerah pemilihan IV (Sagulung) Kota Batam, dan yang kedua dari Daerah Pemilihan VI (Belakangpadang dan Sekupang).
Sayangnya, istri pertama, pada pelantikan legislator DPRD Kepri Oktober 2019 lalu, gagal dilantik sebab kalah gugatan di MK, dengan selisih 10 suara dengan Nyangnyang H Pratamura.
“Soal itu punya cerita lainlah. Saya profesional,” katanya soal sengketa suara yang diputus di mahkamah peradilan di ibukota.
Saparuddin Muda atau akrab disapa Sapar punya sapaan sayang untuk istri pertamanya.
"Kak Asnah (nama istri pertama) itu Melayu. Keluarga besarnya dari Pulau Rempang dan Galang dan Cate. Pak Prabowo sangat sayang sekali. Dianya selalu dapat penghargaan partai dianya,” ujar Sapar mengenalkan istri yang selisih sekitar 5 tahun dengannya.
Istri muda Saparuddin bernama Ririn Warsiti (34 tahun).
Sebelum menerima lamaran Saparuddi Muda, Ririn adalah bankir di Bank Mandiri di Jawa Barat.
Konon, Sapar ‘meminangnya’ di lapangan bola voli.
Karena dari Jawa Timur, Sapar menyapa wanita kelahiran Kediri 10 Mei 1984 ini dengan “Jeng.”
“Ulang tahun, kami hanya selisih 3 hari, saya dulu baru Jeng Ririn.”
Jeng Ririn, penyandang gelar magister manajemen itu juga sudah 2 periode duduk di parlemen provinsi dari Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra).
Pada Pemilu 2014 lalu, Ririn Warsiti meraih 3.600 suara.
Sedangkan di Pemilu 2019 lalu, kursinya seharga 5.629 (36,3%) dari 15.488 suara partai di daerah pemilihannya.
Karena mendudukkan 2 istri di parlemen sekaligus, seorang kerabatnya dari Tanah Bugis pun berkelakar.
“Jadi, kalau ada perempuan manis yang mau duduk di DPRD, yang kawinlah sama Daeng Sapar."
Saat kelakar kerabatnya itu dikonfirmasi, Sapar tertawa di level terbahak dan berseloroh; “Kalau dulu saya mencari, sekarang saya dicarilah kalau begitu.”
Selain mendudukan istri di parlemen, Sapar juga punya 2 saudara di parlemen kota.
Ada dari Partai Golkar dan ada pula dari Partai Hanura.
Bahkan, dari 25 kader Perpat di Kepri yang ikut Pemilu legislatif April 2019 lalu, ada 16 kader dilantik sebagai anggota DPRD di 5 kabupaten/kota di Kepri, dan DPRD provinsi.
“Kalau yang jadi kepala daerah sudah lebih 4 kader. Bahkan yang di Bintan mau bertarung di Pilkada ini, hahaha,” ujar Saparuddin Muda.
Sapar mengaku, sejak tahun 1999 banyak elite Jakarta yang menawarinya jadi caleg, DPR RI.
Tapi karena niat memang tak ada, tawaran itu dialihkan kepada kader Perpat yang lain.
Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto Gerindra, mantan Ketua Umum PKPI Hendropriyono, mantan Ketua Umum Partai Hanura Wiranto, hingga elite Partai Demokrat dan PDIP pernah menawarinya.
"Ya saya jawab, kalau ada niat dari dulu. Saya ini biar di luar lapangan saja. Insyallah sampai mati saya tak nyaleg, juga tak maju kepala daerah," katanya.
Dia menepis dia tak ikut kontestasi politik, karena tak memenuhi syarat formil pendidikan minimum, SMA.
"Sudah banyak yang tawari saya untuk buat ijazah SMA, ikut ujian paketlah, apalah. Tapi saya jawab, kalaulah nanti urus paspor, sudah pakai ijazah SMP, saya baru mau. Kan masuk Singapura cukup setor paspor," ujar Sapar yang pernah jadi karyawan Koperasi TNI AL itu.
Sapar bersyukur akses, rezeki, kenalan yang dia peroleh saat ini, tidak dia peroleh dengan ijazah.
"Di luar itu, yang dibutuhkan adalah adab, jujur, satu kata satu perbuatan satu, bukan ijazah," ujar pria peraih gelar Putra Kelana Jaya dari Lembaga Adat Melayu (LAM) ini.
Perihal gelarnya, Sapar berkomentar, “Kalau di kerajaan Melayu dulu ada panglima perang berjuluk Kelana Jaya Putra Bersuadara, jaya dulu baru berkelana. Kalau saya berkelana dulu baru jaya.”
Belakangan, gelar adat ini dia pilih jadi nama perusahaan developer yang mengelola kompleks perumahan di kawasan Bengkong Sadai.
Memang, sebelum mendirikan Perpat bersama 2 saudaranya, tahun 1998 lalu, Sapar sempat berkelana di gugus kepulauan Riau dan pesisir Sumatera.
Setelah tak dapat ijazah SMP, Sapar memang berkelana.
Dia ikut perahu ke Siak, Pulau Kijang, Tembilahan, Jambi, Tanjung Buton, Johor, bahkan sampai di Singapura.
“Tahun 1996 itu, sebelum Reformasi, malam Lebaran saya pulang. Pakai sandal jepit, dan baju kumal turun dari kapal. Karena malam Lebaran, ibu saya beri uang pergi beli sepasang baju Lebaran di Jodoh,” katanya mengenang.
Sapar mengaku tak tamat SMP.
Di awal dekade 1980-an, dia sempat diskors dan terancam dikeluarkan dari SMP Ibnu Sina, Baloi.
Alasannya, klise.
Sapar "biang tengkar".
Dia pun bercerita soal wali kelasnya bernama Muslim Bidin.
Kala itu, Muslim jadi guru keterampilan mengetik. Sapar diberi tugas.
"Mesinnya 2 kali sangkut. Saya angkat telunjuk mesinnya rusak. Diperbaikinya. Baru 2 ketik, rusak lagi. Saya unjuk jari lagi. Eh, malah saya dimarahi. Pak Bidin tarik tangan saya ke bawah bangku, mesin saya lempar. Ada teman kelas yang bela guru, sekarang anggota DPRD Batam, saya tantang kelahi dari atas bangku.”
Insiden mesin tik itu, justru mempertemukan dia dengan Ketua Yayasan Haji Puang Ibrahim, yang kebetulan sahabat almarhum ayahnya, Haji Muda Daeng Maggassing, nah jadi keputusan diskors justru berbalik.
"Yang diskors justru wali kelas saya sama Puang Ibrahim. hahaha.”
Belakangan, Muslim Bidin justru termasuk sosok tokoh Melayu Batam yang jadi kepala dinas pendidikan.
"Jadi kadis di era Pak Ahmad Dahlan, dan zaman Bang Rudi."
Bahkan, meski tak tamat SMP, Sapar tak menyimpan kesumat.
Dia selalu meluangkan waktu bersilaturahim dengan guru-gurunya.
Baginya guru yang mengajari ilmu itu adalah takdir. Seperti bapak, ibu, anak, atau saudara, tak ada itu, mantan guru. (thamzil thahir)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/asnah-saparuddin-muda-ririn-warsiti-kiri-ke-kanan.jpg)