Citizen Reporter dari Amerika Serikat
Amerika Serikat, Polisi Dunia atau Pelobi Ulung? Kejadian di Washington DC ini Salah Satu Buktinya
Ia menyambut kami dengan mengatakan, “Selamat datang di Washington DC, Kota industri lobi!”. Mungkin inilah salah satu jawaban dari pertanyaan saya!
Syamsari Kitta
Bupati Takalar/Peserta International Visitor Leadership Program (IVLP)
Melaporkan dari Washington DC
TRIBUN-TIMUR.COM, WASHINGTON - Stereotip Amerika Serikat yang dikenal di Indonesia dengan sebutan ‘polisi dunia’ itu seharusnya bisa tercermin dalam kehidupan sehari-hari di ibu kota AS: Washington DC.
Misalnya, ibu kota negara adidaya ini penuh dengan aparat, tentara dan polisi yang menjaga super ketat setiap sudut kota. Apalagi, Washington DC tak sepadat dan seluas Jakarta, sehingga relatif mudah menyebar aparat untuk bersiap siaga. Seharusnya, itu gambaran dari sebutan ‘polisi dunia’ tersebut.
Tapi setelah berkeliling kota, dari kantor ke kantor, dari ruang rapat satu ke lainnya, mengunjungi narasumber untuk menimba ilmu dan pengalaman terbaik mereka, serta berdiskusi dengan para pakar tentang good governance, saya menyaksikan sendiri tak banyak polisi apalagi tentara yang berjaga di Washington DC.
Hal yang saya lihat malah sebaliknya: masyarakat sipil yang lalu lalang di jalan-jalan, di angkutan umum, fasilitas publik, mal, restoran hingga di belasan museum yang berjejer di sekitar National Mall.
Bahkan, hanya Gedung Putih yang memiliki pagar. Adapun Capitol Hill, tempat berkumpulnya para anggota Kongres dan Senat, serta Kementerian Luar Negeri AS yang kami datangi kemarin pun tak berpagar, hanya polisi dan pihak pengamanan berjumlah tak lebih dari 10 orang.
Tentu wajar jika kita menimbang betapa banyak peluang yang bisa membuat kota ini bergejolak dan karenanya perlu ada penjagaan ketat.
Saya berpikir, kira-kira apakah rahasia kedigdayaan politik AS? Apakah karena kecanggihan sistem keamanan dan kekuatan militernya?
Pertanyaan saya mulai terjawab ketika pendamping program International Visitor Leadership Program (IVLP) menyambut kami kemarin di Bandara Internasional Dulles.
Ia menyambut kami dengan mengatakan, “Selamat datang di Washington DC, Kota industri lobi!”. Mungkin inilah salah satu jawaban dari pertanyaan saya!
Washington DC telah menjadi laboratorium para pelobi untuk memainkan jurus-jurusnya, untuk menggolkan tujuannya dan dengan kelihaian dalam melobi itulah, AS menjadi dominan dalam percaturan dunia.
Itu terlihat dalam aktivitas sehari-hari warga Washington DC. Di berbagai tempat, mereka melakukan pertemuan untuk mengupas suatu hal, mencari titik masalah dan mendiskusikan pemecahannya, kemudian menentukan cara mengimplementasikan hingga bagaimana menyampaikan ide tersebut kepada publik agar mendapat dukungan.
Kira-kira, itulah aktivitas yang mewakili kata ‘good governance’ dalam mengelola isu, dan semua itu harus diikuti oleh kemampuan lobi.
Lobi adalah antitesis dari pemaksaan. Ia bukanlah penegakan hukum (law enforcement). Ia adalah kemampuan persuasif, membangun narasi, ide, gagasan, kecerdasan, kelihaian, kemampuan membangun relasi dan kemampuan memainkan peran.
Kemampuan dalam ilmu ‘lobi’ inilah yang menjadikan AS sebagai negara adidaya saat ini. Kemampuan ini tidak lahir begitu saja, tetapi ia dibangun secara sistemik dan terintegrasi ke dalam sistem pendidikan nasional AS.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/syamsari-kitta-amerika-serikat-0702020.jpg)