Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Tanah Amblas di Maros

VIDEO: Terus Melebar, Intip Kondisi Terkini Lubang Raksasa di Cenrana Maros

Lubang raksasa tersebut berada di Dusun Tana Takko, Desa Lebbo Tengae, Kecamatan Cenrana, Maros.

Penulis: Amiruddin | Editor: Ansar

Jarak lokasi munculnya lubang dengan pusat kota Maros, sekitar 40 km.

Dapat ditempuh sekitar 1 jam 15 menit, menggunakan roda dua atau empat.

3. Awal Mula dan Kesaksikan Warga

Saksi mata, Mappiare' (40), mengatakan tanah amblas tersebut terjadi sekitar pukul 09.00 Wita pagi tadi.

Awalnya kata dia, terdengar suara gemuruh, disusul asap yang membumbung tinggi.

"Saya berada di sawah bersama rekan lainnya, tiba-tiba ada suara gemuruh, makanya saya langsung lihat ke lokasi," kata Mappiare', kepada tribun-maros.com, di lokasi kejadian

Saat tiba di sawah tersebut, Mappiare' mengaku mendapati sudah terdapat lubang.

Lubang tersebut diperkirakan berdiameter sekitar 50 cm.

"Memang awalnya berukuran kecil, tetapi lama kelamaan terus melebar," ujarnya.

Hingga saat ini, tanah amblas tersebut sudah berdiameter sekitar 10 meter lebih.

Mappiare' menambahkan, fenomena tanah amblas itu masih jadi misteri.

Pasalnya kata dia, tanah amblas itu baru pertama kalinya terjadi di Cenrana Maros.

"Kita tidak tahu juga ini apa penyebabnya. Saat kejadian tadi awalnya tidak ada air, karena memang tidak ada hujan," tuturnya.

4. Sudah Dipasang Garis Polisi

Sementara itu, Kapolsek Camba, AKP Haedar, mengatakan pihaknya telah memasang police line atau garis polisi di lokasi tersebut.

Tujuannya kata dia, untuk mengindari hal-hal yang tidak diinginkan.

"Suara gemuruh masih terdengar, dan tanah amblas masih terus terjadi. Kami imbau warga tidak mendekat ke lokasi tanah amblas itu," ujar Haedar.

Pantauan tribun-maros.com, warga yang penasaran terus berdatangan ke lokasi tanah amblas tersebut.

Sekadar diketahui, lokasi tanah yang amblas itu berjarak sekitar 40 km dari pusat kota Maros.

Dapat ditempuh sekitar 1 jam 15 menit menggunakan roda dua atau empat.

5. Benarkah Bekas Sungai Purba

Police line atau garis polisi terpasang di lokasi tanah amblas di Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan (Sulsel), Senin (23/12/2019).

Tepatnya di Dusun Tana Takko, Desa Lebbo Tengae, Kecamatan Cenrana, Maros.

Garis polisi tersebut dipasang oleh personel Polsek Camba, Maros.

Wilayah hukum Polsek Camba memang dua kecamatan, yakni Camba dan Cenrana.

Kapolsek Camba, AKP Haedar, mengatakan police line dipasang, agar warga tidak mendekat ke lokasi tanah amblas itu.

Apalagi hingga petang ini, suara gemuruh dari dasar lubang terus terdengar.

"Tanah juga terus amblas dan semakin lebar. Makanya kami minta warga tidak mendekat," kata Haedar, kepada tribun-maros.com, di lokasi sekitar amblasnya tanah tersebut.

Haedar menambahkan, hingga saat ini belum diketahui pasti penyebab amblasnya tanah di sawah milik warga bernama Haji Juma itu.

Ahli geologi ataupun pihak terkait lainnya belum mendatangi lokasi kejadian.

Polsek Camba kata dia, baru berkoordinasi dengan kepala desa setempat.

"Kita masih menunggu hasil penelitian, untuk mengetahui penyebab pastinya," ujarnya.

Tetapi kata dia, diduga lokasi amblasnya tanah tersebut merupakan bagian bekas sungai purba.

Pasalnya, struktur tanah yang amblas memiliki kemiripan dengan tanah yang ada di sungai.

Sungai yang dimaksud, letaknya sekitar 500 meter dari tanah yang amblas.

Terdapat pula batu, yang mirip dengan di sungai.

"Kalau hujan menguyur, kemungkinan masih bisa melebar. Apalagi hingga saat ini tanahnya terus longsor," tuturnya.

6. Perbedaan Tanah Amblas, Likuefaksi dan Sinkhole

Tanah Amblas

Fenomena tanah amblas seperti yang terjadi di Maros Sulawesi Selatan bisa terjadi karena beberapa faktor, teman-teman.

Faktor tersebut bisa berupa faktor alam atau faktor kegiatan manusia di permukaan Bumi.

Faktor alam yang menyebabkan tanah amblas bisa berbagai macam, seperti hujan yang turun deras atau terus menerus, getaran, batuan yang kurang padat, atau erosi.

 Bukan Jokowi, Prabowo, Luna Maya Tapi Nadiem Makarim, Syahrini Reino Barack Paling Dicari di Google

 Inilah Sosok Sibarani Sofian Dipilih Jokowi Pemenang Desain Ibu Kota Negara, Begini Tampilannya

Sedangkan kegiatan manusia yang bisa menyebabkan tanah amblas contohnya adalah penggunaan air yang berlebihan, beban berat, timbunan tanah, dan juga daerah tersebut menjadi daerah buangan sampah.

Berbagai faktor tadi menyebabkan tanah kehilangan kekuatannya dan kemudian amblas dan menyebabkan lubang.

Demikian penjelasan dilansir dari Majalah Bobo.

Sinkhole

Sinkhole termasuk dalam salah satu fenomena tanah amblas, teman-teman.

Bedanya, sinkhole adalah lubang di tanah yang muncul akibat adanya air yang terkumpul dan tidak bisa keluar karena tidak ada penyaluran air untuk keluar.

Selain itu, sinkhole juga bisa terjadi karena adanya pengikisan tanah atau erosi batuan kapur yang larut karena air, asam, atau air laut.

Fenomena sinkhole banyak terjadi di daerah dengan batuan kapur, daerah drainase air, bahkan bisa terjadi di daerah kering juga, lo.

Hampir sama seperti tanah amblas, sinkhole juga bisa diperparah dengan adanya aktivitas manusia di permukaan bumi, nih, teman-teman.

Likuefaksi

Fenomena tanah bergerak lainnya adalah likuefaksi, yang beberapa terjadi setelah gempa melanda Kota Palu bulan September lalu.

Meskipun termasuk fenomena tanah begerak, fenomena likuefaksi biasanya disebabkan oleh getaran seperti gempa bumi, teman-teman.

Likuefaksi disebut juga dengan pencairan tanah dan terjadi ketika tanah kehilangan kekuatan dan kekakuan secara mendadak.

Akibatnya, tanah akan berubah dari padat menjadi cair dan amblas, sehingga menyebabkan bangunan atau benda-benda di permukaan roboh atau terseret tanah yang mencair tadi.

Fenomena likuefaksi ini diumpakan seperti kita mengaduk bubuk dengan air yang membuatnya menyatu dan menjadi cairan.

Likuefaksi ini biasa terjadi di daerah berpasir, jenuh, dan longgar atau memiliki kepadatan yang rendah dan berongga.

Nah, saat ada gempa bumi, getaran tersebut menyebabkan air di dalam tanah mengisi rongga dari pasir tadi, dan membuat pasir larut bersama air.

Simak video di bawah:

7. Penjelasan Pakar Unhas Makassar

Fenomena tanah amblas di Maros ini rupanya memantik perhatian pakar.

Salah satunya Kepala Pusat Studi Kebencanaan Universitas Hasanuddin (Unhas) Adi Maulana.

Melelalui pesan WhtasApp-nya yang beredar di kalangan wartawan, Andi Maulana menjelaskan, kemunculan lubang besar akibat tanah amblas itu disebut dengan istilah geologi sinkhole diartikan sebagai lubang runtuhan dipermukaan atau depresi yang terbentuk secara alami yang muncul akibat hilangnya lapisan tanah atau batuan permukaan akibat aliran air di bawah tanah.

“Setelah saya perhatikan, dan coba untuk mencari tahu letak secara geografis dan astronomis, saya berkesimpulan bahwa yang terjadi adalah fenomena sinkhole. Dalam istilah geologi sinkhole,” jelasnya.

Lebih jauh ia menjelaskan, bahwa lokasi tempat kejadian disusun oleh formasi batuan Tonasa, yang merupakan batuan karbonat dengan umur Eosen sampai dengan Miosen. Formasi ini sama dengan yang membentuk kawasan karst Bantimurung yang memanjang sampai dengan Pangkep.

Seiring dengan waktu, dibeberapa tempat yang mempunyai topografi landai akibat erosi permukaan (seperti yang terjadi di video), formasi ini ditutupi oleh material alluvial sampai dengan ketebalan hingga 3-5 meter. Dapat dilihat dengan jelas material-material lepas aluvial di dinding tanah bagian dalam yang longsor.

“Daerah yang disusun oleh batuan karbonat atau batugamping akan mempunyai topografi permukaan yang khas, yang kemudian dikenal dengan istilah karst, yaitu kawasan yang membentuk morfologi atau bentang alam khas akibat pelarutan material karbonat oleh air huja,” tulisnya.

Material karbonat yang bersifat basa, lanjut Maulana, akan bereaksi dengan air hujan dan air permukaan yang bersifat asam. Proses pelarutan ini menghasilkan permukaan yang menyerupai tower-tower, bergantung dari sifat fisik dan kimia dari batuannya, tower-tower bisa berbentuk bulat dan ada juga yang berbentuk seperti kotak-kotak.

Di bawah permukaan, daerah-daerah ini akan membentuk saluran-saluran yang kemudian akan dipenuhi oleh air permukaan dan menjadi saluran air bawah tanah atau sungai-sungai bawah tanah. Saluran inilah yang kemudian akan terus membesar dan pada titik tertentu akan mengurangi kekuatan atau daya dukung tanah.

“Akibat adanya tekanan, air yang berasal dari bahwa tanah tertekan naik ke atas permukaan, mendekati permukaan tanah. Fenomena yang terjadi di Maros sebenarnya sangat umum terjadi terutama di daerah yang disusun oleh batuangamping atau batuan karbonat,” lanjutnya.

Di Sulawesi Selatan sendiri, kata Maulana, batuan jenis ini dimasukkan ke dalam kelompok batuan yang diberi nama dengan Formasi Tonasa, Formasi Makale dan Walanae anggota Taccipi dan Selayar.

Formasi Tonasa digunakan untuk menerangkan batuan yang dijumpai di wilayah Maros, Pangkep, Barru dan Jeneponto, Formasi Makale digunakan untuk menjelaskan penyebaran batuan karbonat yang ada di wilayah utara seperti di Enrekang dan Toraja serta Toraja Utara.

“Formasi Walanae digunakan untuk batuan karbonat yang tersebar di daerah Bone, Sinjai, Bulukumba dan Selayar.

Untuk keperluan mitigasi, perlu dilakukan pemetaan pada daerah-daerah ini, terutama lokasi-lokasi dimana ditemukan adanya retakan-retakan dipermukaan yang disertai munculnya air,” jelasnya.

Pesatnya pertumbuhan penduduk dan massif pembanguan infrastruktur seperti pembangunan jalan dan lainnya yang membutuhkan lahan luas menyebabkan fenomena ini akan sering terjadi dimasa yang akan datang. Kondisi lahan-lahan yang berada diatas batugamping yang telah mengalami retakan-retakan yang disertai dengan longsoran kecil maupun keluarnya air harus segera dipetakan sebagai upaya mitigasi.

“Semoga fenomena ini bisa di deteksi sedini mungkin, sehingga tidak sampai menyebabkan korban jiwa maupun infrastruktur,” kata dosen Unhas ini.(*)

Laporan Wartawan Tribun Timur, @amir_eksepsi

Langganan berita pilihan tribun-timur.com di WhatsApp
Klik > http://bit.ly/whatsapptribuntimur

Follow akun instagram Tribun Timur:

Silakan Subscribe Youtube Tribun Timur:

Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

Berita Populer

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved