Ini Memoriam Sulastomo

Terungkap Setelah Mantan Ketua Umum PBHMI Meninggal Dunia, HMI vs PKI & HMI vs PKI, Juga Dana Abadi

Senior KAHMI Sulsel menyebar tulisan in memoriam Sulastomo di Group WhatsApp.

Terungkap Setelah Mantan Ketua Umum PBHMI Meninggal Dunia, HMI vs PKI & HMI vs PKI, Juga Dana Abadi
TRIBUN TIMUR/SANOVRA JR
Alumni HMI yang tergabung dalam panitia pelaksana Perekat Silaturahmi (Kahmi) berfoto bersama usai menggelar rapat di Sekretariat Cabang HMI Makassar jl Bontolempangan, Makassar, Rabu (27/8/2014). 

Pak Tom – panggilan akrab Dr Sulastomo MPH yang wafat Jumat siang (13/12/019)  dalam usia 80 tahun – adalah tokoh Islam yang semasa mudanya hidup dalam “nafas tambahan” akibat tekanan, manuver, dan fitnah PKI. Sebagai Ketua Umum PB HMI antara tahun 1963-1966 – kita bisa membayangkan, betapa sulitnya mempertahankan eksistensi organisasi mahasiswa Islam yang amat dibenci PKI itu. Dalam berbagai pawai akbarnya, baik di Jakarta maupun di kota-kota besar lain, PKI selalu mengumandangkan: Bubarkan HMI!  Bubarkan HMI!

Saat itu, Bung Karno sangat dekat dengan PKI.  Hampir setiap tuntutan PKI, diterima Bung Karno. Organisasi mahasiswa yang berafiliasi dengan PKI – CGMI (Consentrasi Gerakan Mahasiswa Indonesia) jadi anak  emas Bung Karno. Celakanya “si anak emas” itu merengek-rengek kepada Bung Karno agar membubarkan HMI.

Sulastomo tahu, bagaimana kebencian PKI terhadap HMI. Mahasiswa Fakultas Kedokteran UI tersebut -- kata KH Amidhan, teman dekat Sulastomo di HMI – nyaris tak pernah tidur di saat-saat kritis menjelang meletusnya Gestapu. Amidhan mengaku pernah diajak Sulastomo menemui tokoh-tokoh Islam dan militer anti-PKI di tengah situasi yang mencekam di Jakarta beberapa hari setelah meletus peristiwa G30S PKI.

Dalam kegilasahannya melihat kebencian PKI terhadap HMI, Tom, kata Amidhan, punya strategi jitu. Untuk mencegah Bung Karno membubarkan HMI, Tom muda menjalin persahabatan dengan KH Saifudin Zuhri  (Menteri Agama saat itu) dan Dr Subandrio(orang kepercayaan Bung Karno, Ketua Badan Pusat Intelejen atau BPI). Tom tahu, dua tokoh itu dekat sekali dengan Bung Karno.

Konon, saat itu, tak ada yang ditakuti Bung Karno – termasuk Amerika sekali pun – kecuali tokoh-tokoh NU. 

Tanpa dukungan NU, Bung Karno  tak berani melangkah. NU yang memberikan gelar “waliyul amri  dharuri bis-syaukah (pemegang kekuasaan negara darurat) kepada Bung Karno, menjadikan Sang Pemimpin Besar Revolusi makin “terikat” dengan jebakan politik Nahdhiyyin. Sedangkan Dr. Subandrio, adalah orang kepercayaan Bung Karno yang telah teruji kesetiaannya.

Bung Karno sangat mempercayai Dr. Subandrio, sehingga mengangkatnya sebagai ketua BPI yang membawahi seluruh jaringan intelejen baik di sipil maupun militer.

Sulastomo muda yang cerdik, sengaja mempererat silaturahmi dengan dua tokoh itu. 

Ketika yel-yek PKI “Bubarkan HMI” makin membahana, Tom muda mohon kepada kedua beliau   agar mempengaruhi Bung Karno untuk tidak memenuhi permintaan PKI. Ketika PKI mendesak Bung karno agar membubarkan HMI, Subandrio benar-benar memenuhi permintaan Tom muda. 

Subandriomenyarankan Bung Karno agar tidak membubarkan HMI. Alasannya, nanti umat Islam marah. Sedangkan Saifuddin Zuhri – tokoh NU yang saat itu jadi Menteri Agama – berani menantang Bung Karno.

Halaman
1234
Editor: AS Kambie
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved