Otoritas Jasa Keuangan
BEI Ajak Warga Investasi di Pasar Modal, Saham Mulai Rp 50 Per Lembar
Workshop menghadirkan tiga narasumber yakni VP Business Development RHB Sekuritas Berlian Juveny Naryanto.
Penulis: Fahrizal Syam | Editor: Ansar
TRIBUN-TIMUR.COM, MAKASSAR - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Regional 6 Sulawesi, Maluku, dan Papua, menggelar Workshop Wartawan bertema market update pasar modal.
Berlangsung di kantor OJK Regional 6 Sulamapua, Selasa (10/12/2019).
Workshop menghadirkan tiga narasumber yakni VP Business Development RHB Sekuritas Berlian Juveny Naryanto.
Direktur Pengawasan Lembaga Jasa Keuangan Kantor OJK Regional 6 Sulampua Dani Surya, dan Kepala Perwakilan PT Bursa Efek Indonesia (BEI) Sulsel Fahmin Amirullah.
Pada workshop itu, para narasumber memperkenalkan pasar modal atau saham, sekaligus mengajak masyarakat untuk berinvestasi di bursa saham.
Fahmin Amirullah memaparkan, saat ini pasar saham terus berkembang terlihat dengan terus meningkatnya jumlah emitem atau perusahaan yang melantai di bursa saham, dan juga investornya.
"Pasar modal adalah tempat bertembunya investor dan pemilik perusahaan. Banyak manfat terjun di pasar saham, salah satunya Capital Gain, artinya investor bisa ikut memperoleh laba dari perusahaan yang dimiliki sahamnya," ucapnya.
Menurut Fahmi, saat ini pasar modal mengalami perubahan, mulai dari minimun pembukaan akun yang semakin murah, hingga nominal satuan terkecil dalam memiliki saham yang juga semakin murah.
Dijelaskan bahwa saham terendah di BEI, ada yang cuma Rp 50 rupiah per lembar, dan dengan modal Rp 100 ribu, masyarakat sudah dapat berinvestasi di pasar saham.
"Ada 661 emiten atau perusahaan di BEI dan akan terus bertambah, dengan frekuensi transaksi jutaan saham per hari, ini peluang investasi yang besar.
Tinggal masyarakat memilih perusahaan man yang mau dibeli sahamnya," bebernya.
Kurangnya minat masyatakat umum pada pasar saham, menurut Fahmi disebabkan beberapa faktor, salah satunya masih ada anggapan bahwa pasar saham adalah judi.
"Ada yang anggap saham itu judi, sebenarnya ini bergantung bagaimana anda memperlakukan saham, apakah sebagai judi atau investasi.
Kemudian ada yang anggap saham itu tidak aman, padahal sangat aman, ada lbaga terlibat di situ, termasuk pengawasan langsung OJK," ucapnya.
"Harus dipahami bahwa berinvestasi tak sekadar untung, ada risikonya juga. Pertama potensi capital loss. Resiko lain perusahaan bangkrut," ucap dia.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/ojk-bertema-market.jpg)