Tips Selamat dari Petir

Waspada, Petir Mulai Tebar Maut Lagi di Sulsel, Begini Cara Menaklukannya Agar tidak Disambar Gledek

Data Tribun Timur, sejak Januari 2016 hingga 3 Desember 2019, sudah 34 warga Sulsel tewas tersambar petir.

Waspada, Petir Mulai Tebar Maut Lagi di Sulsel, Begini Cara Menaklukannya Agar tidak Disambar Gledek
dok.tribun
Andi Irhamsyah Hamid (kiri) di teras Masjid Kampus ITS Surabaya, Surabaya, Jawa Timur, awal November 2019. 

TRIBUN-TIMUR.COM, MAKASSAR - Petir mulai “mengamuk” di Sulsel. Korban disambar gledek kembali bermunculan.

Guntur membunuh warga Sulsel tahun ini mulai terjadi pada 14 Januari 2019 lalu. Dalam dua hari terakhir, dua warga Sulsel menjadi korban tersambar petir. Warga Jeneponto tersambar petir, Senin (2/12/2019). Kemarin, Selasa (3/12/2019), warga Pinrang tewas tersambar petir di tengah persawahan.

Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisikai (BMKG) mengingatkan ancaman petir di wilayah pesisir barat Sulsel. Wilayah pesisir barat meliputi Makassar, Gowa, Maros, Pangkep, Barru, Parepare, hingga Pinrang.

Data Tribun Timur, sejak Januari 2016 hingga 3 Desember 2019, sudah 34 warga Sulsel tewas tersambar petir.

Nah, bagaimana caranya menghindari amukan petir di tengah musim guntur ini.

Dosen Fisikan Universitas Negeri Makassar (UNM) Andi Irhamsyah Hamid MPd menyampaikan cara sederhana nan jitu untuk menaklukkan petir.

“Petir merupakan fenomena alam yang sangat sering kita jumpai saat hujan mengguyur bumi. Fenomena ini ditandai kilatan cahaya,” kata Andi Irhamsyah Hamid.

Menurut Andi Irhamsyah Hamid, secara umum petir akan mengancam obyek yang paling tinggi seperti atap bangunan, bagian atas pepohonan, atau obyek yang berada di tanah lapang.

“Secara sederhana miniatur petir dapat kita lihat ketika kutup positif atau negatif kebel listrik tanpa pengalang karet atau plastik (isolator) lalu kita dekatkan dan hampir bersentuhan, maka seketika akan timbul percikan bunga api dan letupan,” jelas Andi Irhamsyah Hamid, Dosen UNM yang sedang kuliah S3 di ITS Surabaya.

Hanya saja, lanjut Andi Irhamsyah Hamid, energi yang dibawa oleh petir sangat besar karena medan listrik minimal yang memungkinkan terpicunya petir adalah sekitar 1.000.000 volt per meter dengan kecepatan minimal petir diudara 150.000 km/detik sehingga menghasilkan dentuman dahysat.

“Dengan memahami prinsip terjadinya petir, maka bagian tertinggi sebuah banguanan tinggi seharusnya dilengkapi penangkal petir. Benda ini berupa konduktor yang pertama akan ditemui petir yang dihubungkan dengan tanah,” kata Andi Irhamsyah Hamid.

Mengapa tanah? “Sifat tanah sebagai yang netral sehingga muatan yang dibawa oleh petir ini akan berpindah ke kondukotor penangkal petir dan mengalir memalui kabel menuju pelat logam atau konduktor yang terkubur dalam tanah,” jelas Andi Irhamsyah Hamid.

Selanjutnya, dari plat logam tersebut muatan-muatan dari petir akan mengalir ke tanah sehingga akan segara netral kembali dan siap menerima muatan elektron dari petir kembali. Dengan demikan banguanan akan aman dari bayaha petir.

“Untuk kita semua, sebaiknya menghindari tempat terbuka ketika terjadi hujan sehingga dapat tehindar dari bahaya petir yang sangat membahayakan keselamatan jiwa ketika tersambar,” ujar Andi Irhamsyah Hamid.(*)

Editor: AS Kambie
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved