Tanaman Jagung di Luwu Utara Diserang Hama Ulat Grayak, Begini Cara Pengendaliannya
Kepala Dinas Ketahanan Pangan (DKP) Luwu Utara Alauddin Sukri mengatakan, ulat grayak sudah menyerang tanaman jagung petani di Kecamatan Malangke, Mal
Penulis: Chalik Mawardi | Editor: Syamsul Bahri
TRIBUNLUTRA.COM, MASAMBA - Hama ulat grayak mulai menyerang tanaman jagung di Kabupaten Luwu Utara, Sulawesi Selatan.
Kepala Dinas Ketahanan Pangan (DKP) Luwu Utara Alauddin Sukri mengatakan, ulat grayak sudah menyerang tanaman jagung petani di Kecamatan Malangke, Malangke Barat, dan Baebunta.
• BREAKING NEWS: Kantor DPRD Wajo Disegel Mahasiswa, Ada Apa?
• Kronologi Awal Mula Isu Pesugihan Restoran Ruben Onsu Suami Sarwendah, Roy Kiyoshi Terlibat?
Khusus di Malangke, 250 hektare tanaman terserang dari total luas tanaman 3.000 hektare.
"Tanaman yang diserang hama ulat grayak rata-rata yang usia 10-45 HST (Hari Setelah Tanam)," ujar Alauddin, Selasa (12/11/2019).
Dirangkum dalam berbagai sumber, ulat grayak merupakan salah satu jenis hama tanaman yang menjadi momok menakutkan bagi para petani, termasuk petani jagung.
Hama ulat ini dikenal juga dengan sebutan ulat tentara, karena menyerang tanaman secara bergerombol bagaikan tentara hingga daun tanaman habis dan meranggas.
• Karni Ilyas Posting Topik ILC TV One Bahas Anies Baswedan, Apa Rocky Gerung dan Mahfud MD Diundang?
• Sebelum Malam Grand Final, 26 Finalis Puteri Kesehatan se-Luwu Raya Ikuti Orasi Ilmiah
Gejala serangan ditandai dengan daun tanaman meranggas, biasanya hanya tersisa tulang daunnya saja.
Pada serangan parah, tanaman akan gundul kehabisan daun. Jika populasinya sangat tinggi, larva pada stadium akhir dapat menghabisi seluruh daun tanaman hanya dalam waktu semalam.
Ada tujuh cara mengendalikan hama ulat grayak menurut Prof Soemartono Sosromarsono, Dr Aunu Rauf dan Ir A Toerngadi MSc.
Ketiganya pakar serangga hama Institut Pertanian Bogor (IPB).
• VIDEO: Mantan Wapres Jusuf Kalla Kunjungi Tana Toraja
Ledakan ulat grayak biasanya terjadi secara temprorer, serangan ulat grayak bisa tinggi lantaran populasi ulatnya meningkat.
Untuk meredam ledakan populasi tersebut pertama lakukan pengamatan rutin ke setiap bagian sudut kebun dengan cara ini kehadiran hama perusak bisa terdeteksi sedini mungkin.
Langkah berikutnya lakukan pengendalian mekanis dengan cara membakar ulat usia muda yang sudah dikumpulkan dalam satu wadah.
Langkah ketiga lakukan sanitasi lapangan, sewaktu melakukan sanitasi lapangan, gulma berdaun lebar dan rerumputan di sekitar pertanaman jangan dibabat habis.
Sisakan sedikit untuk tempat hidup ulat grayak pada populasi yang sangat rendah.
Kalau ulat grayak pada suatu saat musnah total, dikhawatirkan musuh alaminya jenis-jenis belatung dari keluarga Tachinidae-pun hilang.
Kerugiannya, begitu sang ulat mendadak merajalela, maka tidak ada musuh alami yang mengendalikannya.
Selanjutnya melalui pengendalian kimiawi. Sudah jelas Insektisida itu racun. Wajar jika pengendalian dengan insektisida merupakan pilihan terakhir.
Penyemprotan sebaiknya dilakukan pagi atau sore hari saat ulat masih usia muda. Daya tahan ulat tua terhadap insektisida besar sekali.
Insektisida yang bisa dipakai ialah yang bersifat racun kontak dan racun perut. Dosisnya sesuai aturan pakai.
Langkah kelima dengan cara pengendalian biologis.
Artinya memanfaatkan serangga penyengat dari famii Tachinidae untuk menahan laju perkembangan hama yang aktif di malam hari.
Serangga penyengat seperti Palexorista lucagus atau Cuphocera varia meletakkan telur di tubuh ulat grayak.
Begitu telur jadi belatung, ia merusak jaringan tubuh ulat. Dalam waktu 3-5 minggu belatung berubah menjadi kepompong dan saat itulah si grayak mati.
Keenam dengan cara melakukan tanam serentak, untuk mencegah ketersediaan makanan bagi ulat, penanaman sebaiknya dilakukan serentak sehingga panen pun bisa bersamaan.
Seandainya tidak serentak, tanaman yang paling akhir ditanam kemungkinan besar terkena wabah ulat grayak lantaran populasi hama ini cepat berkembang.
Terakhir dengan cara pergiliran tanaman. Pergiliran tanaman merupakan upaya memutuskan kelangsungan hidup ulat dengan menanam tanaman yang bukan inangnya.
Ulat grayak juga merupakan salah satu hama yang menyerang tanaman jagung.
Ulat ini tidak berbulu dan kerap juga disebut ulat tentara, karena menyerang dengan populasi tinggi.
Siklus hidup ulat grayak dapat berlangsung dari 32-46 hari.
Fase telur selama 2-3 hari dengan jumlah mencapai 1.046 telur.
Fase larva selama 14-19 hari. Fase pupa selama 9-12 hari dan fase imago selama 7-12 hari.
Ulat ini memiliki daya migrasi tinggi, di mana imago mampu terbang 100 kilometer per malam dan 500 kilometer sebelum meletakkan telurnya.
Ulat grayak umumnya menyerang pada malam hari, sedangkan pada siang hari ulat ini bersembunyi di bawah tanaman, mulsa atau dalam tanah.
Gejala tanaman yang terserang ulat grayak adalah daun rusak terkoyak, berlubang tidak beraturan, terdapat kotoran seperti serbuk gergaji dan pada serangan berat daun menjadi gundul.
Laporan Wartawan TribunLutra.com, @chalik_mawardi_sp
Langganan berita pilihan tribun-timur.com di WhatsApp
Klik > http://bit.ly/whatsapptribuntimur
Follow akun instagram Tribun Timur:
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/ketahanan-pangan-dkp-luwu-utara-alauddin-sukri.jpg)