ALFI Sulselbar: Antrean dan Penjatahan Solar Tetap Terjadi

ALFI Sulselbar: Antrean dan Penjatahan Solar Tetap Terjadi. Menyayangkan belum adanya solusi rill pascasurat edaran BPH Migas dianulir.

ALFI Sulselbar: Antrean dan Penjatahan Solar Tetap Terjadi
TRIBUN TIMUR/NURUL ADHA ISLAMIAH
Ketua Asosiasi Forwarding dan Logistik Indonesia (Alfi) Sulsel, Syaifuddin Saharudi 

ALFI Sulselbar: Antrean dan Penjatahan Solar Tetap Terjadi

TRIBUN-TIMUR.COM, MAKASSAR - Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Asosiasi Logistik dan Forwarder Indonesia (ALFI) Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat (Sulselbar) menyayangkan belum adanya solusi rill pascasurat edaran Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas (BPH Migas) dianulir.

Ini lantaran, masih terjadinya pembatasan hingga kelangkaan Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis solar pada Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umhm (SPBU) mitra PT Pertamina Persero.

Ketua DPW ALFI Sulselbar Syaifuddin Saharudi mengatakan, akibat dari itu, terjadi kekacauan aktivitas distribusi logistik di Sulselbar.

Baca: Update Pendaftaran CPNS Via sscasn.bkn.go.id, Cara Daftar Online, Dokumen Selain Foto Swafoto/Selfie

Baca: Pendaftaran CPNS 2019 di sscasn.bkn.go.id, Cek Formasi, Syarat, Dokumen Wajib, Cara Daftar di SSCASN

Baca: Penyebab Alfin Lestaluhu Pemain Timnas U-16 Meninggal Dunia, Korban Gempa Ambon, Idap Radang Otak

"Kian terhambat dan melambat tentunya," kata Syaifuddin via pesan WhatsApp, Jumat (1/11/2019) siang.

Dia mencontohkan, untuk arus distribusi ke Kabupaten Sidrap saat kondisi normal bisa 2 sampai 3 kali mobil angkutan singgah di SPBU untuk pengisian BBM dengan estimasi untuk Pergi Pulang (PP) mencapai 5 sampai 6 kali singgah SPBU.

Namun saat ini, durasi pengisian bahan bakar membengkak setiap kali singgah di SPBU, karena adanya pembatasan dan penjatahan sehingga banyak waktu terbuang untuk aktivitas distribusi logistik.

"Jadi kalkulasi kasarnya, berapa puluh jam waktu yang terbuang akibat hanya karena antrian di SPBU. Bisa lebih lama antrian isi BBM dari pada waktu jarak tempuh," katanya.

Menurut pria yang akrab disapa Ipho ini, jika ingin konversi Solar ke Dexlite atau Pertamina Dex, pengusaha angkutan pasti mengalami kerugian biaya operasional mobil. Sebabnya, selisihnya mencapai 100 persen lebih.

"Nah jika opsi menaikkan harga angkutan dilakukan, maka harga barang di masarakat akan naik," jelasnya.

Halaman
12
Penulis: Muhammad Fadhly Ali
Editor: Suryana Anas
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved