Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Pasar Malabo Mamasa Tak Kunjung Difungsikan, Ternyata Ini Penyebabnya

Pasar Malabo Mamasa Tak Kunjung Difungsikan, Ternyata Ini Penyebabnya. Padahal pembangunan pasar tersebut sudah setahun lebih telah rampung

Penulis: Semuel Mesakaraeng | Editor: Suryana Anas
TRIBUN TIMUR/SEMUEL MESAKARAENG
Pasar Malabo di Kecamatan Tandukkalua, Mamasa 

Pasar Malabo Mamasa Tak Kunjung Difungsikan, Ternyata Ini Penyebabnya

TRIBUNMAMASA.COM, TANDUKKALUA - Pasar Malabo, Kecamatan Tandukkalua, Mamasa, Sulawesi Barat tak kunjung difungsikan.

Padahal pembangunan pasar tersebut sudah setahun lebih telah rampung, hanya butuh untuk diisi oleh para pedagang.

Sementara pembangunan pasar baru Malabo dibangun sebagai solusi untuk menyelesikan persoalan pasar lama yang dianggap mengganggu lalu lintas sebab dekat dari jalan poros.

Baca: Terungkap Kejanggalan Wamen Pariwisata Angela Tanoesoedibjo Saat Baru Selesai Dilantik, Perhatikan

Baca: Jadwal Liga Inggris - Liverpool Hadapi Laga Sulit, City Berpeluang Pangkas Jarak. 2 Live di TVRI

Baca: Membandingkan Gaji Nadiem Makarim sebagai Menteri dengan Saat Menjadi Bos GoJek

Namun ternyata hal itu tidak menyelesaikan persoalan lantaran pedagang enggan berjualan di pasar baru.

Banyak hal yang menjadi alasan pedagang untuk tidak berjualan di pasar baru.

Pasar baru yang berada di Desa Bala Batu dianggap jauh dari pusat keramaian.

Belum lagi los pasar dinilai sempit dan tidak representatif untuk digunakan berdagang pakaian dan lannya.

Berbeda dengan pasar sebelumnya yang ada di Desa Pambe, karena berada di tengah keramaian.

Sehubungan dengan pemanfaatan pasar baru, Dinas Koperasi Perindustrian dan Perdagangan seolah cuci tangan.

Kepala Dinas Perdagangan Yahyadin Karim malah menuding Camat Tandukkalua tidak mampu memanfaatkan fasilitas yang sudah dibangunnya.

Sebelumnya, Yahyadin menjelskan, kronologi awal mula dibangun pasar baru.

Menut dia, relokasi pasar lama diusulkan kecamatan sebab dianggap mengganggu jalan raya.

Saat itu, kepala dinas perdagangan masih dijabat pendahulunya. Setelah disetujui, dibentuklah tim untuk mencari lokasi.

Penentun lokasi itu mengalami kendala karena dinilai tidak ada loksi yang cocok denagan peruntukan pasar baru.

Tetapi setelah tim pencari lokasi masuk di desa bala batu, maka disetujui pasar itu dibangun di Bala Batu.

"Karena mendesak anggaran mau dialokasikan, maka ditempatkanlah di lokasi itu," ujar Yahyadin Jumat (25/10/2019) pagi.

"Kita kan hanya membangun, yah tetap juga ditinjau secara akademis," tambahnya.

Singkat cerita lanjut dia, pembangunan pasar tersebut rampung.

Untuk pemanfaatannya, dilakukan musyawarah sebanyak tiga kali di kantor camat.

Berdasarkan kesepakatannya kata dia, pedagang bersedia direlokasi untuk pemanfaatan pasar.

Namun setelah pasar siap difungsikan, pedagang tidak mau direlokasi.

Padahal menurutnya, penggunaan los telah diundi dan bahkan kunci sudah ada pada pedagang.

Dengan demikian, iya mengaku bukan lagi menjadi wewenang pihak dinas perdagangan.

"Bahkan sudah komitmen, semua masyarakat sepakat akan diisi, ada suratnya camat, pak Hesron," sebutnya.

"Ternyata dua hari selasa, pasar itu macet lagi," sambungnya.

Pasar Malabo di Kecamatan Tandukkalua, Mamasa
Pasar Malabo di Kecamatan Tandukkalua, Mamasa (TRIBUN TIMUR/SEMUEL MESAKARAENG)

Kata Yahyadin, ada informasi beredar yang mengatakan bahwa yang mengambil kunci bukan pedangang.

"Saya mau katakan bahwa silahkan cek di teknisnya, jangan berkoar-koar kalau tidak jelas," katanya.

Hanya saja tutur Yahyadin, pihaknya menghargai camat sebab camat merupakan kepala wilayah.

"Minta pasar dibangunkan, minta kebijakan dibijaki, okelah dengan catatan isi ini pasar, karena bukan pasar kami tapi pasar kalian.

"Bisa dikatakan camat ini tidak mampu manfaatkan fasilitas yang sudah dibangun," tandasnya.

Menanggapi itu, Camat Tandukkalua, Hesron Lullulangi mengatakan, pembangunan pasar baru Malabo tidak bijak dilakukan dan cenderung dipaksakan.

Menurutnya, wajar dikeluhkan oleh pedagang karena dianggap tidak sesuai peruntukannya.

Kata dia, desain pasar Malabo bukan untuk pasar rakyat, karena hanya berukuran 1 meter dan hanya dapat digunakan orang dalam posisi berdiri.

Bahkan hingga saat ini belum ada jaringan listrik.

Hesron menegaskan, untuk pemanfaatan pasar baru, maka dianas terkait perlu membuka ulang surat perjanjian yang ditandatangani pihak dinas.

"Salah satu perjanjian dalam surat, mengatakan bagi pedagang yang telah menerima kunci tetapi tidak menggunakan los selama 3 bulan berturut-turut, maka akam digantikan," tegas dia saat dikonfirmasi di salah satu warkop Jumat (25/10/2019) malam.

Tetapi lanjut Hesron, setelah lebih dari tiga bulan pasar tersebut tidak diisi, pihak dinas tidak melakukan evaluasi terhadap pedagang.

"Harusnya dinas terkait membuka kembali surat perjanjian itu, dan sudah sejauh mana tindaklanjutnya.

"Sekarang saya mau minta, mana itu surat perjanjian, dan sudah sampai di mana tindaklanjutnya setelah tiga bulan itu," pungkasnya.

Laporan wartawan @sammy_rexta

Langganan berita pilihan tribun-timur.com di WhatsApp
Klik > http://bit.ly/whatsapptribuntimur

Follow akun instagram Tribun Timur:
Silakan Subscribe Youtube Tribun Timur:

A

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved