VIRAL Lagi, Emak Emas Bugis dengan Perhiasan Emas 3 Kg; FAKTA atau HOAX?

Kenapa wanita Bugis senang mengoleksi atau tepatnya berinvestasi perhiasan emas? Banyak yang pamer namun tak sedikit pula koleksi diam-diam

Emak Emas Bugis dengan Perhiasan 3 Kg; FAKTA atau HOAX? Dan mengapa wanita Bugis senang mengoleksi atau tepatnya berinvestasi perhiasan emas?

MAKASSAR, TRIBUNNEWS.COM — VIRAL lagi! Klip video seorang wanita Bugis berlogat Malaysia-Borneo,  Minggu (13/10/2019), kembali viral di sosial media.

Di tanah Bugis, wanita yang selalu tampil dengan perhiasan emas berlebih dijuluki Indo’ Ulaweng (ibunya emas), atau bahasa kerennya; “Emak Emas”.

Si Emak Emas berpakaian "hajjah’ khas Tanah Bugis itu, mengaku mengenakan perhiasan emas seberat 3 kg. Wow!

Di Video diunggah akun anonim twitter @Azabkuburpedih, Sabtu (12/10/2019) dini hari itu, terlihat perempuan berusia sekitar 60-an tahun itu, merinci 13 item dan berat perhiasan emasnya.

Tujuh item gelang di dua pergelangan tangannya. Masing-masing; 70 gram, 50 gram, dan 145 gram.

Di tangan kanan, empat item; 110 gram, 120 gram, dan dua gelang yang masing-masing dia sebut 65 gram.

Di leher, ada dua rantai kalung tembaga kuning masing-masing 100 gram, dan satu kaling liontin yang juga diklaim "300 grem". 

Ini belum termasuk 5 jenis cincin di 7 jemari dua tangannya. 

Sayangnya di akun media sosial itu tadi dirinci siapa identitas si emak-emas Bugis "300 grem emas" itu.

Video 60 detik itu memang fakta. Ada pelaku (who), diskripsi (how), namun seperti kebanyakan video atau konten viral di sosial media, video itu tak memiliki dua elemen fakta dasar absolut (When dan Where).

Kapan dan dimana video itu direkam sama sekali tak dicantumkan.

Padahal dua elemen fakta Ruang dan Waktu itulah yang amat penting untuk mengubah  satu fakta informasi  menjadi berita.

Where dan When adalah dwitunggal instrumen fakta yang mutlak ada dalam konstruksi berita supaya publik bisa memverifikasi langsung.

Inilah yang mengkonfirmasikan kenapa dalam postingan di semua media sosial selalu ada TIME STAMP dan TAG LOCATION. 

Tanpa dua elemen WHEN dan WHERE itu, sebuah fakta oleh jurnalis, akan masuk kategori "FIKSI" atau dengan istilah masa kini; HOAX.

Bagi kami pekerja jurnalisme, fakta  atau peristiwa yang hanya ada apa (what), jalan cerita (how), dan sedikit informasi tentang siapa (WHO), kami kategorikan "fakta sumir". Fakta (WHAT)nya ADA , tapi tak LENGKAP untuk jadi berita.

Ini belum lagi memasukkan unsur WHY, motif dan konteks munculnya perhiasan 3 kg si emak-emas Bugis.

Siapa si perekam? Kenapa si perekam  memideokan  klip berdurasi 1 menit itu?

Apa motifnya? Apakah di sengaja, atau hanya kebetulan bertemu dengan si emak emas Bugis di kolong rumah yang mirip dekat kandang ayam.

Berita sumir "emak emas Bugis" sedikit lengkap juga viral dua tahun lalu.

Juga di bulan Oktober, video wanita Bugis, --yang belakangan diidentifikasi bernama Hajjah Ondeng--, viral dengan julukan "toko emas berjalan."

Hajjah Ondeng yang "pamer" aneka perhiasan emas di selasar terminal Keberangkatan Bandara Sultan Hasanuddin Makassar itu, berkelakar dirinya adalah "PSK" di negeri Jiran.

Konon perhiasan emas Hajjah Ondeng diakui seberat emas 1,19 kg. 

kata "konon" dan "diakui" kami pakai karena fakta perihal berat perhiasan itu belum ditakar dengan timbangan bertera resmi atau ISO. Itu baru pengakuan.

Bahwa belakangan ada berita soal siapa Hajjah Ondeng, putrinya yang masih duduk di bangku SMA itupun baru cerita.

Hajjah Ondeng istri pengusaha kayu dari Bombana
Hajjah Ondeng istri pengusaha kayu dari Bombana (kolase tribun-timur.com)

Baca: Kenalkan Ondeng Hajjah ‘Emas’ Ngaku PSK Tapi Ini Pekerjaan Sebenarnya, Punya Gadis SMA

Baca: Harga Emas Bakal Naik Terus Hingga Akhir Tahun Ini

Kabar dengan kualitas fakta absolut soal kegemaran orang Bugis "menilai" status sosial dengan tembaga tua itu muncul November 2017.

Di sebuah resepsi pernikahan kampung di Desa Cumpiga, Kecamatan Awangpone, Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan, Senin, 20 November 2017, juga bikin heboh.

Si mempelai pria menikahi wanita bernama Ernawati , warga  Desa Tarasu, Kecamatan Kajuara, Bone,  sekitar 41 km dari Awangpone,  dengan "mahar kawin" sekitar 100-an cuncin emas dan seperangkat alat sholat.

Lalu, di bulan Juli 2018 lalu, sekitar 6 wanita paruh baya juga dengan pakaian "hajjah poci-poci" Bugis, juga viral se-Nusantara. Dengan balutan perhiasan emas di sebuah resepsi pernikahan keluarga di Sulawesi Selatan, emak emas Bugis itu, show up.

Sebelumnya, akhir Desember 2018, juga viral di media internasional,  seorang pengusaha asal Vietnam, Tran Ngoc Phuc (37 tahun), senantiasa mengenakan emas seberat 13 Kg di tubuhnya.

Phuc harus dijaga sedikitnya lima bodyguard untuk menghindarinya dari pencuri.

Itu karena Total jenderal nilai emas-emas tersebut mencapai Rp 8 miliar.

Obsesi Phuc atas  emas sebab dia yakin, ada pakar Feng Shui yang mengatakan bahwa emas akan  membawa keberuntungan dan menambah kekayaan. 

Halaman
Editor: Thamzil Thahir
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved