Petani Tembakau Sulsel Didorong untuk Ekspor, ini Alasannya
Saat ini, jumlah produksi tembakau Sulsel ada di kisaran 2000 ton pertahun, sementara untuk kebutuhan secara nasional sebesar 330 ribu ton per tahun.
Penulis: Fahrizal Syam | Editor: Ansar
TRIBUN-TIMUR.COM, MAKASSAR - Petani tembakau di Sulawesi Selatan didorong meningkatkan produksi untuk memenuhi kebutuhan ekspor.
Saat ini, jumlah produksi tembakau Sulsel ada di kisaran 2000 ton pertahun, sementara untuk kebutuhan secara nasional sebesar 330 ribu ton per tahun.
Ketua Umum Aliansi Masyarakat Tembakau Indonesia (AMTI) Budidoyo mengatakan, jumlah produksi tembakau secara nasional masih kurang.
Penjual Ikan di Tamanroya Jeneponto Sembunyikan Sabu-sabu di Ember Berisi Beras
Pasger Tempat Nongkrong dan Kuliner Favorit Anak Muda Makassar, Buka Malam Hari
BI Fasilitas Dosen Ekonomi Belajar Menulis Opini di Media
"Kalau produksi itu kita kurang, kebutuhan kita sekitar 330 ribu ton. Sementara produksi kita maksimal 200 ribu ton sehingga ada defisit," kata Budidoyo di Makassar, Kamis (3/10).
Menurutnya, di Sulsel kebanyakan petani menanam tembakau untuk kebutuhan sendiri, dan hanya sedikit yang dilepas ke pasar atau pabrik untuk diolah sebelum diekspor.
"Kalau Sulsel tak banyak untuk pabrikan, tapi konsumsi sendiri. Kami tak tahu persis produksinya berapa banyak, tapi ada ekspor juga sebenarnya seperti ke Brunei Darussalam," bebernya.
Lanjut Budidoyo, di Sulsel sebenarnya beberapa daerah berpotensi untuk mengembangkan budidaya tembakau.
Bahkan tembakau Soppeng dianggap memiliki ciri khas sendiri.
"Sulsel daerah Jeneponto, Sinjai, hingga Soppeng itu banyak petani, tapi memang mereka banyak untuk konsumsi sendiri.
Soppeng itu khas untuk pipe. Kami sudah pernah ke sana, dan potensi lokalnya luar biasa," terangnya.
Penjual Ikan di Tamanroya Jeneponto Sembunyikan Sabu-sabu di Ember Berisi Beras
Pasger Tempat Nongkrong dan Kuliner Favorit Anak Muda Makassar, Buka Malam Hari
BI Fasilitas Dosen Ekonomi Belajar Menulis Opini di Media
Hanya saja, diungkapkan Budidoyo, sudah banyak petani tembakau di Sulsel yang beralih menjadi petani kakao.
Belum lagi generasi pelanjut yang kurang meminati budidaya tembakau
"Saya ke sana berani bilang, masyarakat di sana rata-rata kaya dari tanam tembakau, tapi karena ada kebijakan dishuruh tanam kakao," kata dia.
'Namun lima tahun belakangan kakao diserang penyakit, mereka kembali lagi ke tembakau. Tapi anak mudanya sudah mulai tak tertarik ke tembakau," imbuhnya.
Ia berharap petani tembakau kembali bergeliat dan mampu memenuhi kebutuhan tembakau nasional.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/ketua-umum-aliansi-masyarakat-tembakau-indonesia-amti-budidoyo-m-abdiwan.jpg)