Akses Jalan 2000 Jiwa Penduduk Nyaris Terisolir di Talambai Lambanan Mamasa
Di Talambai terdapat fasilitas pemerintah, berupa gedung sekolah dasar (SD), Sekolah Menengah Pertama (SMP), serta penerangan listrik berupa turbin.
Penulis: Semuel Mesakaraeng | Editor: Syamsul Bahri
TRIBUNMAMASA.COM, MAMASA - Dusun Talambai, Desa Lambanan, Kecamatan Mamasa, salah satu daerah penghasil kopi terbesar bagi Kabupaten Mamasa, Sulawesi Barat.
Namun daerah itu sangat memprihatinkan lantaran susah diakses.
Lawan Madura United, Persib Bandung Ingin Putus Rekor Buruk
Sejumlah Wilayah di Indonesia Alami Hari Tanpa Bayangan, Termasuk di Sulsel, Catat Waktunya!
Dikabarkan Ingin Tinggalkan Manchester United, Paul Pogba Bakal Bergabung ke Real Madrid?
23 Anggota DPRD Jeneponto Absen Tak Hadiri Pelantikan Wakil Ketua Dewan
Deretan 3 Tokoh Politik Ini Tentang Presiden Jokowi Keluarkan Perppu KPK
Wilayah Dusun Talambai berjarak kurang lebih 25 kilometer dari jalan poros Mamasa-Tabang.
Untuk tiba di wilayah tersebut membutuhkan waktu jarak tempuh yang lama.
Kadang memakan waktu tiga jam hingga lima jam, berdasarkan suasana cuaca.
Di Dusun Talambai terdapat 600 kepala keluarga (KK) atau sekira 2000 jiwa penduduk.
Di Talambai terdapat fasilitas pemerintah, berupa gedung sekolah dasar (SD), Sekolah Menengah Pertama (SMP), serta penerangan listrik berupa turbin.
Bahkan Talambai dianggap sebagai salah satu daerah penghasil kopi di Mamasa.
Namun akses jalan sebagai urat nadi perekonomian masyarakat menjadi kendala.
Akses menuju ke wilayah tersebut hampir terisolir. Dan saat ini pembangunan akses jalan belum mengarah ke daerah tersebut.
Pemerintah sedang terkendala untuk membangun jalan ke lokasi itu. Sebab akses jalan yang dilintasi masuk wilayah hutan lindung.
Sementara wilayah hutan lindung tak boleh dibanguni akses jalan umum.
Wakil Ketua II DPRD Mamasa, Juan Gayang Pongtiku saat melakukan reses di dusun tersebut, mengatakan, dirinya prihatin dengan kondisi masyarakat di wilayah itu.
Dusun Talambai dianggap sebagai salah satu daerah penghasil kopi.
" Sangat kasihan masyarakat di sini, karena menemui kesulitan untuk membawa hasil buminya ke kota sebab akses jalan belum baik," kata Juan.
Dia berharap ke pihak eksekutif di Mamasa agar segera mengupayakan untuk membuka akses jalan tanpa mengganggu kawasan hutan lindung. (*)
Laporan wartawan @sammy_rexta
Langganan berita pilihan tribun-timur.com di WhatsApp
Klik > http://bit.ly/whatsapptribuntimur
Follow akun instagram Tribun Timur:
Silakan Subscribe Youtube Tribun Timur:
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/ketua-ii-dprd-mamasa-juan-gayang-pongtiku.jpg)