OPINI

PR Panjang PSSI

PSSI tidak hanya memiliki pekerjaan rumah (PR) panjang terkait tim nasional, termasuk PR besar PSSI adalah permasalahan suporter Indonesia

PR Panjang PSSI
DOK
Khalil Nurul Islam, Mahasiswa UIN Alauddin Makassar

Oleh: Khalil Nurul Islam
Mahasiswa UIN Alauddin Makassar

“Keberanian kita diuji saat kita menjadi minoritas, dan toleransi kita diuji saat kita menjadi mayoritas” (Ralp W. Sockman)

9 September 1948 di Kota Praja Surakarta Pekan Olahraga Nasional (PON) pertama Indonesia digela. Sudah 71 tahun lebih telah berlalu, tanggal inilah yang dijadikan sebagai momentum hari Olahraga Nasional. Namun, momentum Hari Olahraga Nasional tidak berbanding lurus dengan pencapaian prestasi persepakbolaan Tanah Air Indonesia.

Kabar buruk didapatkan dari tim nasional Indonesia. Timnas kita gagal memaksimalkan laga kandang pertamanya di pertandingan grup kualifikasi piala dunia 2022 Zona Asia, Indonesia sempat unggul 2-1 di babak pertama, namun tim garuda harus mengakui keunggulan Malaysia setelah jebol dua kali di paruh kedua termasuk satu gol di menit ke-96.

Syamsuddin Umar seorang pengamat sepak bola mengatakan “fisik di babak kedua sangat menurun keliatan, kosentrasi hilang, daya ledak hilang, passing-passing akurat tidak bisa dikontrol saat dipress”. Tim Nasional Indonesia juga mendapatkan kekalahan telak dari Negara Thailand pada pertandingan keduanya 10 September 2019 di Stadion Glora Bung Karno.

Kabar buruk tidak hanya didapatkan oleh Tim Nasional Indonesia, dilansir dari Tribun, kabar buruk juga dialami Persib Bandung, pemain bercucuran darah usai lawan PS Tira Persikabo, dimana bus dilempari. Bus pemain Persib Bandung diserang selepas pertandingan melawan PS Tira Persikabo pada pekan ke-18 Liga 1 2019 di Stadion Pakansari, Cibinong, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Sabtu (14/9/2019).

Dikabarkan dua pemain Persib Bandung, Febri Hariyadi dan Omid Nazari, terkena lemparan batu dari orang yang tak diketahui.

Demikianlah beberapa kabar buruk yang terjadi dua pekan ini dalam dunia persepakbolaan Indonesia, sehingga PSSI masih memiliki PR panjang dalam dunia sepak bola Indonesia. Hal ini dapat dilihat dari tidak mampunya tim nasional Indonesia mempertahankan keunggulannya, bahkan harus menelan kekalahan 2-3 dari Malaysia, dan harus takluk dari Thailand 0-3.

PSSI tidak hanya memiliki pekerjaan rumah (PR) panjang terkait tim nasional, termasuk PR besar PSSI adalah permasalahan suporter Indonesia yang kerap kali melakukan tindakan anarki, dan arogan di stadion sepak bola. Seperti pertandingan tim nasional Indonesia di Stadion Utama Gelora Bung Karno Jakarta, yang baru saja digelar pada Kamis 5 September 2019, dan merupakan pertemuan ke-96 bagi Indonesia dan Malaysia sejak tahun 1957.

Menteri Pemuda dan olahraga Malaysia Syed Saddiq mengatakan pihaknya berencana melaporkan tindakan suporter Indonesia yang menyerang pendukung harimau Malaya pada pertandingan grup G kualifikasi piala dunia 2022 di GBK. Bahkan karena tindakan anarkis supporter Indonesia itu, PSSI terancam terkena sanksi dari FIFA. PSSI sendiri sudah pernah dijatuhi sanksi dari FIFA yaitu denda sebesar CHF 30 ribu atau setara dengan Rp 427,6 juta karena dianggap lalai menjalankan perintah yang ditetapkan badan sepak bola dunia tersebut.

Halaman
12
Editor: syakin
Sumber: Tribun Timur
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved