Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

RILIS

Pelestarian Musuh Alami, Kementan Terus Kembangkan Refugia Si Penarik Serangga

Penggunaan pestisida sintetis dalam pengendalian Organisme Pengendali Tanaman ( OPT ) lumrah dilaksanakab petani dalam kegiatan budidaya di lahannya.

Editor: Edi Sumardi
Pelestarian Musuh Alami, Kementan Terus Kembangkan Refugia Si Penarik Serangga - bunga-matahari-kementan-1-1392019.jpg
DOK KEMENTAN RI
Pelestarian Musuh Alami, Kementan Terus Kembangkan Refugia Si Penarik Serangga - bunga-matahari-kementan-2-1392019.jpg
DOK KEMENTAN RI
Pelestarian Musuh Alami, Kementan Terus Kembangkan Refugia Si Penarik Serangga - bunga-matahari-kementan-3-1392019.jpg
DOK KEMENTAN RI

TRIBUN-TIMUR.COM - Penggunaan pestisida sintetis dalam pengendalian Organisme Pengendali Tanaman ( OPT ) lumrah dilaksanakab petani dalam kegiatan budidaya di lahannya.

Kecenderungan penggunaan pestisida sintetis bertujuan agar serangan OPT segera berkurang atau musnah.

Kendati demikian, Kementerian Pertanian RI ( Kementan ) terus mengembangkan refugia si penarik serangga secara alami.

Sebab, ketika kegiatan pengendalian secara kimia hanya untuk memusnahkan OPT tanpa memperhatikan aspek lingkungan akan mengakibatkan ekosistem tidak seimbang.

"Semakin maraknya penggunaan pestisida kimia atau sintetik yang digunakan petani, maka keberadaan musuh alami semakin berkurang," kata petugas pengamat OPT, Sudarti di Balai Besar Peramalan OPT Kementan, Jatisari, Karawang, Provinsi Jawa Barat, Jumat (13/9/2019).

Demikian siaran pers Kementan kepada Tribun-Timur.com, Jumat malam ini.

Baca: Kementan Genjot Ekspor dan Investasi Bidang Tanaman Pangan

Sudarti menyebutkan minimnya pengetahuan masyarakat tentang bahaya dari pestisida sintetis mendorong para peneliti bidang pertanian untuk mencari alternatif pengendalian OPT yang berbasis lingkungan.

Ini diharapkan dapat tetap menjaga kelestarian agroekosistem sesuai dengan prinsip Pengendalian Hama Terpadu ( PHT ).

"Prinsip PHT pada dasarnya menitikberatkan pada pemanfaatan berbagai teknik pengendalian dengan tetap memperhatikan keuntungan ekonomi yang maksimal, dan memberikan dampak yang aman bagi pekerja, konsumen dan lingkungan hidup. Salah satu teknik pengendalian yaitu pelestarian musuh alami dengan penanaman tanaman refugia," katanya menjelaskan.

Dia menambahkan tanaman yang berpotensi menjadi refugia antara lain tanaman bunga matahari (helianthus annuus), bunga kertas zinnia (zinnia elegans), kenikir (cosmos caudatus).

Baca: Bantuan Alsin dan Input Kementan Hidupkan Semangat Petani

Sayuran yang berpotensi sebagai refugia sekaligus bahan pangan, antara lain kacang panjang (cigna unguiculata ssp sesquipedalis), bayam (amaranthus spp), jagung (zea mays), dan lain-lain.

"Sebaiknya tanaman refugia harus selalu ada di areal pertanaman yang kita budidayakan dengan cara menanam benihnya secara langsung atau disemai. Kalau tingkat keberhasilan sebenarnya lebih tinggi dengan metode semai,” katanya menegaskan.

Kepala Bidang Program dan Evaluasi Balai Besar Peramalan OPT Kementan, Mustaghfirin menambahkan, tanaman refugia berfungsi sebagai tempat tinggal sementara musuh alami.

Tanaman refugia selain memperindah lahan pertanian juga berperan sebagai penyedia makanan bagi musuh alami.

"Hasil pengamatan pada Refugia di Kebun Percobaan BBPOPT (Balai Besar Peramalan Organisme Pengganggu Tumbuhan) menunjukkan bahwa refugia dari jenis cosmos caudatus, closia plumosa (merah), celosia plumosa (kuning) mampu menarik serangga baik herbivora, predator, parasitoid dan serangga lain,” katanya menjelaskan.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved