Indonesia Menerima Penghargaan Literasi Dunia
Atas upaya pelestarian bahasa daerah, BASABali mendapatkan The UNESCO Confucius Prize for Literacy.
Mereka juga menyajikan kosakata bahasa daerah Bali yang disalin ke dalam bahasa Indonesia dan Inggris.
Surya Rosa Putra menegaskan penghargaan ini merupakan pengakuan dunia.
Indonesia telah menjadi acuan bagi penyelenggaraan program literasi. Penghargaan ini juga bukan yang pertama kali, pada tahun 2012,.
Indonesia juga mendapatkan penghargaan sejenis, yakni UNESCO King Sejong Literacy Prize.
“Berdasarkan data UNESCO tahun 2019, Indonesia memiliki 707 bahasa daerah, atau yang terbanyak dari 29 negara yang menjadi target pengembangan literasi oleh UNESCO,” ujarnya.
Harris Iskandar, yang juga Komite Pengarah Aliansi Literasi Dunia (Global Alliance for Literacy) UNESCO menegaskan bahwa kunci keberhasilan BASABali adalah melestarikan bahasa.
Lestari melalui penggunaan teknologi serta pemberdayaan masyarakat.
Ini merupakan hasil berkolaborasi para akademisi, pemerintah daerah, seniman, dan berbagai komunitas untuk turut bersama mengembangkan aplikasi BASAbali.
Bahasa daerah memiliki repertoar atau perbendaharaan kata yang amat beragam. Ini dapat memperkaya bahasa Indonesia.
Pemerintah telah berupaya memfasilitasi pengadopsiankosa kata baru bahasa Indonesia dari bahasa daerah.
“Lestarikan bahasa daerah, kembangkan bahasa Indonesia dan kuasai bahasa asing.," katanya.
"Kemampuan menguasai bahasa menjadi pintu masuk untuk mempelajari berbagai keterampilan agar kita memiliki SDM yang unggul menuju Indonesia maju,”lanjut dia. (*)
Langganan berita pilihan
tribun-timur.com di WhatsApp
Klik > http://bit.ly/whatsapptribuntimur
Follow akun instagram Tribun Timur:
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/pendaki-mengibarkan-bendera-indonesia1.jpg)