Gedung Madrasah Ibtidaiyah (MI) Mammeso Berlantai Tanah

Ayu Lestari kini telah duduk di bangku kelas 4 MI. Sudah tiga tahun dirinya menjalani pendidikan dengan kondisi sekolah yang sederhana.

Gedung Madrasah Ibtidaiyah (MI) Mammeso Berlantai Tanah
Ari Maryadi/Tribungowa.com
Pantauan proses belajar siswa Madrasah Ibtidaiyah (MI) Mammeso di Dusun Bontotangga, Desa Bissoloro, Kecamatan Bungaya, Kabupaten Gowa. 

TRIBUN-TIMUR.COM, SUNGGUMINASA -Ayu Lestari tetap bersemangat bersekolah di Madrasah Ibtidaiyah (MI) Mammeso dengan keterbatasan fasilitas.

Ayu Lestari kini telah duduk di bangku kelas 4 MI. Sudah tiga tahun dirinya menjalani pendidikan dengan kondisi sekolah yang sederhana.

Perokok Dilarang Masuk di Batua Raya 7 Makassar

VIDEO: Detik-detik Pengambilan Sumpah Anggota DPRD Bulukumba Priode 2019-2024

Dianggap Melanggar Kode Etik, KPU Sidrap Serahkan Sepenuhnya ke DKPP

Ferdinand-Pellu Dipanggil Timnas, Darije: 10 Pemain Saya Dipanggil Tak Mengapa

Ketua Karang Taruna Bantaeng Ingin Bantaeng Festival Day Berkelanjutan

Madrasah Ibtidaiyah (MI) Mammeso ini berlokasi di Dusun Bontotangnga, Desa Bissoloro, Kecamatan Bungaya, Kabupaten Gowa.

"Kalau bisa kak fasilitas sekolah kami diperbaiki kasian. Supaya enakki juga belajar dengan teman-teman," kata Ayu, Senin (19/8/2019).

Madrasah Ibtidaiyah (MI) Mammeso ini dilaporkan berdiri sejak tahun 1978 hingga 2019. Kondisi atap hingga dinding sekolah kini telah rusak.

Siswa belajar hanya beralaskan tanah. Meja dan bangku tempat siswa belajar juga dalam kondisi rusak. Padahal, sekolah ini menjadi tempat puluhan siswa untuk menimbah ilmu.

Kepala MI Mammeso Mustafa mengaku, jika sekolah yang terletak di daerah terpencil ini memang sudah lama tidak mendapatkan perhatian dan bantuan dari pemerintah.

Pantauan proses belajar siswa Madrasah Ibtidaiyah (MI) Mammeso di Dusun Bontotangga, Desa Bissoloro, Kecamatan Bungaya, Kabupaten Gowa.
Pantauan proses belajar siswa Madrasah Ibtidaiyah (MI) Mammeso di Dusun Bontotangga, Desa Bissoloro, Kecamatan Bungaya, Kabupaten Gowa. (Ari Maryadi/Tribungowa.com)

"Ini sekolah naungannya Depag Gowa, tapi dari dulu hingga sekarang sekolah kami belum diberikan bantuan," katanya saat dikonfirmasi, Senin (19/8/2019).

Ia menyebutkan, hingga saat ini jumlah siswa yang ia ajar berjumlah sekitar 30 orang. Mereka belajar dalam satu bangunan yang dibagi menjadi enam kelas.

"Jadi kita bagi itu satu bangunan menjadi beberapa kelas. Mau tidak mau kita harus lakukan seperti ini," ungkapnya.

Halaman
123
Penulis: Ari Maryadi
Editor: Syamsul Bahri
Sumber: Tribun Timur
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved