Direktur Logospolitika Ungkap Peluang Hj Tina di Pilkada Mamuju 2020
Hj Sutinah Suhardi yang saat ini masih altif sebagai Kadis Perdagangan Kabupaten Mamuju
Penulis: Nurhadi | Editor: Suryana Anas
TRIBUN-TIMUR.COM, MAMUJU --Direktur Lembaga konsultan politik Logospolitika Maenunis Amin menyebutkan trend Hj St Sutinah Suhardi dalam tiga bulan terakhir semakin positif.
Hj Sutinah Suhardi yang saat ini masih altif sebagai Kadis Perdagangan Kabupaten Mamuju, merupakan salah satu figur yang akan menjadi penantan petahana di Pilkada 2020 mendatang.
Maenunis mengungkapkan, saat ini popularitas anak mantan Bupati Mamuju H Suhardi Duka itu, bergelar ke angka 54 persen.
Baca: Anak Mantan Bupati Mamuju Bakal Jadi Penantang Habsi Wahid Pilkada 2020
"Melihat dari komposisi elektoral perseptual, memang bukan pada porsinya ibu Tina untuk maju kosong 02. Stron poters cukup menjanjikan untuk maju sebagai kosong satu,"kata mantan tenaga ahli Gubernur Sulbar itu pada launching Perspektif Mamuju di warkop Teras Jl Pababari, Rimuku, Minggu (18/8/2019) malam.
"Stron poters itu begini, dikerja atau tidak, diserang atau tidak itu tidak akan bisa lagi bergerak dari posisi mereka,"jelas Maenunis.
Kata Maenunis, SDK efek di Kabupaten Mamuju masih akan sangat berpengaruh terhadap hasil Pilkada 2020 mendatang.
"Kami juga tidak mungkin bergabung kalau misalkan tidak ada data awal yang kami miliki terkait peluang ibu Tina,"ujarnya.
Meski perolahan Nasdem atau partai petahana cukup signifikan pada Pileg 2019, namun menurutnya sedikit riskan kalau hasil Pileg yang dijadikan pedoman atau acuan di Pilkada 2020.
"Data kami, Nasdem sendiri stron potersnya hanya berkisar pada 20 persen, tidak sampai 50 persen, ini artinya tidak sejalan dengan perolehan Nasdem di Pileg,"ungkapnya.
Ia menuturkan, tanpa menggunakan istrumen yang dimilik ibu Tina, wilayah Kalukku dan Sampaga masih dianggap aman sebagai kantong suara.
"Peluang ibu Tina bagus, karena incumbent tidak mampu menjaga soliditasnya. Habsi juga mengatakan belum punya calon wakil, jadi memang tidak adalagi hal yang perlu terlalu dikhawatirkan di petahana,"katanya.
Menurutnya, jika popularitas seorang petahana tidak ekual dengan elektabilitas dan akseptabilitas, baginya hal itu bukan sesuatu yang luar biasa.
"Karena kalau polularitas, akseptabilitas dan elektabilitas tidak sejalan, saya kira ini bukan hal yang luar biasa. Misal popularitas petahana di atas 80 persen tapi tingkat keterpilihan rendah inikan bukan hal luar biasa, jadi sangat besar peluang bagi kita untuk bekerja,"tuturnya.(tribun-timur.com)
Laporan Wartawan Tribun-Timur.com, @nurhadi5420
Baca: LIVE Streaming Kejuaraan Dunia BWF 2019 di TVRI, Jadwal Tanding Anthony Ginting dan Jonatan Christie
Baca: 5 Fakta Baru Video Vina Garut, Ternyata Pelaku Punya Masalah/Kelainan Ini dan Alasan Mereka Mau Zina
Baca: SSCASN BKN-Jadwal Pendaftaran CPNS 2019 dan P3K 2019, Formasi, Tahapan, dan 5 Dokumen Penting!
Baca: 5 Kepala Daerah Diisukan Calon Menteri Jokowi, Ada Suami Arumi Bachsin, Nurdin Abdullah Tak Masuk
Baca: Robert Puji Kualitas PSM, Bela Bojan Malisic Tetap Tampil Bagus
Langganan Berita Pilihan