TRIBUNWIKI: Begini Sejarah Panjat Pinang di Indonesia
Lomba tersebut bisa dibilang sebagai ikonik yang dilaksanakan pada hari perayaan kemerdekaan Indonesia.
Penulis: Desi Triana Aswan | Editor: Ansar
TRIBUN-TIMUR.COM, MAKASSAR- Salah satu perlobaan yang selalu digelar saat hari ulang tahun kemerdekaan Indonesia adalah panjat pinang.
Lomba tersebut bisa dibilang sebagai ikonik yang dilaksanakan pada hari perayaan kemerdekaan Indonesia.
Panjat pinang adalah salah satu lomba tradisional yang populer pada perayaan hari kemerdekaan Indonesia.
Sebuah pohon pinang yang tinggi dan batangnya dilumuri oleh pelumas disiapkan oleh panitia perlombaan.
Di bagian atas pohon tersebut, disiapkan berbagai hadiah menarik.
Para peserta berlomba untuk mendapatkan hadiah-hadiah tersebut dengan cara memanjat batang pohon yang biasanya pohon pinang.
Namun tak banyak yang mengetahui bagaimana awal mula sejarah panjat pinang muncul di Indonesia.
Dilansir dari Kompas.com, panjat pinang merupakan salah satu tradisi yang cukup tua dan populer di Indonesia.
Perlombaan ini berasal pada masa penjajahan Belanda yang digelar sebagai acara hiburan bagi para kaum kolonial.
Panjat pinang diadakan pada momentum penting seperti hajatan, hari libur nasional atau hari ulang tahun tokoh-tokoh penting Belanda.
Penjajah Belanda memasang batang pohon pinang yang telah dilumuri pelicin secara vertikal dan memasang bermacam-macam hadiah di pucuk tiang tersebut.
Lalu masyarakat Indonesia pada masa itu akan berlomba-lomba untuk memanjat dan meraih hadiah yang disediakan, sementara penjajah Belanda hanya menonton 'pertunjukan' yang keras itu.
Diketahui pada masa itu hadiah yang dipasang biasanya berupa barang pokok seperti makanan, gula, tepung dan pakaian.
Hadiah seperti itu memang sangat mudah dijumpai pada masa kini.
Namun pada masa penjajahan, masyarakat Indonesia hidup melarat dan tersiksa.
Barang-barang murah itu pun menjadi suatu kemewahan bagi mereka.
Sejumlah warga mengikuti lomba panjat pinang kolosal di Pantai Carnaval, Taman Impian Jaya Ancol, Jakarta Utara, Kamis (17/8/2017).
Dalam perlombaan panjat pinang kolosal itu disiapkan 172 batang pohon pinang dengan aneka macam hadiah sekaligus memeriahkan perayaan HUT ke-72 Kemerdekaan Republik Indonesia.
Pro kontra panjat pinang
Beberapa orang berpendapat panjat pinang seharusnya tidak dijadikan tradisi apalagi di acara kemerdekaan.
Karena acara tersebut diperkenalkan oleh penjajah dan menjadi bahan tontonan bagi mereka.
Perlombaan ini hanya membawa memori pahit dari masa lalu.
Pemusik Harry Roesli kepada harian Kompas juga pernah menyuarakan kontra terhadap perlombaan panjat pinang.
Menurut dia, ada kenyataan "kelas sosial" di lingkungan masyarakat pada perayaan kemerdekaan.
Orang kaya cenderung hanya menyumbang saja dan tidak ikut kegiatannya.
"Kalaupun ikut kegiatannya paling-paling hanya ikut pertandingan catur saja. Sementara dalam proses bergaul itu sebenarnya ada isi hati lain. Si orang kaya menyumbang supaya ia bisa hidup aman di lingkungan itu. Supaya tidak ada yang menjarah hartanya," tutur Harry seperti dikutip pada harian Kompas, 18 Agustus 2002.
Selain itu, penebangan besar-besaran hanya untuk acara hiburan sekali setahun itu tidak seimbang dengan nilai lingkungan.
Karena pertumbuhan pohon pinang cenderung lambat.
Sebatang pinang baru layak ditebang untuk keperluan perlombaan setelah ia berusia 30 tahun.
Kerja sama peserta untuk menggapai pucuk batang pinang saat mengikuti lomba panjat pinang dalam rangka HUT Kemerdekaan RI ke-67 di Pantai Festival, Taman Impian Jaya Ancol, Jakarta Utara, Jumat (17/8/2012).
Dalam perlombaan itu disiapkan 67 batang pohon pinang dengan aneka macam hadiah.
Hanya dari batang pinang setua itu bisa dibuat tiang lomba berukuran ideal, yakni tinggi antara 8-12 meter dan diameter 43 - 60 centimeter.
Masalah lain yang ditimbulkan yaitu belum tentu seluruh batang pinang yang ditebang laku terjual dan digunakan.
Pertumbuhan pohon pinang cenderung kalah cepat dengan permintaan konsumen.
Dengan perayaan yang diadakan dari Sabang sampai Marauke, bayangkan saja berapa banyak batang pinang yang ditebang dan membusuk secara sia-sia karena tidak laku terjual.
Melalui penelusuran Kompas.com pada arsip harian Kompas, pada tahun 1970-an batang pinang di DKI Jakarta masih banyak dipasok dari daerah sekitar Ibu Kota, seperti Bogor, Citayam dan Pondokgede.
Namun sejak awal 1980-an batang pinang harus didatangkan dari daerah-daerah yang jauh seperti dari Sukabumi, Purwakarta, Serang dan Lampung.
Bahkan kini pemasok batang pinang dapat dibilang cukup sulit dan harganya pun menjadi mahal.
Kelangkaan ini diperparah dengan kurangnya usaha peremajaan dan pembudidayaan pohon pinang.
Sumber berita: https://megapolitan.kompas.com/read/2019/08/12/06060051/sisi-gelap-tradisi-panjat-pinang-di-hari-kemerdekaan-indonesia?page=all
Langganan Berita Pilihan
tribun-timur.com di Whatsapp
Via Tautan Ini http://bit.ly/watribuntimur
Follow akun instagram Tribun Timur:
Silakan Subscribe Youtube Tribun Timur:
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/warga-dan-personel-ikuti-lomba-panjat-pinang-di-hut-ke-73-bhayangkara.jpg)