Atasi Sampah, CWMI Tawarkan Teknologi Hydrothermal Waste Treatment Technology
Produksi sampah harian yang tak sebanding dengan jumlah yang dapat didaur ulang, menjadikan sampah ancaman bagi masyarakat di suatu daerah atau kota.
Penulis: Fahrizal Syam | Editor: Syamsul Bahri
TRIBUN-TIMUR.COM, MAKASSAR - Sampah sudah menjadi persoalan yang sangat serius bagi masyarakat di Indonesia, bahkan seluruh dunia.
Produksi sampah harian yang tak sebanding dengan jumlah yang dapat didaur ulang, menjadikan sampah ancaman bagi masyarakat di suatu daerah atau kota.
TRIBUNWIKI: Lagu Speechless dari Naomi Scott Populer di Youtube, Ini Lirik Lagu dan Terjemahannya
Enrekang Bakal Berawan Sepanjang Hari, Segini Kecepatan Anginnya
TRIBUNWIKI: Dasa Darma Jadi Pegangan Pramuka Indonesia, Ini Rumusan dan Sejarahnya, Sejak 1961
Kabupaten Wajo Diprediksi Cerah Berawan Sepanjang Hari, Malamnya Berawan
Cuaca di Wilayah Toraja Utara Hari Ini Diprediksi Cerah Berawan
Untuk membantu pemerintah dalam mengelola sampahnya, Center of Waste Management Indonesia (CWMI) hadir menawarkan teknologinya yang dinamai Hydrothermal Waste Treatment Technology (HWTT).
CWMI didirikan pada 2012 dengan tujuan untuk melayani masyarakat dan semua pemangku kepentingan, dengan membantu lingkungannya menjadi lebih hijau dan lebih bersih melalui sistem pengelolaan sampah terpadu dan berkelanjutan berbasis teknologi.
Hydrothermal Waste Treatment Technology sendiri adalah sebuah teknologi pengolahan limbah inovatif yang mampu mengubah sampah menjadi produk berharga yang tidak memiliki bau menyengat dan dapat dengan mudah kering untuk penggunaan bahan bakar padat.
Director Compliance & Government Affairs CWMI, Suhaemi Fattah mengatakan teknologi ini dikembangkan oleh Tokyo Institute of Technology dan Center of Waste Management Indonesia.
"HWTT melakukan tiga elemen penting yakni menghancurkan, pengeringan, dan penghilang bau dalam satu proses menggunakan uap jenuh bertekanan tinggi, dikenal sebagai Multi-purpose Material Conversion System," kata Suhaemi kepada Tribun Timur, Rabu (14/8/2019).
Ia menjelasakan, prinsip operasi dari teknologi ini cukup sederhana, dimana limbah seperti sampah kota, limbah pertanian, limbah lumpur, sisa makanan, dan lain-lain, dimasukkan ke dalam reaktor uap jenuh bertekanan tinggi pada 200 - 250 °C, 1,6-3 MPa.
"Uap dari boiler disuntikkan ke dalam reaktor sekitar 30-60 menit. Pisau reaktor berputar selama sekitar 10-30 menit untuk mencapai pencampuran yang merata," jelasnya.

"Setelah diekstraksi dengan uap, bahan serbuk dengan kadar air kurang lebih sama dengan bahan baku akan dibuang. Proses pengeringan dilakukan secara alami oleh udara ambien atau dengan meniupkan udara dan biasanya memakan waktu 1-3 hari," tambahnya.
Suhaemi mengatakan, sampah yang diolah dapat menghasilkan tiga produk yang berbeda, yakni bahan bakar padat batubara, pupuk padat dab cair, dan pakan ternak.
"Karena teknologi ini menggunakan uap bertekanan tinggi, tidak menghasilkan zat kimia juga tidak meninggalkan bakteri. Selain itu, produk ini hampir tidak berbau dengan kadar air kurang dari 10% dan dapat digunakan untuk bahan bakar di boiler untuk pembangkit listrik, seperti di industri semen atau sebagai sumber panas," bebernya.
Menurutnya, teknologi pengolahan hidrotermal menggunakan kombinasi dari panas dan air sebagai media untuk mengkonversi sumber yang tidak dimanfaatkan dalam berbagai bentuk dan karakteristik ke dalam produk yang seragam.
Lanjut Suhaemi, dibandingkan dengan teknologi pembakaran konvensional, HWTT memiliki teknis yang signifikan dan komersial menguntungkan, antara lain bebas emisi, seperti CO2, NOx, SOx, dan debu, serta air limbah juga dapat diolah dan digunakan sebagai air umpan boiler.
"Produk HWTT dapat digunakan dalam berbagai aplikasi seperti pakan ternak, pupuk organik, atau bahan bakar padat pengganti batubara. Dalam kasus bahan bakar padat, itu jauh lebih bersih daripada batu bara karena mengandung sulfur yang rendah," pungkasnya.