OPINI
OPINI - IYL yang Saya Kenal
Ia layak disebut tokoh pendidikan nasional. Sebab ia adalah pelopor sekolah gratis dan pelopor Sistem Kelas Tuntas Berkelanjutan (SKTB)
Oleh:
Fajlurrahman Jurdi
Dosen Fakultas Hukum Universitas Hasanuddin
Tubuhnya kurus. Wajahnya tirus. Langkahnya tegap. Persahabatannya erat. Sikapnya ramah.
Gagasannya melampaui tubuh politiknya. Itulah Ichsan Yasin Limpo (IYL), mantan Bupati Gowa dua periode yang saya kenal.
Ia layak disebut tokoh pendidikan nasional. Sebab ia adalah pelopor sekolah gratis dan pelopor Sistem Kelas Tuntas Berkelanjutan (SKTB) di Sulawesi Selatan.
Terobosannya ini kemudian diikuti banyak daerah lain sekaligus mendapat apresiasi dari Kementerian Pendidikan Nasional.
Ichsan adalah politisi yang matang sekaligus memiliki visi masa depan yang smart. Saat memimpin Kabupaten Gowa sebagai bupati, memulai dari tahap ‘refleksi’.
Yang dimaksud tahap refleksi adalah, ia mendorong basis penting dari sebuah bangsa yakni sumber daya manusia (SDM).
Saya mungkin bukan orang yang mengenal dekat dengannya. Tetapi kebetulan orang-orang dekatnya merupakan teman dan kawan diskusi saya.
Dari merekalah sebagian saya tahu tentang lelaki yang akrab disapa Punggawa ini.
Baca: Bersama Global Qurban-ACT Redam Duka Penyintas Gempa
Maka tulisan ini tidak akan bisa mendalami IYL secara lebih subtil. Tulisan ini hanya mampu mendedah aspek luar dari sosok ayah empat anak ini yang jelas tidak mewakili siapapun.
Kepergiannya meninggalkan luka bagi banyak orang. Tak hanya bagi masyarakat Kabupaten Gowa yang pernah merasakan sentuhan tangannya.
Itu bisa terlihat dari berbagai lini media sosial yang banyak memasang foto IYL dan turut mengucapkan belasungkawa saat itu tersiar kabar Ichsan meninggal di Jepang, Selasa (30/7/2019) pagi.
Lelaki yang akrab disapa Ongkeng ini meninggal saat sedang menjalani perawatan medis di Juntendo University Hospital, Tokyo.
Ia telah pergi, meninggalkan jejak yang tak terlupakan, menanam pohon masa depan, membangun Gowa dengan caranya yang berbeda.
Yang mengesankan pula, IYL dikenal ringan tangan pada sahabat-sahabatnya. Ia selalu mencarikan jalan keluar jika ada masalah.
Pernah seorang teman S3-nya akan di-drop out di Fakultas Hukum Unhas. Mendengar kabar itu, IYL datang menghadap ke dekan dan ke Rektor Unhas kala itu.
IYL bermohon agar temannya bisa dibantu. Namun sistem di Unhas sangat ketat hingga akhirnya temannya tak bisa dipertahankan.
Baca: Dandim Bone Ajak Siswa SMAN 28 Ponre Bijak Menggunakan Medsos
Tak sedikit juga mahasiswa S1 dan S2 yang tidak mampu bayar kuliah, dia bantu selesaikan.
ILY adalah salah satu politisi yang aktif kuliah.
Ia jarang absen. Kebiasaan ini sama dengan Adnan Purichta YL, anaknya yang sekarang juga Bupati Gowa dan sedang menyelesaikan pendidikan S3-nya di Fakultas Hukum Unhas.
Meskipun sibuk sebagai bupati, Adnan selalu hadir di kampus dan mengikuti semua jadwal kuliah. Mungkin ada yang menganggap penilaian ini klise.
Tapi jujur, saya tak kenal dekat Adnan. Hanya sesekali bertegur sapa biasa jika sedang bersua di masjid dalam kampus. Ia termasuk selalu tepat waktu salat.
Apalagi Pak Ikhsan, bila ia di kantin bersama beberapa dosen, saya tak pernah ada di sana dan selalu jalan lurus menuju ke perpustakaan.
Tentu saja, cara pandang ILY tentang pendidikan menjadi catatan perjalanan politiknya.
Meskipun itu hanya brand politik bagi banyak orang, namun sisi sublimasinya bagi sumber daya manusia menjadi penting.
Program politik jelas bermuatan politik, dan tak dapat disangkal kadang ‘dianggap’ kampanye politik.
Namun IYL mampu meletakkan dasar-dasar kebijakan ini sebagai sumbu kebaikan bagi kebijakan publik yang berpijak pada ‘pikiran’ yakni rasionalitasnya yang mendukung kemajuan SDM.
Baca: Cegah Stunting, Unhas Gelar International Conference On Nutrition And Public Health
Ada relevansinya antara ‘kebijakan’ dan ‘pikiran’ yang bersemayam dalam tubuh politik IYL.
Ini ditunjukkan dengan keseriusannya menyelesaikan program doktornya dalam bidang hukum pendidikan.
Ia meneliti di beberapa negara dan mencari perbandingan sistem pendidikan yang bisa membuat negara-negara lain menjadi maju.
Dengan meneliti itu, ia mencarikan argumen legalnya hingga resmi menyandang gelar Doktor Ilmu Hukum dari Fakultas Hukum Unhas pada 2018.
Kecerdasan IYL tertuang dalam rumus-rumus kebijakannya yang fokus pada peningkatan SDM masyarakat Gowa.
IYL memang tak terlalu pandai pidato seperti kakaknya, Syahrul Yasin Limpo (SYL). Syahrul memiliki kemampuan berbicara di atas rata-rata.
Kadang provokatif dan mampu menggerakkan emosi massa. IYL tenang, namun ia merupakan manajer yang tak terlupakan bagi kolega dekatnya.
Baca: Delegasi PIFAF Disambut Antusias Pelajar Kecamatan Bulo
Ia memperhatikan kebutuhan sahabat-sahabatnya, mendahulukan mereka, dan yang pasti, memperlakukan secara setara di antara mereka.
Tak dapat diungkap semua kebaikannya, namun yang pasti, itu akan selalu membekas di-ingatan tiap orang, terutama mereka yang pernah bersentuhan dengannya.
Ia yang tenang dalam hidupnya, setenang saat ia pergi, akan tenang pula disana.
Tidak ada yang bisa menahan kematian, begitu pula tidak ada yang bisa memperpanjang kehidupan, karena keduanya telah ditetapkan oleh Allah SWT waktunya.
Selamat jalan Punggawa. Selamat jalan pelopor pendidikan gratis. (*)
Catatan: tulisan ini telah terbit di Tribun Timur edisi cetak, Jumat (02/08/2019)