Pasca Banjir, Pelajar Pammera Wajo Sering Bolos ke Sekolah
Sebuah jembatan gantung yang merupakan akses warga di daerah pesisir Sungai Walennae, rusak parah diterjang banjir.
Penulis: Hardiansyah Abdi Gunawan | Editor: Sudirman
TRIBUN-WAJO.COM, SABBANGPARU - Banjir kini telah surut di Kabupaten Wajo.
Walaupun sudah surut, namun sejumlah fasilitas umum belum diperbaiki.
Seperti di Lingkungan Pammera, Kelurahan Walennae, Kecamatan Sabbangparu.
Sebuah jembatan gantung yang merupakan akses warga di daerah pesisir Sungai Walennae, rusak parah diterjang banjir.
NH Siap Yakinkan PSSI, Laga Final PSM vs Persija Tetap di Makassar
PSSI Umumkan Jadwal Ulang PSM vs Persija, Ketua KVS: Sudah Sehat Semua Pamain Persija
Rekrut Anggota Baru, Komunitas Sepanjang Perjalanan Gelar Leadership Training di Kaluppang Pinrang
TRIBUNWIKI: Sempat Tolak Tanding di Makassar, Ini Sejarah Panjang Persija Jakarta, Sejak 1928
Jembatan gantung ini menjadi penghubung menuju Desa Salotengnga, ke pusat kecamatan maupun kabupaten.
Belum ada tanda-tanda bakalan diperbaiki.
Bahkan material sampah yang terbawa banjir, masih tersangkut di puing-puing jembatan.
Masyarakat mesti bertaruh nyawa, tak ada pilihan untuk tidak melewati jembatan gantung yang sewaktu-waktu ambruk total.
Warga Lingkungan Pammera, Irfan menyebutkan, sejak jembatan tersebut rusak, anak-anak sekolah sering tidak masuk sekolah.
Walaupun beberapa alternatif sebenarnya tersedia, tapi cukup jauh.
"Terutama anak sekolah disini harus diantar pakai perahu. Kalau tidak ada perahu terpaksa tidak masuk sekolah karena jembatan rusak," katanya, Senin (29/7/2019).
Sebenarnya ada sejumlah Sekolah Dasar (SD) di Kelurahan Walennae, tapi letaknya di sebelah timur.
Bagi yang berada di barat, sekolah yang di seberang sungai yang terletak di Desa Salotengnga adalah yang terdekat, mengingat kondisi geografinya yang nyaris di kelilingi sungai.
"Kita yang di barat kesusahan untuk ke sekolah, masjid, atau ke kebun sendiri, bahkan yang di timur sekalipun mesti mengambil perjalanan yang cukup jauh untuk ke pasar," katanya.
Ada sekitar 50 KK yang menghuni Lingkungan Pammera, selalu menantang maut setiap harinya. Mereka menunggu aksi pemerintah untuk segera memperbaiki jembatan tersebut. (TribunWajo.com)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/warga-mesti-menantang-maut-melewati-jembatan-gantung.jpg)