Tabligh Akbar di Masjid Tua Katangka, DMI Hadirkan Pegiat Pustaka Jeruji Indonesia
Ada sekitar 800 ribu masjid di Indonesia. Jika ditambahkan dengan musala, mencapai lebih sejuta tempat potensial untuk dijadikan titik mula peradaban
Penulis: Amiruddin | Editor: AS Kambie
TRIBUN-TIMUR.COM, SUNGGUMINASA - Puluhan pemuda milenial berkumpul di Masjid Tua Katangka, perbatasan Gowa-Makassar, Jl Syekh Yusuf, Senin (10/6/2019).
Pemuda/Remaja Masjid Dewan Masjid Indonesia (Prima DMI) Sulsel menggelar tabligh akbar di Masjid Dalam masjid tertua di Sulsel di sekitar Makam Raja-raja Gowa yang dibangun tahun 1603 itu.
Hadir dua narasumber utama. Pelaksana Tugas Sekretaris Jenderal (Sekjen) DMI M Arief Rosyid Hasan yang juga mantan Ketua Umum Pengurus Besar Himpunan Mahasiswa Islam (PB HMI) dan Penggerak Pustaka Jeruji Indonesia dari Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas II A Maros Salahuddin Alam.
Arief mengkritik aktivis Pemuda dan Remaja Masjid yang aktivitasnya jauh dari masjid.
“Umumnya aktivis pemuda dan remaja Masjid membicarakan persoalan negara dan bangsa yang besar-besar, tapi makin jarang membincang soal kondisi keber-Islaman pemuda itu sendiri,” jelas pemuda asal Gowa itu,
“Bahkan nyaris semua aktivitasnya cenderung menjauh dari masjid,” tegas Arief menambahkan.
Sembari mengemukakan data bahwa di Indonesia, ada sekitar 800 ribu masjid yang sangat potensial dijadikan basis peradaban. Belum jika ditambahkan ratusan ribu musala. Jika dijumlah, mencapai lebih dari sejuta tempat potensial untuk dijadikan titik mula peradaban.
“Mesti disayangkan, potensi itu dipakai hanya sekadar ruang untuk beribadah kepada Allah semata. Seharusnya, di masjid pemuda dan remaja masjid dapat membangun peradaban dan perekonomian bangsa.,” jelas Arief.
Dia mencontohkan, pada masa Rasuliulah semua hal dibahas di masjid, sebab masjid pusat peradaban.
“Bahkan, pemuda pada zaman nabi merupakan sumbu inti peradaban dalam merancang pergerakannya. Semua dilakukan di masjid,” ujar Arief.
Salahuddin Alam, yang baru-baru ini memperoleh Penghargaan dari Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia (Menkumham) Yasonna H Laoly dalam rangka Hari Ulang Tahun (HUT) ke-55 Pemasyarakatan, diminta berbagi cerita dan pengalaman dalam membangun Gerakan Literasi di dalam Lapas.
Alam mengemukakan bahwa Literasi itu adalah gerbang untuk ke mana saja, literasi tidak sebatas baca tulis dan berhitung saja, tapi lebih dari itu.
"Bagaimana bisa berkarya dan berkreasi setelah membaca ataupun menulis," tegas Alam penuh semangat.
Sembari mengingatkan kaum milenial agar dapat mengasah diri dan bergaul dengan baik secara normal sehingga tidak perlu ikut berujung di Lapas.
"Saat ini banyak anak milenial juga berada di Lapas, karena salah bergaul," ujar mantan aktivis Kemahasiswaan Unhas ini.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/salahuddin-alam-katangka.jpg)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/salahuddin-alam-katangka2.jpg)