Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Konjen Australia: FSAI di Makassar Ramai

Konsul Jenderal Australia di Makassar, Richard Mathews yang ditemui di CGV Cinema mengatakan antusias penonton masih padat

Penulis: Wahyu Susanto | Editor: Imam Wahyudi
wahyu/tribun-timur.com
Penonton FSAI 2019 pada hari terakhir di CGV Cinema, Grand Square Daya, Jl Perintis Kemerdekaan, Makassar, Minggu (24/3/2019). 

TRIBUN-TIMUR.COM, MAKASSAR - Festival Sinema Australia Indonesia (FSAI) 2019, memasuki hari terakhir di Indonesia termasuk Makassar.

Di mana FSAI ini terlaksana sejak Jumat hingga Minggu hari ini yang menampilkan pemutaran film dari Australia dan Indonesia di CGV Cinema, Grand Square Daya, Jl Perintis Kemerdekaan, Makassar.

Konsul Jenderal Australia di Makassar, Richard Mathews yang ditemui di CGV Cinema mengatakan antusias penonton masih padat hingga Minggu (24/3/2019).

Banyaknya jumlah penonton FSAI di Makassar, pun diharapkan ada hasil positif yang terlahir antara Australia dan Indonesia, utamanya di Makassar.

"Ya, karena melalui FSAI ini bisa memicu kolaborasi dan diskusi jangka panjang dalam dunia perfilman Australia dan Indonesia khususnya di Makassar," terang Richard Mathews.

Ia menjelaskan, FSAI merupakan bentuk untuk memperkenalkan budaya Australia kontemporer kepada warga Makassar.

Bukan hanya kepada warga Makassar saja, melainkan seluruh warga Indonesia karena FSAI ini terlaksana disejumlah kota besar di Tanah Air.

"Tetapi kalau kita melihat Makassar, memiliki sineas-sineas terkenal dan komunitas film yang aktif dan Australia memang sudah terkenal dengan festival filmnya. Jadi kolaborasi ini sangat cocok," imbaunya.

FSAI 2019 ini didukung langsung oleh Australia Now ASEAN yang merupakan sebuah inisiatif pemerintah Australia untuk menampilkan inovasi, kreativitas, dan gaya hidup Australia di Asia Tenggara sepanjang 2019.

Salah satunya yakni memperkenalkan penduduk asli Australia, Suku Aborigin dan penduduk kepulauan Selat Torres.

"Ada banyak yang kita perkenalkan tentang Australia. Budaya suku asli, demokrasi, kesetaraan gender dan lain sebagainya," paparnya.

Film Ladies Ini Black sebuah film berlatar tahun 1959 yang menunjukkan awal mula transformasi Australia menjadi negara multi kultur, menjadi penanda FSAI dibuka diseluruh Indonesia termasuk Makassar pada Jumat (22/3/2019).

Pada hari kedua, film dokumenter tentang salah satu seniman penduduk asli Australia yang paling terkenal Gurrumul juga ditayangkan dan disusul film Indonesia Ada Apa Dengan Cinta, Ada Apa Dengan Cinta II dari produser Mira Lesmana yang merupakan sahabat FSAI tahun 2019 ini pada Sabtu hari ini.

Pada hari terakhir, film yang diputar diantaranya Storm Boy dengan genre drama keluarga dan film thriller fiksi ilmiah alien Occupation.

Hanya saja, pihak panitia belum bisa memaparkan jumlah keseluruhan penonton yang hadir sejak hari pertama dan terakhir.

Namun Mathews mengklime antusiasme penonton cukup besar mengingat film yang ditayangkan sangat berkualitas.

"Hari ini saja banyak pengunjung yang datang bersama keluarga. Jadi kita optimis peserta bisa puas dengan semua film yang ditayangkan," harapnya.

Laporan Wartawan Tribun-Timur.com, @wahyususanto_21

Sumber: Tribun Timur
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved