Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Rahasia di Balik Viralnya Film 'Terlambat'

Film pendek Terlambat sedang viral di media sosial YouTube, Facebook, dan Instagram.

Tayang:
Editor: Edi Sumardi

Saya sudah kenal, 3 film dengan (dibintangi) dia. Bombe' 1, Bombe' 2, 'Taro Ada Taro Gau' yang belum tayang.

Kenapa Jade?

Sebelumya, dia sudah main di film saya di Maipa Deapati dan Datu Museng.

Jadi, saya kenal juga karakter Jade, bagaimana judesnya ini Jade kalau marah.

Saya pikir dia bisa dapat dan terbukti dia betul judes dalam film ini.

Selain pernah main di film saya, Jade dalam perusahaan saya, Paramedia Indonesia, Jade adalah art director.

Saya sering lihat dia marah-marahi kru.

Saya bisa tangkap, karakter judes ini benar-benar bisa didapatkan sama Jade dan betul.

Sebagai antagonis dalam film, dia betul dapat karakter antagonisnya.

Apa pertimbangan memilih SMA Negeri 10 sebagai lokasi syuting? Kenapa bukan di sekolah Kayla sekarang, di MTsN Model Makassar atau di sekitar pusat kota?

Rere: Nah, hubungannya ada dengan Jade. Jade alumnus SMA 10.

Koneksi ke dalam untuk segala macam urusan jadi mudah.

Tidak ada pilihan spesial antara SMA ini, SMA itu, lebih karena mudah aksesnya.

Anda dikenal sebagai sutradara film layar lebar. Sudah 8 film anda buat, 1 masih proses.

Tiba-tiba anda beralih membuat film pendek. Apa bedanya bikin film panjang dan pendek?

Rere: Bedanya menggarap film pendek dengan film panjang.

Film pendek cenderung lebih taktis angle kameranya karena mengambarkan sesuatu, gambarnya tidak harus keluar, bisa dialognya saja.

Misalnya marahnya guru, bisa hanya dialognya saja. Jadi harus padat.

Berapa lama waktu dibutuhkan untuk membuat film Terlambat yang durasinya hanya 6 menit dan 51 detik?

Rere: Waktu yang saya butuhkan sesuai hari kerja. Waktu (dibutuhkan) menulis script-nya itu sehari semalam.

Shoot day-nya sehari.

Editing-nya sehari semalam.

Terakhir, soundtrack-nya dikerjakan 2 hari.

Kurang lebih 5 hari kerja.

Ini langsung preview.

Sepertinya banyak penonton tak sadar kalau Terlambat itu iklan karena logo FTI UMI hanya muncul sekian detik di opening dan ending. Lalu, banyak yang potong film itu dan hilangkan logonya. Kenapa film itu tak diberi logo FTI UMI atau syutingnya di FTI UMI supaya orang cepat sadar kalau ini iklan FTI UMI?

Rere: Ini adalah soft campaign dari Fakultas Teknologi Industri UMI.

Kenapa tidak banyak logo di situ?

Justru di zaman seperti ini, iklan yang terlalu hard campaign orang tidak terlalu suka.

Soft campaign seperti inilah yang tertinggal di hati orang.

Contohnya, iklan asuransi di Thailand.

Ceritanya sedih, logo (perusahaan) hanya ada di ending-nya.

Itulah kreativitas.

Saya mau logonya FTI UMI berkesan di hati, timing-nya pas.

Pas saat Kayla dipeluk, pesan terakhir keluar 'Sesulit apapun keadaan, setiap dari kita berhak atas pendidikan'.

Lalu muncullah logo FTI UMI 'FTI UMI menantimu’.

Soft campaign, ini zaman dimana orang tak suka dijejali merek dalam otaknya.

Merek ini seharusnya masuk pelan-pelan, tidak sengaja. Ketika orang tiba-tiba mengerti jika ini iklan, maka langsung pindah.

Banyak potongan Terlambat beredar di WhatsApp, Facebook, YouTube, Instagram. Masalahnya logo FTI UMI dibuang sehingga kemungkinan pesannya tak sampai kalau ini iklan FTI UMI. Apakah Anda akan gugat kalau ini pelanggaran hukum?

Zakir: Sejak dirilis, alhamdulillah sampai hari ini sudah lebih 5 juta penontonnya di Facebook, YouTube.

Banyak sekali yang protes ke kami, itu video di Facebook ada yang potong, tidak ada logo FTI.

Tidak masalah, yang penting pesannya sampai.

Saya malah bersyukur banyak yang share.

Berapa sebenarnya cost Terlambat? Dalam berbagai kesempatan, anda tak mau bocorkan cost-nya. Coba bandingkan dengan cost film Bombe yang anda juga bikin, sebagai gambaran?

Rere: Sekarang begini posisinya.

Syuting Bo'mbe' 14 hari, 2 minggu.

Nilai (biaya) hariannya sekian per hari. Ini sama (nilainya) dengan syuting 1 hari film Bombe'.

Seandainya film ini syuting 2 minggu, itu sama nilainya.

Bikin film pendek ini sama dengan bikin film layar lebar.

(Melibatkan) sekitar 30 orang kru. Kami datang dengan 2 truk alat.

Orang SMA 10 kaget, ini mau bikin apa. Di situ ada dolly track, gimbal.

Zakir: Soal biaya itu relatif.

Kreativitas itu tidak bisa diukur dengan biaya.

Orang bisa bilang mahal, bisa bilang biasa-biasa, bisa bilang murah.

Tergantung penilaian orang terhadap sebuah kreativitas.

Saya tidak akan menyebut berapa biaya film ini, tapi dibanding impact-nya, film ini jauh sangat murah.

Terlambat sukses meraup jutaan penonton dan kali tonton (views). Apakah ada rencana untuk mengangkatnya ke layar lebar atau ada rencana lain setelah sukses?

Rere: Film ini rencananya trilogi.

Versi pertama ini adalah versi bunda.

Versi keduanya adalah versi ayahanda.

Versi ketiganya adalah versi ananda.

Semuanya membahas ke satu titik, semuanya ingin jadi insinyur.

Versi ini (Terlambat), versi bunda.

Versi ayahanya, seorang ayah yang anaknya ingin jadi insinyur.

Versi ketiga nanti, mempertemukan keduanya, sama-sama ingin jadi insinyur.

Kalau ini kita levelkan, maka versi pertama (Terlambat) ini hanya di level 4.

Versi kedua ada di level 7.

Versi ketiga ada di level 10.

Ini trilogi.

Kemungkinan rentan waktunya setahun.

Empat bulan (versi pertama), empat bulan lagi baru muncul (versi kedua), empat bulan lagi (versi ketiga).

(Total) 12 bulan, setahun.

(Proyek pembuatan film) ini rencana panjang, besar.

(Sasarannya) bagaimana nama FTI UMI mentereng, melekat dengan kreativitas.

Apa pertimbangan FTI UMI mengambil cara yang sepertinya anti-mainstream untuk beriklan, sementara kampus lain memilih bikin baliho, sebar brosur, atau iklan konvensional?

Zakir: Film ini sebenarnya adalah cara baru FTI UMI soft campaign.

Makanya dalam 3 tahun terakhir, kami tak pernah lagi cetak brosur.

Kalau campaign pakai cara-cara konvensional, saya tidak puas.

Makanya, kita harus cari lompatan baru.

Ketemulah dengan (Rere Art2tonic) teman saya, saudara saya.

Selama ini dia dikenal sebagai sutradara film layar lebar.

Lalu, saya turunkan grade-nya jadi sutradara film pendek.

Sebenarnya ini iklan.

Saya mau melalui film ini, citra kampus di Makassar baik, kampus di Makassar itu asyik, kampus di Makassar itu nyaman, kampus di Makassar itu menghargai kreativitas, sehingga orang menjadikan Makassar itu kota tujuan pendidikan.

Ruang-ruang di kampus itu bisa digunakan untuk berkreativitas, walaupun sebenarnya kita memilih keinsyinyuran, keteknikan untuk tujuan pendidikan, tapi di situ juga ada ruang-ruang kreatif yang bisa kita bangun.(*)

Sumber: Tribun Timur
Halaman 4/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

Update Jadwal & Skor
Grup G - Matchday 1
Selasa, 16 Juni 2026 | 02:00 WIB
Belgium
Belgia
VS
Egypt
Mesir
Grup H - Matchday 1
Selasa, 16 Juni 2026 | 05:00 WIB
Saudi Arabia
Arab Saudi
VS
Uruguay
Uruguay
Grup G - Matchday 1
Selasa, 16 Juni 2026 | 08:00 WIB
Iran
Iran
VS
New Zealand
Selandia Baru
Lihat Selengkapnya
Semua Jadwal Laga
Memuat video…
© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved