Harga Kopra Turun, Petani Kelapa di Selayar Terancam Tak Bisa Sekolahkan Anak
Ia khawatir, jika harga kopra masih seperti ini maka akan ada lagi generasi penerus yang berhenti kuliah.
Penulis: Nurwahidah | Editor: Imam Wahyudi
TRIBUNSELAYAR.COM, BENTENG - Petani kelapa di Selayar mengeluhkan menurunnya harga penjualan kopra.
Berdampak pada anak tidak bisa melanjutkan pendidikan dan ada mahasiswa terpaksa mengambil cuti kuliah .
Kejadian ini terjadi di Desa Garaupa Raya, Kecamatan Pasilambena, Selayar.
Sebelumnya harga kopra masih sekitar Rp 6 ribu/kg dan turun mencapai Rp 3.800 sampai 4 ribu/kg.
Salah satu anak petani kopra, Sudarmin, sangat prihatin adanya kondisi seperti ini.
"Saya sangat prihatin. Apalagi ada mahasiswa yang ambil cuti karena tidak cukup biaya,"katanya kepada Tribunselayar.com, Selasa (12/3/2019).
Ia khawatir, jika harga kopra masih seperti ini maka akan ada lagi generasi penerus yang berhenti kuliah.
Menurutnya, warga di Desa Garaupa Raya, hanya mengharap dari hasil penjualan kopra.
"Memang ada penghasilan lain seperti jambu tapi itu panen hanya sekali setahun," tuturnya.
Biasanya, lanjutnya, sekali jual kopra dua sampai lima ton.
Tapi setelah harga kopra turun kini ayahnya kini tidak urus lagi kelapanya dan dibiarkan saja jatuh.
"Dibiarkan saja jatuh, jika sudah terkumpul baru dipungut, karena kalau mau diurus maka akan setengah mati, belum lagi panggil orang, itupun ada biaya panjat kelapa,"katanya.
Sudarmin menaruh harapan pada pemerintah.
"Semoga ada perhatian pemerintah bagaiamana caranya supaya menstabilkan hara kopra. Minimal kembali menjadi Rp 6.5 perkilo," tuturnya.
Sekedar diketahui bahwa salah satu kontrak politk Bupati Selayar H Muh Basli dan wakil Bupati Zainuddin adalah, menyangga harga komoditas andalan seperti kopra, pala, cangkeh, jambu mete dan lain-lain
Laporan Wartawan TribunSelayar.com, Nurwahidah, IG: @ nur_wahidah_saleh
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/petani-kopra-di-de.jpg)