Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Tribun Wiki

TRIBUNWIKI: Sejarah Lahirnya Universitas di Dunia dan di Indonesia

Pada tahun 1902 di Batavia didirikan School tot Opleiding van Inlandsche Artsen (School Tot Opleiding van Inlandsche Artsen)

Tayang:
Penulis: Desi Triana Aswan | Editor: Ina Maharani
handover
Kampus Universitas Bosowa (Unibos) 

TRIBUN-TIMUR.COM, MAKASSAR- Universitas adalah jenjang tertinggi dalam pendidikan. Baik S1, S2, maupun S3.

Sejak kapan universitas ini ada di dunia?

Dilansir dari wikipedia, menurut Ensiklopedia Britannica, nenek moyang universitas berada di Asia dan Afrika.  Sudah ada lebih dahulu daripada universitas-universitas abad Pertengahan di Eropa.

Beberapa orang menganggap Universitas Al Quaraouiyine yang didirikan di Maroko oleh Fatima al Fihri pada tahun 859 adalah universitas pemberi gelar paling tua di dunia.

Ada beberapa kesamaan antara universitas-universitas awal yang didirikan di daerah sekitar Laut Mediterania dengan madrasah dalam Islam.

Perbedaannya, madrasah biasanya lebih kecil dan yang memberikan gelar biasanya adalah guru-guru dalam madrasah itu sendiri dan bukan madrasahnya.

Sejarawan-sejarawan seperti Arnold H. Green dan Hossein Nasr berargumen bahwa pada awal abad ke-10, ada beberapa madrasah Islam yang berubah menjadi universitas.

Namun, sejarawan lain seperti George Makdisi, Toby Huff dan Norman Daniel berpendapat bahwa universitas gaya Eropa tidak memiliki kesamaan dengan apa pun yang berada dalam dunia Islam Abad Pertengahan.

Ada ilmuwan lain yang berpendapat bahwa konsep universitas memang asli berasal dari Eropa, baik dalam sejarah, maupun dalam karakteristik.

Darleen Pryds mempertanyakan hal ini dan menunjukkan bahwa berbagai madrasah dan universitas Eropa di daerah Laut Mediterania memiliki karakteristik yang mirip, yaitu sama-sama mendapatkan pendanaan dari kaum bangsawan dan diciptakan untuk menyuplai birokrat-birokrat lokal yang setia pada agenda pemerintahan.

Ada juga ilmuwan-ilmuwan, termasuk Makdisi, yang berargumen bahwa universitas-universitas Abad Pertengahan awal terpengaruh dengan madrasah-madrasah di Al-Andalus, di Keamiran Sisilia, serta madrasah-madrasah di Timur Tengah pada saat Perang Salib.

Namun, Norman Daniel mengatakan bahwa klaim ini berlebihan.

Roy Lowe serta Yoshihito Yasuhara juga belakangan ini menggunakan dokumen-dokumen yang menunjukkan pengaruh pembelajaran dunia Islam pada universitas-universitas di Eropa Barat, agar para sejarawan dapat mempertimbangkan kembali pengembangan pendidikan tinggi, antara lain dengan cara menjauhkan pandangan mereka dari struktur pendidikan tinggi lokal ke konteks yang lebih global.

Universitas pada umumnya dianggap sebagai sebuah institusi formal yang berasal dari tradisi Kristen Abad Pertengahan.

Selama berabad-abad, pendidikan tinggi di Eropa berasal dari sekolah katedral atau sekolah pendeta (bahasa Latin: scholae monasticae) yang diajarkan oleh pendeta dan zuster.

Bukti atas hal ini tersedia di berbagai tempat, hingga abad ke-6.

Universitas-universitas yang paling awal dikembangkan di bawah sayap Gereja Latin dengan bulla kepausan, sebagai studia generalia dan mungkin dari sekolah katedral.

Tentunya mungkin sekali bahwa sangat sedikit sekolah katedral yang berkembang menjadi universitas, kecuali satu, yaitu Universitas Paris.

Universitas juga kemudian didirikan oleh raja-raja (misalnya Universitas Napoli Federico II, Universitas Charles di Praha, Universitas Jagiellonia) atau pemerintahan munisipal (misalnya Universitas Koln atau Universitas Erfurt).

Pada awal Abad Pertengahan, kebanyakan universitas baru dikembangkan dari sekolah yang sudah ada, biasanya ketika sekolah-sekolah tersebut sudah dianggap menjadi tempat pendidikan tinggi.

Banyak sejarawan yang berpendapat bahwa universitas dan sekolah katedral adalah kelanjutan dari minat para pendeta terhadap pendidikan yang dikembangkan melalui biara.

Paus Gregorius VII memegang peranan penting dalam mempromosikan dan meregulasikan konsep universitas modern melalui Dekrit Kepausan Tahun 1079 yang menentukan pendirian sekolah katedral yang kemudian berubah menjadi universitas-universitas pertama di Eropa.

Universitas-universitas pertama di Eropa yang bentuknya berasal dari struktur korporat/persatuan pekerja adalah Universitas Bologna (1088), Universitas Paris (sekitar tahun 1150, kemudian disamakan dengan Sorbonne), serta Universitas Oxford (1167).

Universitas Bologna pada awalnya adalah sebuah sekolah hukum yang mengajarkan ius gentium atau Hukum Romawi, yang pada waktu itu dibutuhkan orang Eropa untuk membantu membela hak-hak negara-negara yang baru muncul di hadapan Gereja. Universitas Bologna memiliki klaim spesial atas Alma Mater Studiorum, yang berdasar pada otonominya, haknya untuk memberikan gelar, dan struktur-struktur lain.

Dengan demikian dapat dianggap bahwa universitas itu adalah universitas tertua yang masih berdiri, yang tidak terkait secara langsung dengan raja, kaisar, atau otoritas keagamaan lainnya.

Pertemuan para doktor di Universitas Paris. Diambil dari sebuah manuskrip Abad Pertengahan.

Irnerius pertama kali mengajarkan kodifikasi Hukum Romawi abad ke-6 oleh Kaisar Yustinianus I, pada tahun 1088 atau 1087.

Kodifikasi ini disebut Corpus Juris Civilis dan pertama kali ditemukan di Pisa.

Mahasiswa-mahasiswa baru kemudian datang ke kota itu dari berbagai tempat, untuk meminta kontrak dan mulai mempelajari dokumen itu.

Mereka mengorganisasi diri ke dalam 'Nationes', yang kemudian dibagi lagi menjadi Cismontanes dan Ultramontanes.

Para mahasiswa "memiliki segala hak dan mendominasi guru-guru mereka".

Di Eropa, anak-anak muda melanjutkan pendidikan mereka ke universitas ketika mereka sudah menyelesaikan trivium pendidikan, yaitu tata bahasa, retorika dan dialektika atau logika, serta kuadrivium: aritmatika, geometri, musik, serta astronomi.

Di seluruh Eropa, para pemimpin dan pemerintahan kota mulai mendirikan universitas untuk memenuhi keingintahuan mereka.

Mereka juga percaya bahwa masyarakat umum akan mendapatkan untung dari keahlian ilmuwan-ilmuwan yang ada dari institusi-institusi ini.

Para pangeran dan pimpinan pemerintah kota melihat keuntungan-keuntungan potensial dari keahlian ilmuwan ini berkembang seiring dengan berkembangnya kemampuan untuk menyelesaikan masalah-masalah sulit dan mencapai apa yang mereka inginkan.

Munculnya paradigma humanisme juga memegang peranan penting dalam perspektif mereka tentang kegunaan universitas ini.

Selain itu, ada pula rasa haus baru tentang pengetahuan yang muncul dari teks-teks Yunani Kuno.

Penemuan kembali karya-karya Aristoteles, yang mana lebih dari 3.000 halaman dari karya-karya tersebut kemudian akan diterjemahkan, membakar kembali semangat keingintahuan akan proses-proses alamiah.

Hal ini mulai muncul di abad ke-12. Ada ilmuwan yang percaya bahwa karya-karya ini merupakan salah satu penemuan dokumen terpenting dalam sejarah intelektual Barat.

Richard Dales, misalnya, mengatakan bahwa penemuan karya Aristoteles adalah "titik balik dalam sejarah pemikiran Barat".

Setelah kemunculan kembali Aristoteles, ada sekumpulan ilmuwan yang berkomunikasi dalam bahasa Latin yang mempercepat proses dan praktik merekonsiliasi pemikiran Yunani Kuno, terutama yang berhubungan dengan pemahaman mereka atas alam, dengan pemikiran Gereja.

Usaha-usaha skolastikisme ini kemudian berfokus pada menggunakan logika serta pemikiran Aristotelian mengenai ilmu alam pada ayat-ayat Injil, dan mencoba untuk membuktikan ayat-ayat tersebut melalui akal budi.

Hal ini kemudian menjadi misi utama para dosen dan hal yang diharapkan para mahasiswa.

Universitas di Indonesia

Awalnya rintisan perguruan tinggi perintisan ini hanya di bidang kesehatan saja.

Pada tahun 1902 di Batavia didirikan School tot Opleiding van Inlandsche Artsen (School Tot Opleiding van Inlandsche Artsen atau dikenal sebagai Sekolah Dokter Bumi Putera) kemudian NIAS (Nerderlandsch Indische Artsen School) tahun 1913 di Surabaya .

Ketika STOVIA tidak menerima murid lagi, didirikanlah sekolah tabib tinggi GHS (Geneeskundige Hooge School) pada tahun 1927. Perguruan inilah yang sebenarnya merupakan embrio kedokteran Universitas Indonesia.

STOVIA

Di Bandung tahun 1920 didirikan Technische Hooge School (THS) yang pada tahun itu juga dijadikan perguruan tinggi negeri.

THS ini adalah embrio Institut Teknologi Bandung.

Pada tahun 1922 didirikan Textil Inrichting Bandoeng (TIB) ini lah embrio Sekolah Tinggi Teknologi Tekstil Bandung.

Pada tahun 1922 kemudian berdiri sekolah hukum (Rechts School) yang kemudian ditingkatkan menjadi sekolah tinggi hukum (Recht hooge School) pada tahun 1924.

Sekolah tinggi inilah embrio Fakultas Hukum di Indonesia. Di Jakarta tahun 1940 didirikan Faculteit de Letterenen Wijsbegeste[2] yang kemudian menjadi Fakultas Sastra dan Filsafat di Indonesia.

Di Bogor didirikan sekolah tinggi pertanian (Landsbouwkundige Faculteit) pada tahun 1941[2] yang sekarang disebut Institut Pertanian Bogor (IPB).

Pada zaman Jepang sampai awal kemerdekaan, GHS ditutup dan atas inisiatif pemerintahan militer, GHS dan NIAS dijadikan satu dan diberikan nama Ika Dai Gakko (Sekolah Tinggi Kedokteran).

Dua hari setelah proklamasi, tanggal 19 Agustus 1945, pemerintah Indonesia mendirikan Balai Pergoeroean Tinggi RI yang memiliki Pergoeroean Tinggi Kedokteran.

Sekolah tinggi ini dibuka secara resmi pada tanggal 1 Oktober 1945.

Pada masa perjuangan revolusi fisik melawan Belanda (1946-1949) Pergoeroean Tinggi Kedokteran mengungsi ke Jawa Tengah dan Jawa Timur, (Klaten dan Malang).

Sementara itu pemerintah RI di Yogyakarta bekerja sama dengan Yayasan Balai Perguruan Tinggi Gajah Mada pada tanggal 19 Desember 1949 mendirikan Universitas Gadjah Mada.

Pada awalnya hanya ada 2 Fakultas, yaitu Hukum dan Kesusasteraan yang bertempat di pagelaran dan baru kemudian berangsur-angsur pindah ke kampus Bulak Sumur.

Pada zaman pendudukan, di Batavia pihak Belanda mengusahakan dibukanya kembali GHS.

Maka bukan hal yang aneh ketika penyerahan kedaulatan, tahun 1949 timbul gagasan untuk menjunjung tinggi ilmu pengetahuan tanpa membedakan warna kulit dan asal keturunan.

Kedua lembaga pendidikan bekas Belanda dan bekas Republik dijadikan satu menjadi Universiteit Indonesia, Fakulteit Kedokteran, tanggal 2 Februari 1950, yang saat ini dikenal dengan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI)

Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta yang berdiri tanggal 8 Juli 1945 merupakan perguruan tinggi swasta pertama dan tertua di Indonesia.

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved