Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

VIDEO: Menikmati Tuak Campur Pejje' Ladang di Kampung Tuak Wajo

"Tuak campur pejje' ladang rasanya mantap, seger," kata Firman usai menenggak campuran tuak dengan pejje' ladang, Minggu (3/3/2019).

Penulis: Hardiansyah Abdi Gunawan | Editor: Hasrul

TRIBUN-WAJO.COM, PAMMANA - Di kampung tuak di Kabupaten Wajo, minum tuak tak sekadar menenggaknya. Ada cara unik menikmati sari enau tersebut.

Adalah dicampur pejje' ladang. Pejje' ladang adalah hasil ulekan halus cabai dan garam.

Masyarakat meyakini, rasa tuak yang dicampur pejje' ladang sungguh nikmat. Rasanya, sudah bisa dibayangkan. Manis tuak bercampur asin garam dan pedis cabai.

Baca: Warga Lere Resah, Buaya Sungai Palu Sering Masuk ke Pemukiman

Baca: Prioritaskan AFC Cup, PSM Makassar Isyaratkan Mainkan Pemain Pelapis di Piala Presiden 2019

"Tuak campur pejje' ladang rasanya mantap, seger," kata Firman usai menenggak campuran tuak dengan pejje' ladang, Minggu (3/3/2019).

Kedai-kedai penjula tuak sangat mudah ditemui di Jl Poros Bone - Soppeng - Wajo. Nyaris sepanjang jalan. Tepatnya di Dusun Palaguna, Desa Wage, Kecamatan Pammana, Kabupaten Wajo. Sekitar 5 km arah selatan dari pusat ibu kota Kabupaten Wajo, Sengkang.

Baca: Rangkuman Pertandingan Piala Presiden 2019, Bhayangkara Taklukkan Semen Padang

Belum ada rasa yang tepat menggambarkan cita rasa tersebut. Kadang, bila tak beruntung, tuak yang tanpa pengawet tersebut sudah sedikit kecut.

Tak afdal rasanya minum tuak tanpa kudapan. Selain dikenal sebagai kampung tuak, Desa Palaguna juga dikenal sebagai tempat kuliner Sokko Cipi'.

Baca: TRIBUNWIKI: Ini Profil dan Jejak Karir Mikha Tambayong, Berduka Ditinggal Ibu

Sokko Cipi' adalah ketan yang dibungkus daun pisang dan dibentuk layaknya topi kerucut, lalu dijepit dengan potongan bambu, lalu dibakar. Serupa gogos,tapi bukan.

Tersebab ketan tersebut dijepit, hingga namanya Sokko Cipi'. Jepit dalam Bahasa Bugis adalah cipi'.

Atau bisa juga minum tuak sambil makan telur itik rebus. Nyaris semua kedai menyediakan dua kudapan tersebut, termasuk di kedai tuak milik I Mare (45).

Baca: Komunitas Bikers Panrannuangku Takalar Salurkan Bantuan Kemanusiaan

"Jual tuak ini sudah turun temurun, di mulai dari orang tua," kata I Mare.

Sokko Cipi'nya dibuat sendiri, sedang untuk tuaknya disuplai oleh para petani sekitar. Tak banyak petani yang membukai kedai tuak. Mereka lebih memilih menyuplai saja.

Harga tuaknya pun terjangkau. Rp 15.000 untuk ukuran botol 1,5 liter. Sedang, Sokko Cipi'nya seharga Rp 2.500.

Anda ngiler? Silakan ke kampung tuak! (TribunWajo.com)

Laporan wartawan Tribun Timur, @dari_senja

 Jangan Lupa Subscribe Channel Youtube Tribun Timur :

Jangan Lupa Follow akun Instagram Tribun Timur:

Sumber: Tribun Timur
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved