Pemerhati Budaya Toraja Kecam Video Tarian 6 Pemuda Lecehkan Aksesoris 'Kandaure'
Pemerhati Budaya Toraja geram akan munculnya video tarian enam orang laki-laki yang melecehkan aksessoris budaya Toraja.
Penulis: Risnawati M | Editor: Suryana Anas
TRIBUNTORAJA.COM, RANTEPAO - Pemerhati Budaya Toraja geram akan munculnya video tarian enam orang laki-laki yang melecehkan aksessoris budaya Toraja.
Video berdurasi 59 detik tersebut tersebar di media sosial (Medsos) yang membuat netizen warga Toraja bertanya-tanya asal Video berjudul 'Eran de Langi' dibuat koreo Wahyu Lahang.
"Sebagai pemerhati budaya Toraja, kami sangat mengecam karena memperlakukan kandaure seperti itu, kandaure tidak asal dipakai apalagi digunakan laki-laki," ujar salah satu pemerhati, Belo Tarran kepada TribunToraja.com, Rabu (19/2/2019).
Baca: Gerhana Bulan & Supermoon Malam ini: Cerita Gerhana Bulan di Zaman Rasulullah dan Anjuran Ibadah
Baca: Fenomena Supermoon, Air Laut Akan Naik di Pesisir Makassar
Baca: Polres Maros Intai Penyalur Bansos, Jika Salah Sasaran Pelaku Dapat Ganjaran
Kandaure adalah hiasan dari manik-manik Toraja, biasa digunakan bersama baju pokko (pakaian adat Toraja untuk wanita) yang berguna menghiasi dada, gelang, ikat kepala, dan ikat pinggang.
Hiasan mahal dan berat tersebut pada upacara adat pemakaman (Rambu Solo) dan pernikahan serta tarian. Namun, tidak hanya sebagai hiasan tapi memiliki kekuatan melakukan sesuatu, seperti mendatangkan hujan.
Kandaure dipercaya orang Toraja jaman dulu mendatangkan berkat bagi pemiliknya tapi dapat juga mendatangkan malapetaka.
Disebut video berjudul 'Eran de Langi' tarian diperagakan enam pria menggunakan Kandaure akan ditayangkan di Festival Barru tanggal 21 Februari 2019 mendatang.
"Kami diskusikan bersama pemerhati budaya Toraja, meminta panitia festival Barru tidak mengizinkan menampilkan atraksi atau tarian mengangkat kisah Eran de Langi karena ini soal pelecehan budaya Toraja," jelas Belo.
Alasan Belo mengatakan hal itu karena ada nilai Budaya Toraja yang labrak dengan penggunaan aksessoris Toraja yang digunakan bukan pada tempatnya.
"Bagi masyarakat Toraja, Kandaure itu memiliki nilai dan pesan tersendiri, jadi tidak asal di pakai saja, apalagi diletakkan diatas kepala manusia, laki-laki lagi," ungkapnya.
Lanjut Belo, terkecuali jika mereka meninggalkan aksessoris itu, boleh menampilkan tarian atau atraksi.
Belum diketahui pasti darimana asal sanggar penari Iyongdong art group yang ada dibalik video tersebut.
Laporan Wartawan TribunToraja.com, @cinnank17
Jangan Lupa Subscribe Channel Youtube Tribun Timur:
Follow juga akun instagram tribun-timur.com:
(*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/video-enam-penari-iyongdong-art-group-dinilai-lecehkan-aksesoris-budaya-toraja.jpg)