Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

877 Kapal Kunjungi Pelabuhan Perikanan Nusantara Untia Selama 2018

Mannojengi menjelaskan, pada periode Januari-Desember 2018, ada 877 kapal yang berkunjung yang didominasi kapal dengan GT 20-30.

Penulis: Fahrizal Syam | Editor: Hasrul
TRIBUN TIMUR/SANOVRA JR
Kondisi Pelabuhan Perikanan Nusantara (PPN) Untia yang terkam dari udara di Kecamatan Biringkanaya, Makassar, Senin (18/2). Pasca diresmikan Presiden Jokowi akhir 2016 lalu, aktivitas perikanan mulai berlangsung di pelabuhan ini nempak beberapa kapal mulai bersandar. 

TRIBUN-TIMUR.COM, MAKASSAR - Setelah diresmikan langsung oleh Presiden Joko Widodo akhir 2016 lalu, perlahan Pelabuhan Perikanan Nusantara (PPN) Untia, di Kecamatan Biringkanaya mulai menunjukkan daya tarik bagi pelaku industri perikanan.

Meski belum sepenuhnya ramai dengan kegiatan-kegiatan kelautan dan perikanan, namun pengelola PPN Untia mengklaim telah banyak program yang dilaksanakan di pelabuhan yang menelan anggaran pembangunan lebih dari Rp 200 miliar ini.

Baca: Usai Singkirkan Chelsea, Manchester United Ketemu Lawan Berat Lagi di Perempatfinal, City Lawan?

Baca: Bawa Sabu, Warga Jl Cakalang Diciduk Tim Respon Sabhara Pelabuhan Makassar

Penanggung Jawab PPN Untia Andi Mannojengi menepis tudingan bahwa PPN Untia layaknya "pelabuhan hantu" karena sepinya aktivitas.

Mannojengi mengatakan, sepanjang 2018 lalu saja setidaknya lebih dari 800 kapal mulai dari 5-30 GT yang mampir ke PPN Untia.

Baca: Emas Antam di Makassar Rp 683 Per Gram, Naik Rp 2 Ribu Hari Ini

"Kalau mau bandingkan dengan Pelabuhan Rakyat Paotere jelas beda, di sana memang ramai, tapi kan kelasnya beda. Paotere itu kelas Pangkalan Pendaratan Ikan atau Tempat Pemasaran Ikan, yah memang di sana jualan, kalau di sini, kita juga mendata dan mengeluarkan izin kapal perikanan," kata Mannojengi saat ditemui di ruang kerjanya, Senin (18/2).

Mannojengi menjelaskan, pada periode Januari-Desember 2018, ada 877 kapal yang berkunjung yang didominasi kapal dengan GT 20-30.

Kapal-kapal tersebut memproduksi hingga 2.300-an ton ikan.

Baca: Kemenpan RB Kumpulkan Gubernur dan Bupati Wilayah Timur Indonesia di Makassar

"Jadi sebenarnya pemahaman orang yang harus diluruskan, bahwa pelabuhan perikanan harus seperti Pelabuhan Paotere yang ramai jualan, wah tidak begitu. Di sini juga ada sebenarnya aktivitas seperti di Paotere, tapi lebih dari itu, banyak program lain yang dilakukan di sini," jelasnya.

Lanjut Mannojengi, pada 2018 lalu, PPN Untia juga telah bekerja sama dengan sejumlah perusahaan perikanan, salah satunya PT Perikanan Nusantara.

Dalam kerja sama itu, PPN Untia mampu melakukan produksi perdana ikan seberat 30 Ton.

Baca: Deretan Smartphone Terbaru di Februari 2019, Kabarnya akan Dipamerkan di Mobile World Congress

"Produksi perdananya itu November 2017, dengan jenis ikan Tongkol seberat 30 ton, sejumlah Rp450 juta. Tapi itu tidak berlanjut selama enam bulan karena alasan inefisiensi operasional genset," ungkapnya.

"Kita juga sudah kerja sama dengan PT PLN dalam program Stasiun Pengisian Listrik Umum, sehingga kapal dapat beroperasi kembali dan produksi hingga 120 Ton," sambung dia.(*)

Laporan Wartawan Tribun Timur @Fahrizal_syam

Jangan Lupa Subscribe Channel Youtube Tribun Timur :

Follow juga akun instagram tribun-timur.com:

Sumber: Tribun Timur
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved