Usaha Prasmanan Bangkrut, Shinta Bawole Bangkit Jualan Bubur Manado di Makassar
Shinta Bawole perempuan kelahiran Manado, 2 Oktober 1989 ini awalnya berada di Makassar tahun 2005.
Penulis: Munjiyah Dirga Ghazali | Editor: Munawwarah Ahmad
Laporan Wartawan Tribun Timur, Munjiyah Dirga Ghazali
TRIBUN-TIMUR.COM, MAKASSAR- Shinta Bawole perempuan kelahiran Manado, 2 Oktober 1989 ini awalnya berada di Makassar tahun 2005.
Di Makassar dia bekerja di butik hingga tahun 2010 dan menikah dengan Eko Siswanto tahun 2011.
Bosan bekerja di butik Shinta kemudian memulai usaha kecil-kecilan dengan membuka usaha prasmanan.
Dia memulai usaha nasi prasmanan kecil-kecilan tepatnya di depan Kantor Tribun Timur, Jl Cendrawasih Sambung Jawa, Kecamatan Mamajang, Kota Makassar, Sulsel.
Belum cukup sebulan berjualan nasi prasmanan, usahanya merugi, terlebih lagi Shinta dikhianati teman seperjuangannya hingga bangkrut.
Shinta kemudian bangkit, meski batinnya kecewa tetapi dia bertekad ingin berjualan lagi tetapi dengan cara berbeda.
Bukan prasmanan, melainkan membuka warung tetap.
Dia kemudian mulai mencari-cari menu baru lewat google, hingga akhirnya memutuskan untuk mendirikan warung makan modal dari suaminya Eko.
"Saya bangkit, mulai usaha kembali dengan belajar dari google. Saya yang bikin dan coba sendiri hingga bumbunya pas lalu berjualan di tempat keluarga di Cendrawasih," kata Shinta ketika ditemui Tribun Timur di warungnya, Jl Cendrawasih Makassar, Jumat (8/2/2019).
Berbagai menu disajikan di warungnya seperti nasi, mie dan ayam goreng serta jenis gorengan lainnya.
Shinta lalu memulai menu baru berjualan bubur manado di Makassar.
Menu bubur manado baru dijualnya selama tiga bulan.
Resep bubur manado bukan dari keluarganya, melainkan keseringannya makan bersama teman-teman di Manado.
"Resep bubur manadonya ada dari google dan ada juga inspirasi dari teman-teman saya. Semuanya murni dari belajar dan tidak takut mencoba. Kan ini juga makanan khas orang Manado jadi sebagai orang Manado saya ingin melestarikan warisan budaya," ungkapnya.
Bermodalkan Rp 100 ribu dia menghasilkan 20 porsi bubur manado tiap hari dengan harga Rp 10 ribu dan laku terjual.
Kepada TribunPangkep.com, dia mengaku berjualan bubur manado di Makassar haruslah pas dengan lidah orang Makassar.
Mulai dari racikan, bumbu dan bahan sayurannya.
"Kalau bubur manado asli itu ada sayur gedi yang sangat baik untuk kesehatan tulang dan wanita yang sudah melahirkan. Selain sayur gedi, kangkung, bayam dan labu kuning juga wajib ada. Itu bubur manado original dan saya bersyukur orang Makassar suka," jelasnya.
Cara memasaknyapun harus beda dan tidak dicampur ke dalam satu tempat.
"Jadi dipisah, dimasak dulu buburnya sama labu, terus sayurannya diturunkan hingga matang," katanya.
Soal sambal dari bubur manado ini ada ikan khas yakni ikan roa khas manado atau biasa disebut dabu-dabu roa.
Dia juga sengaja menyimpan dapur tempat olahan makanannya di depan, agar pelanggan melihat langsung pembuatan makanan yang dipesan.
Perempuan yang menamatkan pendidikan SD, SMP dan SMA nya di Manado ini sebenarnya bercita-cita menjadi dokter, namun karena terkendala biaya harapannya pupus.
Penyuka coto makassar dan kue puding tiramisu ini tinggal di Ranotanaweru Lingkungan 10 Kampung Jawa, Manado.
Dia mengaku merantau di Makassar dan sudah ber-KTP orang Makassar.
Perempuan yang suka masak ini juga hoby traveling bersama suami dan teman-temannya.
Penyuka gaya busana yang santai dengan gaun dress ini suka dengan merk celana Logo, baju merk Three Second dan sepatu merk Pieter Cesa.
Instagram shinta_bawole dan facebook sinta bawole.
Baca: Pipa Induk Utama Pecah, Suplai Air PDAM Makassar Kawasan Manggala-Rappocini Terganggu
Baca: Pendaftaran PPPK 2019 di Link sscasn.bkn.go.id, Syarat & Formasi, Eks Tenaga Honorer Perhatikan Ini
Baca: Dirut PT Bosowa Marga Nusantara: Berita Tribun Timur Hot dan Tren di Masyarakat
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/pemilik-warung-makan-bubur-manado-di-makassar.jpg)