Kepala BPBD Maros Dilengserkan, ini Alasannya

Rahmat digeser menjadi Kepala Kesbangpol Maros. Sementara Ferdiansyah menjadi Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Maros.

Penulis: Ansar | Editor: Nurul Adha Islamiah
Ansar/Tribunmaros.com
Rahmat Bustar saat menjabat sebagai Kepala BPBD Maros, duduk memantau penyaluran bantuan ke korban banjir di gedung Serbaguna, beberapa waktu lalu. 

Laporan Wartawan Tribun Timur, Ansar Lempe

TRIBUN TIMUR.COM, MAROS - Kepala Badan Penanggulanan Bencana Daerah atau BPBD Maros, Rahmat Bustar dilengserkan dari jabatannya oleh Bupati Maros, Hatta Rahman.

Rahmat meninggalkan BPBD, lantaran dinilai kurang maksimal menangani bencana banjir yang telah melanda Maros. Meski bantuan masih mengalir ke Maros, namun Rahmat terkesan santai-santai saja.

Bupati Maros, Hatta Rahman mengatakan, Jumat (1/2/2019) hal tersebut dilakukan kepada pimpinan BPBD setelah adanya sejumlah keluhan warga, yang menilai Rahmat tidak tanggap darurat bencana.

Baca: Kronologi Terungkapnya Perselingkuhan Veronica Tan, Fifi Lety Sebut Semua Berawal dari Sepatu Basah

Baca: Baru Menjabat di Maros, Kabag Ops Diperintahkan Lakukan ini

Baca: Jatuh ke Jurang Mamasa, Mobil Dinas DPRD Sulbar Rusak Parah, Begini Kondisinya

Bahkan saat bencana banjir melanda, eks Plt Kadis Sosial, Ferdiansyah justru sibuk mengangkut bantuan di posko induk Serbaguna. Sementara, Rahmat hanya duduk main ponsel.

Rahmat digeser menjadi Kepala Kesbangpol Maros. Sementara Ferdiansyah menjadi Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Maros.

"Jabatan Kepala BPBD kosong untuk sementara. Kami harap, Kepala BPBD nantinya, bisa berkerjasama dengan semua pihak, termasuk Provinsi," kata Hatta.

Untuk mengisi jabatan Kepala BPBD, Hatta Rahman akan melakukan lelang jabatan. Setiap peserta harus berkompensi dan dinilai mampu memimpin instansi tersebut.

Selain warga, kinerja Rahmat Bustar juga dikeluhkan oleh Pemerintah Provinsi. Provinsi kewalahan jika akan berkomunikasi dengan BPBP Maros.

Saat Rahmat menjabat di BPBD, para relawan yang ikut mengevakuasi korban banjir juga kewalahan. Pasalnya, relawan bergerak tanpa ada petunjuk atau koordinasi dari pimpinan.

Padahal seharusnya, BPBD menjadi terdepan melakukan evakuasi korban. Data korban bencana banjir juga dinilai tidak akurat. Keberadaan posko banjir, juga tidak jelas.

"Banjir di Maros saat itu, termasuk paling cepat airnya surut. Memang pembuangan air di Maros cukup bagus, hanya saja debit air yang terlalu besar," katanya.

Baca: Pemkab Bantaeng Dorong Gerakan Pemuda Melawan Hoaks

Baca: Dinkes Bantaeng Catat, Ada 10 Kasus DBD Selama Januari 2019

Subscribe untuk Lebih dekat dengan tribun-timur.com di Youtube:

Baca: Satu Rumah Ludes Terbakar di Baraka Enrekang

Baca: Benarkah Mantan Manajer Almarhum Olga Syahputra Kini Jatuh Miskin dan Reaksi Mak Vera

Baca: Wajo Diprediksi Tak Diguyur Hujan Hari Ini, Waspada Angin Kencang

Baca: Istri Tua & Istri Muda Bersamaan Jemput Suami di Kantor Ini Terjadi Kemudian Setelah Saling Gigit

Baca: Pelajar Berbonceng Empat Tabrak Truk di Mengkendek Tana Toraja, 1 Meninggal Dunia

Baca: Jumlah Kasus Demam Berdarah di Wajo; RSUD Lamaddukelleng 58 Pasisen, RSUD Siwa 1 Pasien

  • Berita Populer
    Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved